Analisis Kasus Crimea dari
Perspektif Realis[1]
Paper ini untuk memenuhi tugas
Teori HI-1
Latar Belakang
Hubungan tegang telah terjadi antara Rusia dan Ukraina sejak
semenanjung Crimea secara resmi menjadi bagian dari Ukraina pasca keruntuhan
Uni Soviet pada tahun 1991. Kemudian, parlemen majelis tinggi Rusia menyetujui
penggunaan kekuatan militer di Crimea, dan menuntut pasukan Ukraina di wilayah
tersebut untuk menyerah. Hal inilah membuat kedua negara semakin bersih tegang.
Rusia :
Sesuai dengan perspektif realis yang menolak anggapan Harmony of Interest, konflik
yang terjadi ini merupakan yang paling buruk sejak Perang dingin berakhir 20
tahun yang lalu dengan runtuhnya Uni Soviet.
Dari segi geopolitik : Crimea
merupakan wilayah pembatas
antara Rusia dan wilayah bagian barat seperi uni Eropa. Jika
Crimea bukan termasuk wilayah
Rusia akan menjadi ancaman
tersendiri bagi Rusia. Pasalnya
terdapat jalur pipa gas yang terhubung dari
Rusia untuk perdagangan
ke uni Eropa.
Selain itu, terdapat laut
hitam dekat Crimea yang sangat strategis bagi pelayaran Rusia.
Secara
faktapun mendukung rusia
bahwa sebenarnya kehadiran
angktan laut Rusia
di Crimea sudah ada sejak tahun
1783 ketika pelabuhannya
didirikan oleh Pangeran
Grigory. Lalu, Pada tahun
1997, di tengah reruntuhan Uni Soviet, Rusia & Ukraina menandatangani
Perjanjian Partisi menentukan nasib pangkalan militer dan kapal di Crimea.
Kesepakatan yang memicu pembelotan secara luas perwira ke Rusia itu telah
disahkan oleh parlemen Rusia & Ukraina pada tahun 1999. Rusia menerima 81,7
persen dari kapal armada setelah membayar pada pemerintah Ukraina sejumlah US$
526.5 juta dollar. Kesepakatan itu
memungkinkan Armada Laut Hitam Rusia untuk tetap tinggal di Crimea sampai tahun
2017. Perjanjian ini sudah diperpanjang lagi 25 tahun hingga tahun 2042 dengan
opsi perpanjangan 5 tahun pada tahun 2010[2].
Rusia memilih untuk terisolasi dari Uni Eropa
dan AS. Rusia tetap bersikap kukuh untuk melakukan aneksasi Crimea. Perundingan
dan pertemuan pun dilakukan untuk membahas hal tersebut. Tetapi, semua
pertemuan tersebut berujung pada jalan buntu suatu negosiasi.
Perjuangan untuk mencari kekuasaan yang inheren dalam karakter manusia terlihat
disini, Rusia adalah negara kapitalis dan salah satu negara adikuasa di dunia
saat ini. Dunia kapitalisme tidak memiliki moto untuk saling menolong dan berbagi,
namun lebih kepada persaingan sengit menyerupai hukum rimba, siapa yang kuat
dia bertahan.
Crimea
: Semenjak jatuhnya presiden Ukraina, Viktor Yanukovych, penduduk Crimea yang
terhubung dengan Rusia menginginkan adanya pemungutan suara untuk menentukan
apakah Crimea tetap bagian dari Ukraina atau bergabung dengan Rusia. Kemudian
hasilnya adalah kebanyakan dari penduduk Crimea memutuskan untuk bergabung
dengan Rusia. Rusia lalu mengakui Crimea sebagai bagian dari wilayahnya
berdasarkan keputusan Dewan Federasi atau Majelis Tinggi Parlemen Rusia untuk
menerima perjanjian dengan Crimea[3].
Realis saja bahwa
warga Crimea pro
Rusia hal itu
dikarenakan 60 persen populasi Crimea adalah etnis Rusia dan
apabila Crimea masuk ke negara
Rusia maka hutang
Crimea terhadap Rusia
dihapuskan. Sekarang saja Rusia
telah memberikan bantuan ke Crimea.
Oleh karena itu tidak aneh
jika referendum di crimea memenangkan
Rusia sebagai negaranya.
Ukraina : Ukraina mencatat kerugian hingga US$85 miliar
akibat kehilangan Semenanjung Crimea di Laut Hitam yang diawali oleh invasi
Rusia ke kawasan itu. Sementara itu banyak
pengulas lokal memperkirakan cadangan gas di beting Laut Hitam lebih dari 165
miliar m3 dan deposit minyak berjumlah 44 sampai 47 juta ton[4].
Oleh sebab itu, wajar saja bahwa Ukraina tetap mempertahankan Crimea
sebagai wilayah kekuasaanya.
Pembahasan
1. Analisis Kasus dilihat dari Perspektif Realisme Klasik
1. Analisis Kasus dilihat dari Perspektif Realisme Klasik
Kekuasaan & National Interest:
Perebuta wilayah ini jelas diperjuangkan antar
dua belah negara untuk kepentingan negaranya
masing-masing. Rusia milsalnya,
sampai sekarang rusia selalu berusaha
menguasai wilayah Crimea dan
sekitarnya yang tentunya akan
sangat membantu bagi
kemajuan Rusia apalagi
terdapat jalur pipa gas
dan pelabuhan. Jika Crimea
bergabung dengan Rusia, yang paling pertama bermanfaat bagi Rusia adalah Armada
Laut Hitam Rusia akan semakin kuat, yang berdampak pada pertahanan dan keamanan
Rusia itu sendiri. Eropa Timur sampai sekarang tidak bisa bebas gerak, sebagai
negara mereka dbawah bayang-bayang Russia,
hal itu benar bahwa negara yang memiliki power dan
kekuasaanlah yang bisa menguasai suatu peradaban. Politik dan Ekonminya
tergantung persetujuan Russia.
2.
Analisis Kasus Dilihat dari Perspektif Realisme Strategis
Sistem
yang Anarki, Self Help Principle & Survival :
Seperti telah
diketahui, Rusia memiliki beberapa kepentingan yang menguntungkan negaranya di
Semenanjung Crimea. Kepentingan ini berpengaruh terhadap keadaan ekonomi maupun
militer. Rusia tidak menggantungkan keadaan militernya kepada kerja sama,
tetapi bergantung kepada kemampuan negaranya sendiri untuk membangun kekuatan
yang dapat dikatakan cukup kuat untuk mengintimidasi negara-negara yang
berbatasan dengan Rusia. Kekuatan ini penting dalam mempertahankan keberadaan
Rusia di dunia internasional.
Rusia
pun tidak bisa mengukur secara pasti kekuatan dan kepentingan pihak atau negara
lain sehingga ia perlu memperkuat diri dalam menghadapi ancaman masa depan.
Banyak aset Rusia di Crimea yang sangat vital bagi kekuatan ekonomi maupun
militernya. Rusia merasa perlu untuk menguasai secara utuh aset tersebut
sekaligus untuk mengamankannya. Jika Crimea masih di bawah otonomi Ukraina,
Rusia tidak dapat memaksimalkan penggunaan aset tersebut untuk survival negara.
Namun, jika Rusia bisa menguasai Crimea, Rusia akan lebih mudah dan bebas
mengambil langkah yang diperlukan untuk mewujudkan kepentingannya.
Tidak
adanya otoritas yang lebih tinggi daripada sebuah negara di dunia internasional
membuat Rusia semakin berani mengambil langkah untuk mempertahankan kepentingannya
terhadap Semenanjung Crimea. Mulailah ‘invasi’ Rusia secara kontinu untuk
menanamkan kekuatannya secara perlahan sehingga pada akhirnya Rusia bisa
menguasai Crimea seutuhnya. Puncaknya adalah aneksasi Semenanjung Crimea. Jika
Rusia ingin untung, dalam hal ini mempunyai kekuatan yang besar dalam survival
negaranya, maka memang harus ada pihak yang rugi dalam prosesnya.
Dilemma Keamanan :
Usaha untuk
mengamankan diri itulah yang
menyebabkan security dilemma baik Rusia
maupun Ukraina.
Defensive Realism :
Dalam
pemikiran yang dikemukakan oleh Stephen M. Waltz, di dunia yang anarkis negara
merespon ancaman salah satunya dengan meningkatkan kekuatan dan keamanan.
Defensive Realism mengasumsikan bahwa negara selalu meningkatkan kapabilitas
sebagai respon terhadap peningkatan kapabilitas negara lain. Defensive Realism
juga berpendapat ahwa security dilemma harus dihindari.
Rusia
merupakan salah satu negara great power jika dilihat dari kapabilitas
militernya yang tinggi. Crimea menjadi sangat penting bagi Rusia karena Crimea
secara strategis penting sebagai lokasi pangkalan Angkatan Laut Rusia. Armada
Laut Hitam berpangkalan di semenanjung Crimea sejak didirikan oleh Pangeran
Potemkin pada tahun 1783. Posisi strategis armada Rusia di sana sangat berperan
ketika mengalahkan Georgia dalam perang Ossetia Selatan pada tahun 2008, dan
tetap penting untuk kepentingan keamanan Rusia di wilayah tersebut. Tindakan
Rusia yang berpacu pada defensive realism yaitu dimana Rusia mencoba
meningkatkan kekuatan salah satunya meningkatkan kapabilitas militernya dengan mengirimkan
pasukan militer di wilayah Crimea-Ukraina, berpusat di sekitar pangkalan Armada
Laut Hitam di pelabuhan Sevastopol. Dan kekuatan itu sekarang telah menyebar di
Crimea dan secara de facto menguasai wilayah tersebut.
Dilihat dari jumlah
militer, Tentara reguler Ukraina
hanya berjumlah 65.000 personel, dibandingkan dengan hampir 300.000 pasukan
yang dikerahkan Russia di distrik militer barat dan selatan yang perbatasan
Ukraina. Rusia juga sudah mengirimkan pasukan militer di wilayah
Crimea-Ukraina, berpusat di sekitar pangkalan Armada Laut Hitam di pelabuhan
Sevastopol. Kekuatan ini sekarang telah menyebar di Crimea dan secara de facto
menguasai wilayah tersebut[5].
Ofensive Realism :
Pada
kasus perbutan wilayah
di dunia yang
penuh ketidakpastian ini,baik
Rusia maupun Amerika Serikat tidak pernah
tau niat selanjutnya satu sama lain. Hal
yang bisa diketahui hanya
kapabilitas masing-masing. Jumlah
tentara yang dikirim
Rusia terhitung 300.000
dan Ukraina 65.000. Tapi baik Rusia
maupun Ukraina tidak ada yang tahu apakah lawannya
memiliki cadangan militer
tambahan yang akan dimunculkan. Belum
lagi bahwa Rusia
merupakan negara besar
yang memiliki persenjataan
militer yang tinggi. Hal tersebut
tentu merupakan suatu ancaman
bagi Ukraina. Selain itu,
Ukraina yang beraliansi dengan
AS & Uni Eropa
tentunya juga menjadi ancaman
bagi Rusia untuk selalu meningkatkan kapabilitasnya yang hingga
sekarang telah tersebar
luas di Ukraina Timur.
Relative Gain dan Balance
Of Power :
Pada sistem yang anarki, Negara tidak dapat mengandalkan negara
lain untuk bertahan
hidup namun negara harus dapat menggantungkan pada diri sendiri (Self Help Principle). Pada
kasus ini, karena Ukraina sadar bahwa Rusia bukanlah
tandingannya, maka Ukraina sangat pasti ingin mengharapkan kekuatan yang mampu
menghadapi Rusia yang dalam hal ini adalah Uni eropa dan Amerika utara (AS dan
Kanada) yang semuanya tergabung dalam NATO.
Sedangkan As yang merupakan
saingan Rusia merasa
sangat tersaingi jika
Rusia dapat mengusai Crimea
karena pelabuhan dan sumber daya alam Crimea yang
telah dijelaskan diatas.
Dilihat dari jumlah militer,
tentulah Rusia memiliki jumlah yang
besar. Tentara reguler Ukraina
hanya berjumlah 65.000 personel, dibandingkan dengan hampir 300.000 pasukan
yang dikerahkan Russia di distrik militer barat dan selatan yang perbatasan
Ukraina. Rusia juga sudah mengirimkan pasukan militer di wilayah
Crimea-Ukraina, berpusat di sekitar pangkalan Armada Laut Hitam di pelabuhan
Sevastopol. Kekuatan ini sekarang telah menyebar di Crimea dan secara de facto
menguasai wilayah tersebut[6].
Menyikapi hal itu, Ukraina tentu saja tidak tinggal diam, untuk membela diri dan mempertahankan wilayah kedaulatannya
Ukraina beralansi dengan Uni
Eropa dan AS.
Intervensi
AS untuk membela bahwa Crimea adalah milik Ukraina bukan atas dasar pertolongan
sosial semata. Amerika merupakan negara
yang ingin menciptakan sebagai satu –satunya negara Super Power tentu tak ingin
tersaingi, dan memberi jalan untuk menciptakan kembali Uni Soviet jilid 2.
Dahulu sebelum runtuh (akibat campur tangan Amerika) Uni Soviet merupakan satu
– satunya Negara Uni yang dianggap mampu menjadi ancaman terbesar bagi Amerika.
Amerika dengan status Negara Super Power dan
sekutunya sering kali menerapkan kebijakan yang mengatas namakan PBB menerapkan
kebijakan semaunya. Ironisnya rata rata yang ditangani Amerika dan sekutunya
mengarah pada perpecahan negara yang ditangani, terkesan melanggar kedaulatan
negara yang dicampuri, berbeda dengan Rusia, Rusia hanya bermasalah dengan
wilayah yang mempunyai historis dengan Rusia. Jika Rusia menjadi Negara Adidaya
setara dengan Amerika, setidaknya itu akan menjadi Balance / Penyeimbang bagi
Amerika di dunia Internasional. Dengan
demikian, Amerika tidak lagi
seenaknya menentukan kebijakan dengan bersembunyi dibalik kekuatan PBB.
Realisme Strategis
:
DAFTAR PUSTAKA
Jakarta Gear.2014. Krisis Ukraina-Rusia. Diakses melalui JakartaGear.com/Krisis
Ukraina - Russia » JakartaGreater.htm
Rusia VS Amerika
dalam Konflik Ukraina.2014. Diakses melalui http://politik.kompasiana.com/2014/03/28/antara-rusia-vs-amerika-dalam-konflik-ukraina-644808.html
Rustam
Agus.2014. Krisis Ukraina Timbulkan Kerugian. Diakses melalui http://m.bisnis.com/quick-news/read/20140515/19/227965/krisis-ukraina-pencaplokan-crimea-timbulkan-kerugian-us85-miliar-
[1] Disusun oleh Annisa
Ridhatul, Anis Bamarty, Bariq Al
Adhim, Fadhilah
Hamami,Kurnia Islami,
iis,luluk,ale
[2]Jakarta Gear.2014. Krisis Ukraina-Rusia. Diakses melalui JakartaGear.com/Krisis
Ukraina - Russia » JakartaGreater.htm
[3] Ibid
[4] Rustam Agus.2014.
Krisis Ukraina Timbulkan Kerugian.
Diakses melalui http://m.bisnis.com/quick-news/read/20140515/19/227965/krisis-ukraina-pencaplokan-crimea-timbulkan-kerugian-us85-miliar-
[5] Op.Cit.,Jakarta
Gear.2014. Krisis Ukraina-Rusia.
Diakses melalui JakartaGear.com/Krisis Ukraina - Russia » JakartaGreater.htm
[6]Rusia
VS Amerika dalam Konflik Ukraina.2014.
Diakses melalui http://politik.kompasiana.com/2014/03/28/antara-rusia-vs-amerika-dalam-konflik-ukraina-644808.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar