Rabu, 11 Februari 2015

Analisis Kasus Crimea dari Perspektif Realis

Analisis  Kasus Crimea dari Perspektif Realis[1]
Paper ini untuk memenuhi tugas Teori  HI-1

Latar Belakang
                Hubungan tegang telah  terjadi antara Rusia dan Ukraina sejak semenanjung Crimea secara resmi menjadi bagian dari Ukraina pasca keruntuhan Uni Soviet pada tahun 1991. Kemudian, parlemen majelis tinggi Rusia menyetujui penggunaan kekuatan militer di Crimea, dan menuntut pasukan Ukraina di wilayah tersebut untuk menyerah. Hal  inilah  membuat kedua negara  semakin bersih  tegang.            
              Rusia : Sesuai dengan perspektif realis yang menolak anggapan Harmony of Interest, konflik yang terjadi ini merupakan yang paling buruk sejak Perang dingin berakhir 20 tahun yang lalu dengan runtuhnya Uni Soviet.  Dari segi geopolitik :  Crimea merupakan  wilayah  pembatas  antara Rusia dan  wilayah  bagian barat seperi uni  Eropa. Jika  Crimea bukan  termasuk  wilayah  Rusia akan  menjadi  ancaman  tersendiri  bagi Rusia.  Pasalnya  terdapat jalur pipa  gas  yang terhubung  dari  Rusia  untuk  perdagangan  ke  uni  Eropa.  Selain itu,  terdapat  laut  hitam  dekat  Crimea yang sangat  strategis bagi  pelayaran Rusia. 
  Secara  faktapun mendukung rusia  bahwa  sebenarnya  kehadiran  angktan  laut  Rusia  di Crimea  sudah ada sejak  tahun  1783 ketika  pelabuhannya didirikan   oleh  Pangeran  Grigory. Lalu,  Pada tahun 1997, di tengah reruntuhan Uni Soviet, Rusia & Ukraina menandatangani Perjanjian Partisi menentukan nasib pangkalan militer dan kapal di Crimea. Kesepakatan yang memicu pembelotan secara luas perwira ke Rusia itu telah disahkan oleh parlemen Rusia & Ukraina pada tahun 1999. Rusia menerima 81,7 persen dari kapal armada setelah membayar pada pemerintah Ukraina sejumlah US$ 526.5 juta dollar.  Kesepakatan itu memungkinkan Armada Laut Hitam Rusia untuk tetap tinggal di Crimea sampai tahun 2017. Perjanjian ini sudah diperpanjang lagi 25 tahun hingga tahun 2042 dengan opsi perpanjangan 5 tahun pada tahun 2010[2].
  Rusia memilih untuk terisolasi dari Uni Eropa dan AS. Rusia tetap bersikap kukuh untuk melakukan aneksasi Crimea. Perundingan dan pertemuan pun dilakukan untuk membahas hal tersebut. Tetapi, semua pertemuan tersebut berujung pada jalan buntu suatu negosiasi. Perjuangan untuk mencari kekuasaan yang inheren dalam karakter manusia terlihat disini, Rusia adalah negara kapitalis dan salah satu negara adikuasa di dunia saat ini. Dunia kapitalisme tidak memiliki moto untuk saling menolong dan berbagi, namun lebih kepada persaingan sengit menyerupai hukum rimba, siapa yang kuat dia bertahan.
             Crimea : Semenjak jatuhnya presiden Ukraina, Viktor Yanukovych, penduduk Crimea yang terhubung dengan Rusia menginginkan adanya pemungutan suara untuk menentukan apakah Crimea tetap bagian dari Ukraina atau bergabung dengan Rusia. Kemudian hasilnya adalah kebanyakan dari penduduk Crimea memutuskan untuk bergabung dengan Rusia. Rusia lalu mengakui Crimea sebagai bagian dari wilayahnya berdasarkan keputusan Dewan Federasi atau Majelis Tinggi Parlemen Rusia untuk menerima perjanjian dengan Crimea[3]. Realis  saja  bahwa  warga  Crimea  pro  Rusia  hal  itu  dikarenakan 60 persen populasi Crimea adalah etnis Rusia  dan  apabila  Crimea masuk  ke negara  Rusia  maka  hutang  Crimea  terhadap  Rusia  dihapuskan.   Sekarang saja Rusia telah memberikan  bantuan  ke Crimea.   Oleh  karena itu tidak  aneh  jika referendum  di crimea  memenangkan  Rusia  sebagai  negaranya.
              Ukraina  :  Ukraina mencatat kerugian hingga US$85 miliar akibat kehilangan Semenanjung Crimea di Laut Hitam yang diawali oleh invasi Rusia ke kawasan itu.   Sementara  itu  banyak pengulas lokal memperkirakan cadangan gas di beting Laut Hitam lebih dari 165 miliar m3 dan deposit minyak berjumlah 44 sampai 47 juta ton[4]. Oleh sebab  itu,  wajar saja bahwa Ukraina  tetap mempertahankan  Crimea  sebagai  wilayah  kekuasaanya.

Pembahasan
1.   Analisis  Kasus dilihat dari  Perspektif  Realisme  Klasik
      Kekuasaan & National Interest:  
  Perebuta wilayah ini jelas diperjuangkan  antar  dua  belah negara  untuk kepentingan  negaranya  masing-masing.   Rusia milsalnya, sampai  sekarang  rusia  selalu  berusaha  menguasai  wilayah  Crimea dan  sekitarnya  yang tentunya  akan  sangat membantu  bagi kemajuan  Rusia  apalagi  terdapat  jalur pipa  gas  dan  pelabuhan. Jika Crimea bergabung dengan Rusia, yang paling pertama bermanfaat bagi Rusia adalah Armada Laut Hitam Rusia akan semakin kuat, yang berdampak pada pertahanan dan keamanan Rusia itu sendiri. Eropa Timur sampai sekarang tidak bisa bebas gerak, sebagai negara mereka dbawah bayang-bayang Russia,  hal itu  benar  bahwa negara yang memiliki power dan kekuasaanlah yang bisa menguasai suatu  peradaban. Politik dan Ekonminya tergantung persetujuan Russia.

2.  Analisis Kasus Dilihat dari Perspektif Realisme Strategis
     Sistem yang Anarki, Self Help Principle & Survival :
     Seperti telah diketahui, Rusia memiliki beberapa kepentingan yang menguntungkan negaranya di Semenanjung Crimea. Kepentingan ini berpengaruh terhadap keadaan ekonomi maupun militer. Rusia tidak menggantungkan keadaan militernya kepada kerja sama, tetapi bergantung kepada kemampuan negaranya sendiri untuk membangun kekuatan yang dapat dikatakan cukup kuat untuk mengintimidasi negara-negara yang berbatasan dengan Rusia. Kekuatan ini penting dalam mempertahankan keberadaan Rusia di dunia internasional.
Rusia pun tidak bisa mengukur secara pasti kekuatan dan kepentingan pihak atau negara lain sehingga ia perlu memperkuat diri dalam menghadapi ancaman masa depan. Banyak aset Rusia di Crimea yang sangat vital bagi kekuatan ekonomi maupun militernya. Rusia merasa perlu untuk menguasai secara utuh aset tersebut sekaligus untuk mengamankannya. Jika Crimea masih di bawah otonomi Ukraina, Rusia tidak dapat memaksimalkan penggunaan aset tersebut untuk survival negara. Namun, jika Rusia bisa menguasai Crimea, Rusia akan lebih mudah dan bebas mengambil langkah yang diperlukan untuk mewujudkan kepentingannya. 
Tidak adanya otoritas yang lebih tinggi daripada sebuah negara di dunia internasional membuat Rusia semakin berani mengambil langkah untuk mempertahankan kepentingannya terhadap Semenanjung Crimea. Mulailah ‘invasi’ Rusia secara kontinu untuk menanamkan kekuatannya secara perlahan sehingga pada akhirnya Rusia bisa menguasai Crimea seutuhnya. Puncaknya adalah aneksasi Semenanjung Crimea. Jika Rusia ingin untung, dalam hal ini mempunyai kekuatan yang besar dalam survival negaranya, maka memang harus ada pihak yang rugi dalam prosesnya.
           Dilemma Keamanan :
  Usaha untuk  mengamankan diri  itulah  yang  menyebabkan  security dilemma  baik Rusia  maupun  Ukraina.
Defensive Realism :
Dalam pemikiran yang dikemukakan oleh Stephen M. Waltz, di dunia yang anarkis negara merespon ancaman salah satunya dengan meningkatkan kekuatan dan keamanan. Defensive Realism mengasumsikan bahwa negara selalu meningkatkan kapabilitas sebagai respon terhadap peningkatan kapabilitas negara lain. Defensive Realism juga berpendapat ahwa security dilemma harus dihindari.
Rusia merupakan salah satu negara great power jika dilihat dari kapabilitas militernya yang tinggi. Crimea menjadi sangat penting bagi Rusia karena Crimea secara strategis penting sebagai lokasi pangkalan Angkatan Laut Rusia. Armada Laut Hitam berpangkalan di semenanjung Crimea sejak didirikan oleh Pangeran Potemkin pada tahun 1783. Posisi strategis armada Rusia di sana sangat berperan ketika mengalahkan Georgia dalam perang Ossetia Selatan pada tahun 2008, dan tetap penting untuk kepentingan keamanan Rusia di wilayah tersebut. Tindakan Rusia yang berpacu pada defensive realism yaitu dimana Rusia mencoba meningkatkan kekuatan salah satunya meningkatkan kapabilitas militernya dengan mengirimkan pasukan militer di wilayah Crimea-Ukraina, berpusat di sekitar pangkalan Armada Laut Hitam di pelabuhan Sevastopol. Dan kekuatan itu sekarang telah menyebar di Crimea dan secara de facto menguasai wilayah tersebut.
              Dilihat dari jumlah  militer,  Tentara reguler Ukraina hanya berjumlah 65.000 personel, dibandingkan dengan hampir 300.000 pasukan yang dikerahkan Russia di distrik militer barat dan selatan yang perbatasan Ukraina. Rusia juga sudah mengirimkan pasukan militer di wilayah Crimea-Ukraina, berpusat di sekitar pangkalan Armada Laut Hitam di pelabuhan Sevastopol. Kekuatan ini sekarang telah menyebar di Crimea dan secara de facto menguasai wilayah tersebut[5].
             Ofensive Realism :
              Pada kasus  perbutan  wilayah  di  dunia  yang  penuh  ketidakpastian  ini,baik  Rusia  maupun Amerika Serikat  tidak pernah  tau  niat  selanjutnya satu sama lain.  Hal  yang bisa  diketahui  hanya  kapabilitas  masing-masing.   Jumlah  tentara  yang  dikirim  Rusia  terhitung  300.000  dan Ukraina 65.000.   Tapi  baik Rusia  maupun  Ukraina  tidak ada yang tahu apakah  lawannya  memiliki cadangan  militer tambahan yang akan  dimunculkan.   Belum  lagi  bahwa  Rusia  merupakan  negara  besar  yang  memiliki persenjataan militer yang  tinggi.   Hal tersebut  tentu  merupakan  suatu ancaman  bagi Ukraina.   Selain  itu,  Ukraina  yang beraliansi  dengan  AS  & Uni  Eropa  tentunya juga  menjadi ancaman bagi Rusia untuk  selalu  meningkatkan kapabilitasnya yang hingga sekarang  telah  tersebar  luas di Ukraina  Timur.
             
   Relative Gain dan  Balance  Of  Power  :
   Pada sistem yang anarki,  Negara tidak dapat mengandalkan negara lain  untuk  bertahan  hidup namun negara harus dapat menggantungkan  pada diri sendiri (Self Help Principle).  Pada  kasus  ini,  karena Ukraina sadar bahwa Rusia bukanlah tandingannya, maka Ukraina sangat pasti ingin mengharapkan kekuatan yang mampu menghadapi Rusia yang dalam hal ini adalah Uni eropa dan Amerika utara (AS dan Kanada) yang semuanya tergabung dalam NATO.  Sedangkan  As yang  merupakan  saingan  Rusia  merasa  sangat  tersaingi  jika  Rusia dapat  mengusai Crimea karena pelabuhan  dan  sumber daya alam  Crimea yang  telah dijelaskan  diatas.
   Dilihat dari jumlah  militer,  tentulah  Rusia memiliki  jumlah yang  besar.  Tentara reguler Ukraina hanya berjumlah 65.000 personel, dibandingkan dengan hampir 300.000 pasukan yang dikerahkan Russia di distrik militer barat dan selatan yang perbatasan Ukraina. Rusia juga sudah mengirimkan pasukan militer di wilayah Crimea-Ukraina, berpusat di sekitar pangkalan Armada Laut Hitam di pelabuhan Sevastopol. Kekuatan ini sekarang telah menyebar di Crimea dan secara de facto menguasai wilayah tersebut[6]. Menyikapi hal itu, Ukraina tentu saja tidak tinggal diam, untuk  membela diri dan  mempertahankan wilayah  kedaulatannya  Ukraina  beralansi dengan Uni Eropa  dan  AS.  
Intervensi AS untuk membela bahwa Crimea adalah milik Ukraina bukan atas dasar pertolongan sosial semata.  Amerika merupakan negara yang ingin menciptakan sebagai satu –satunya negara Super Power tentu tak ingin tersaingi, dan memberi jalan untuk menciptakan kembali Uni Soviet jilid 2. Dahulu sebelum runtuh (akibat campur tangan Amerika) Uni Soviet merupakan satu – satunya Negara Uni yang dianggap mampu menjadi ancaman terbesar bagi Amerika. 
  Amerika dengan status Negara Super Power dan sekutunya sering kali menerapkan kebijakan yang mengatas namakan PBB menerapkan kebijakan semaunya. Ironisnya rata rata yang ditangani Amerika dan sekutunya mengarah pada perpecahan negara yang ditangani, terkesan melanggar kedaulatan negara yang dicampuri, berbeda dengan Rusia, Rusia hanya bermasalah dengan wilayah yang mempunyai historis dengan Rusia.  Jika Rusia menjadi Negara Adidaya setara dengan Amerika, setidaknya itu akan menjadi Balance / Penyeimbang bagi Amerika di dunia Internasional. Dengan  demikian,  Amerika tidak lagi seenaknya menentukan kebijakan dengan bersembunyi dibalik kekuatan PBB.
   
Realisme  Strategis  :

































DAFTAR PUSTAKA
Jakarta Gear.2014. Krisis Ukraina-Rusia. Diakses  melalui JakartaGear.com/Krisis Ukraina - Russia » JakartaGreater.htm
Rusia VS Amerika dalam Konflik Ukraina.2014.  Diakses melalui http://politik.kompasiana.com/2014/03/28/antara-rusia-vs-amerika-dalam-konflik-ukraina-644808.html
Rustam Agus.2014.  Krisis Ukraina Timbulkan Kerugian.  Diakses melalui http://m.bisnis.com/quick-news/read/20140515/19/227965/krisis-ukraina-pencaplokan-crimea-timbulkan-kerugian-us85-miliar-



[1] Disusun  oleh Annisa  Ridhatul, Anis Bamarty, Bariq Al  Adhim, Fadhilah  Hamami,Kurnia  Islami, iis,luluk,ale
[2]Jakarta Gear.2014. Krisis Ukraina-Rusia. Diakses  melalui JakartaGear.com/Krisis Ukraina - Russia » JakartaGreater.htm
[3] Ibid
[4] Rustam Agus.2014.  Krisis Ukraina Timbulkan Kerugian.  Diakses melalui http://m.bisnis.com/quick-news/read/20140515/19/227965/krisis-ukraina-pencaplokan-crimea-timbulkan-kerugian-us85-miliar-
[5] Op.Cit.,Jakarta Gear.2014. Krisis Ukraina-Rusia. Diakses  melalui JakartaGear.com/Krisis Ukraina - Russia » JakartaGreater.htm

[6]Rusia VS Amerika dalam Konflik Ukraina.2014.  Diakses melalui http://politik.kompasiana.com/2014/03/28/antara-rusia-vs-amerika-dalam-konflik-ukraina-644808.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar