Rabu, 11 Februari 2015

Strategi Memperkuat Ketahanan Ekonomi Nasional dalam Mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia

Strategi Memperkuat Ketahanan Ekonomi Nasional dalam Mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia


















Oleh Kelompok III
                                    1.  Annisa Ridhatul K             5.  Jessica Manurung
                                    2. Achmad Eko W                  6.  Muslim Raden P
                                     3. Dony Arisandi                    7.  Sabila Izazi
                                    4.  Andhika Priyandanu             8.  Ziqri Rahman
                                   
                                    Pembahas :   1. Anastasia Karina D.A
  2.  Zara Amanda Mutia

 Dosen Pembimbing  :  Drs. Hardowiyono M.Si


UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
FAKULTAS ILMU SOSIAL & ILMU POLITIK
ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL
MALANG
2014


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
              
                Setiap bangsa dalam mencapai tujuannya senantiasa akan menghadapi berbagai tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan darimanapun datangnya, baik dari luar maupun dari dalam. Sehingga, bangsa tersebut memerlukan keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan untuk  mengembangkan kekuatan nasional yang disebut Ketahanan Nasional.
                Dalam mengembangkan dan mewujudkan ketahanan nasional, setiap bangsa memiliki cara yang berbeda-beda, sesuai falsafah, budaya dan pengalaman sejarah masing-masing. Bagi bangsa Indonesia, ketahanan nasional dibangun diatas dasar falsafah bangsa dan negara Indonesia yaitu Pancasila, selain itu ketahanan nasional juga dibangun sesuai norma UUD 1945, dan Wawasan Nusantara  .Oleh karena itu Ketahanan Nasional perlu terus ditingkatkan, dipupuk dan dibina secara terus menerus berdasarkan Wawasan Nusantara melalui pelaksanaan Pembangunan Nasional dalam segenap aspek dan dimensi kehidupan (asta gatra), baik yang bersifat statis yaitu trigatra (Geografi,Demografi, Sumber Kekayaan Alam), maupun yang bersifat dinamis yaitu pancagatra (Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial Budaya, dan Hankam).[1].
               Ditinjau dari segi geopolitik dan geostrategi dengan posisi geografis, sumber daya alam dan jumlah serta kemampuan penduduk telah menempatkan Indonesia menjadi ajang persaingan kepentingan dan perebutan pengaruh antar negara besar. Hal ini secara langsung maupun tidak langsung memberikan dampak positif maupun dampak negatif terhadap segenap aspek kehidupan sehingga dapat mempengaruhi kelangsungan hidup dan eksistensi NKRI terutama dibidang ekonominya.  Karena perekonomian adalah salah satu aspek kehidupan nasional yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan bagi masyarakat, meliputi produksi, distribusi serta konsumsi barang dan jasa. Usaha-usaha untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat secara individu maupun kelompok serta cara-cara yang dilakukan dalam kehidupan bermasyarakat untuk memenuhi kebutuhan[2].
              Pascakemerdekaan, Presiden Soekarno menunjuk Perdana Menteri Djuanda Kertawijaya untuk mendeklarasikan Indonesia berasaskan negara kepulauan (Archipelagic State). Deklarasi yang kemudian dikenal dengan Deklarasi Djuanda itu baru diakui dunia internasional pada 1982 dalam konvensi hukum laut PBB ke-III United Nations Conventions on the Law of the Sea (Unclos) yang kemudian dilanjutkan dengan meratifikasi Konvensi PBB tentang Hukum Laut dengan Undang-undang No. 17/1985.  Melalui serangkaian perjuangan panjang, kini luas laut Indonesia mencapai 5,8 juta kilometer persegi yang terdiri dari laut teritorial 3,1 juta meter persegi dan perairan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) 2,7 kilometer. Jumlah pulau yang berjajar  dari Sabang-Marauke mencapai 18.110 pulau dengan garis pantai sepanjang 95,181 kilometer yang merupakan terpanjang keempat. Jika bicara modal menjadi kekuatan poros maritim dunia, Indonesia tentu punya[3].
   Posisi geografis yang strategis dan  kepulauan yang diapit oleh Samudera Pasifik dan Samudera Hindia dan berada diantara Benua Asia dan Benua Australia menjadi alasan yang mendasar bagi terwujudnya Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia yang diwacanakan Presiden Jokowidodo.  Apalagi negara ini memiliki empat titik strategis yang dilalui 40% kapal-kapal perdagangan dunia, yaitu Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Lombok, dan Selat Makassar yang bisa memberikan peluang besar untuk memfasilitasi Indonesia menjadi pusat industri perdagangan serta pelayaran maritim dunia.
               Namun, cita-cita bangsa tersebut  tidak akan terwujud dengan baik tanpa disokong dengan ketahanan nasional yang mendukung terutama ketahanan ekonomi yang berperan besar dalam menyumbangkan pendanaan dan pencapaian kesejahteraan masyarakat indonesia dalam pembangunan poros maritim.
               Oleh karena itu, penulis menyimpulkan bahwa bangsa Indonesia harus memiliki keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan khususnya mengembangkan ketahanan ekonomi nasional  yang  dapat  mengatasi setiap bentuk tantangan dan hambatan yang dapat mengganggu terciptanya cita-cita “Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia”.  Sehingga, kita akan memahami bagaimana strategi bangsa Indonesia mulai dari pemerintah, perusahaan-perusahaan dan masyarakat  dalam memperkuat ketahanan ekonomi nasional untuk mewujudkan cita-cita bangsa yaitu “Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia”.
             
1.2  Tujuan Penulisan
1.    Menjelaskan definisi dan aspek-aspek yang berkaitan dengan ketahanan nasional.
2.    Menjelaskan  ketahanan ekonomi nasional.
3.     Menjelaskan  ketahanan ekonomi Indonesia saat ini.
4.    Menjelaskan wacana Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia.
5.    Menjelaskan hubungannya antara ketahanan ekonomi dengan wacana Indonesia sebagai poros maritim dunia.
6.    Menjelaskan hambatan-hambatan  ekonomi dalam mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia.
7.    Menjelaskan strategi dalam memperkuat ketahanan ekonomi nasional dalam mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia.

1.3  Kegunaan Penulisan
1.     Kegunaan Teoritis
Penelitian ini memberikan sumbangan ilmu pengetahuan khususnya bagi mahasiswa FISIP Universitas Brawijaya  dalam mendalami pengetahuan mengenai ketahan nasional terutama ketahanan ekonomi nasional.  Selain itu, penelitian ini juga bermanfaat dalam khasanah kajian keilmuan Pendidikan Kewarganegaraan itu sendiri. 
2.    Kegunaan Praktis
Penelitian ini memfokuskan pada strategi-strategi apa saja yang harus dilakukan untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional dalam mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia. Sehingga diharapkan pihak-pihak yang berkepentingan dapat mengamalkan isi pembahasan makalah ini dengan memberikan kontribusi untuk memperkuat  ketahanan ekonomi nasional dalam mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia.

1.4  Metode Penulisan
            Metode Penulisan yang digunakan oleh penulis yaitu metode kepustakaan atau dengan studi literatur.             Sehingga, teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengumpulan data dengan cara mengumpulkan berita-berita, literature,buku, jurnal,  karya ilmiah dan ditambah referensi-referensi dari situs internet yangbersifat resmi.












BAB II
RUMUSAN MASALAH

              Berdasarkan uraian  latar belakang dan tujuan penulisan pada BAB I, dapat diambil suatu perumusan masalah yaitu :
1.      Apa itu ketahanan nasional ?.
2.       Apa itu ketahanan ekonomi nasional?.
3.       Bagaimana ketahanan ekonomi Indonesia saat ini?.
4.       Bagaimana wacana Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia?.
5.       Apa hubungannya antara ketahanan  ekonomi  nasional dengan wacana Indonesia sebagai poros maritim dunia?.
6.       Apa saja hambatan-hambatan ekonomi dalam mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia ?.
7.       Bagaimana strategi dalam memperkuat ketahanan ekonomi nasional dalam mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia?.





























BAB III
PEMBAHASAN

3.1   Ketahanan Nasional[4]
    1.  Definisi Ketahanan Nasional
               Ketahanan nasional adalah kondisi dinamika, yaitu suatu bangsa yang berisi keuletan dan ketangguhan yang mampu mengembangkan ketahanan, Kekuatan nasional dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan, hambatan dan ancaman baik yang datang dari dalam maupun dari luar. Juga secara langsung ataupun tidak langsung yang dapat membahayakan integritas, identitas serta kelangsungan hidup bangsa dan negara
    2. Kedudukan Ketahanan Nasional
               Ketahanan nasional merupakan suatu ajaran yang diyakini kebenarannya oleh seluruh bangsa Indonesia serta merupakan cara terbaik yang perlu di implementasikan  secara berlanjut dalam rangka membina kondisi kehidupan nasional yang ingin diwujudkan, Wawasan  nusantara dan ketahanan nasional berkedudukan sebagai landasan konseptual, yang didasari oleh Pancasil sebagai landasan ideal dan UUD sebagai landasan konstisional dalam paradigma pembangunan nasional.
    3.  Asas ketahanan nasional
              Asas Ketahanan Nasional adalah tata laku yang didasari nilai-nilai yang tersusun berlandaskan Pancasil, UUD 1945 dan Wawasan Nusantara. Asas-asas tersebut adalah sebagai berikut:
a)       Asas kesejahtraan dan keamanan
               Asas ini merupakan kebutuhan yang sangat mendasar dan wajib dipenuhi bagi individu maupun masyarakat atau kelompok. Didalam kehidupan nasional berbangsa dan bernegara, unsur kesejahteraan dan keamanan ini biasanya menjadi tolak ukur bagi mantap/tidaknya ketahanan nasional.
b)        Asas komprehensif/menyeluruh terpadu
              Artinya, ketahanan nasional mencakup seluruh aspek kehidupan. Aspek-aspek tersebut berkaitan dalam bentuk persatuan dan perpaduan secara selaras, serasi, dan seimbang.
c)       Asas kekeluargaan
              Asas ini bersikap keadilan, kebersamaan, kesamaan, gotong royong, tenggang rasa dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dalam hal hidup dengan asas kekeluargaan ini diakui adanya perbedaan, dan kenyataan real ini dikembangkan secara serasi dalam kehidupan kemitraan dan dijaga dari konflik yang bersifat merusak/destruktif.
  4.  Ciri Ketahanan Nasional
                Di dasarkan pada metode  astagrata ; seluruh aspek kehidupan nasional tercermin dalam sistematika astagarata yang terdiri atas 3 aspek alamiah (trigatra) yang meliputi geografi, kekayaan alam, dan kependudukan dan lima aspek sosial (pancagatra) yang meliputi ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan.
  5.  Sifat Ketahanan Nasional
    1.   Mandiri, artinya ketahanan nasional bersifat percaya pada kemampuan dan kekuatan sendiri dengan keuletan dan ketangguhan yang mengandung prinsip tidak mudah menyerah serta bertumpu pada identitas, integritas, dan kepribadian bangsa. Kemandirian ini merupakan prasyarat untuk menjalin kerja sama yang saling menguntungkan dalam perkembangan global.
2. Dinamis, artinya ketahanan nasional tidaklah tetap, melainkan dapat meningkat ataupun menurun bergantung pada situasi dan kondisi bangsa dan negara, serta kondisi lingkungan strategisnya. Hal ini sesuai dengan hakikat dan pengertian bahwa segala sesuatu di dunia ini senantiasa berubah.  Oleh sebab itu, upaya peningkatan ketahanan nasional harus senantiasa diorientasikan ke masa depan dan dinamikanya di arahkan untuk pencapaian kondisi kehidupan nasional yang lebih baik.
3. Manunggal, artinya ketahanan nasional memiliki sifat integratif yang diartikan terwujudnya kesatuan dan perpaduan yang seimbang, serasi, dan selaras di antara seluruh aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
4.  Wibawa, artinya ketahanan nasional sebagai hasil pandangan yang bersifat manunggal dapat mewujudkan kewibawaan nasional yang akan diperhitungkan oleh pihak lain sehingga dapat menjadi daya tangkal suatu negara. Semakin tinggi daya tangkal suatu negara, semakin besar pula kewibawaannya.
5. Konsultasi dan kerjasama, artinya ketahanan nasional Indoneisa tidak mengutamakan sikap konfrontatif dan antagonis, tidak mengandalkan kekuasaan dan kekuatan fisik semata, tetapi lebih pada sifat konsultatif dan kerja sama serta saling menghargai dengan mengandalkan pada kekuatan moral dan kepribadian bangsa.
  6.  Fungsi Ketahanan Nasional
               Ketahanan nasional dalam fungsinya sebagai doktrin dasar nasional yang perlu dipahami untuk menjamin tetap terjadinya pola pikir, pola sikap, pola tindak dan pola kerja dalam menyatukan langkah bangsa yang bersifat inter – regional (wilayah), inter – sektoral maupun multi disiplin. Konsep doktriner ini perlu supaya tidak ada cara berfikir yang terkotak-kotak (sektoral). Satu alasan adalah bahwa bila penyimpangan terjadi, maka akan timbul pemborosan waktu, tenaga dan sarana, yang bahkan berpotensi dalam cita-cita nasional. Ketahanan nasional juga berfungsi sebagai pola dasar pembangunan nasional. Pada hakikatnya merupakan arah dan pedoman dalam pelaksanaan pembangunman nasional disegala bidang dan sektor pembangunan secara terpadu, yang dilaksanakan sesuai dengan rancangan program.
7. Tujuan Ketahanan Nasional
Tujuan ketahanan nasional adalah untuk menjamin identitas, integrasi dan kelangsungan hidup bangsa dan negar serta perjuangan mencapai tujuan nasional dapat dijelaskan seperti dibawah ini
a)      Ketangguhan
          Adalah kekuatan yang menyebabkan seseorang atau sesuatu dapat bertahan, kuat menderita atau dapat menanggulangi beban yang dipikulnya.
b)       Keuletan
       Adalah usaha secara giat dengan kemampuan yang keras dalam menggunakan kemampuan tersebut diatas untuk mencapai tujuan.
c)     Identitas
      Yaitu ciri khas suatu bangsa atau negara dilihat secara keseluruhan. Negara dilihat dalam pengertian sebagai suatu organisasi masyarakat yang dibatasi oleh wilayah dengan penduduk, sejarah, pemerintahan, dan tujuan nasional serta dengan peran internasionalnya.
d)    Integritas
       Yaitu kesatuan menyeluruh dalam kehidupan nasional suatu bangsa baik unsur sosial maupun alamiah, baik bersifat potensional maupun fungsional.
e)    Ancaman
       Yang dimaksud disini adalah hal/usaha yang bersifat mengubah atau merombak kebijaksanaan dan usaha ini dilakukan secara konseptual, kriminal dan politis.
  8.  Keberhasilan Ketahanan Nasional
               Untuk mewujudkan keberhasilan ketahanan nasional diperlukan kesadaran setiap aspek warga negara Indonesia, yaitu :
1.  Memiliki semangat perjuangan bangsa dalam bentuk perjuangan non fisik yang berupa keuletan dan ketangguhan yang tidak mengenal menyerah yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional dalam rangka menghadapi segala ancaman, gangguan, tantangan dan hambatan baik yang datang dari luar maupun dari dalam, untuk menjamin identitas, integritas, kelangsungan hidup bangsa dan negara serta perjuangan mencapai tujuan nasional.
2.  Sadar dan peduli terhadap pengaruh-pengaruh yang timbul pada aspek ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan, sehingga setiap warga negara Indonesia baik secara individu maupun kelompok dapat mengeliminir pengaruh tersebut, karena bangsa Indonesia cinta damai akan tetapi lebih cinta kemerdekaan. Hal itu tercermin akan adanya kesadaran bela negara dan cinta tanah air.

3.2  Ketahanan Ekonomi Nasional  [5]
              Ketahanan ekonomi nasonal adalah ketahanan yang wujudnya  tercermin dalam kondisi kehidupan perekonomian bangsa, yang mengandung kemampuan memelihara stabilitas ekonomi yang sehat dan dinamis serta kemampuan menciptakan kemandirian ekonomi nasional dengan daya saing tinggi dan mewujudkan kemakmuran rakyat yang adil dan merata.  Dengan demikian, pembangunan ekonomi diarahkan kepada mantapnya ketahanan ekonomi melalui terciptanya iklim usaha yang sehat serta pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi, tersedianya barang dan jasa, terpeliharanya fungsi lingkungan hidup serta meningkatkan daya saing dalam lingkup persaingan global.
              Ketahana Nasional dalam bidang Ekonomi itu sendiri dapat tercermin dalam berbagai kondisi kehidupan  pereknomian bangsa yang mana dalam bangsa tersebut dapat memelihara kemandirian Ekonomi Nasional.  Dalam pencapaian tingkat ketahanan Ekonomi yang diinginkanpun banyak memerlukan pembinaan, diantaranya seperti :
1. Ekonomi kerakyatan harus menghindarkan sistem free fight liberalism, etatisme dan monopolistis.
2. Pembangunan ekonomi memotivasi serta mendorong peran serta masyarakat secara aktif.
3. Sistem ekonomi Indonesia diarahkan untuk dapat mewujudkan kemaknmuran dan kesejahtaeraan yang adil dan merata di seluruh wilayah Indonesia.
4. Pemerataan pembangunan dan pemanfaataan hasil-hasilnya senantiasa memperhatikan keseimbangan antar sektor dan antar wilayah.
5. Struktur ekonomi dimantapkan secara seimbang dan saling menguntungkan dalam keterpaduan antar sektor pertanian, industri serta jasa.
3.3  Ketahanan Ekonomi Indonesia saat ini
              Bagaimanapun, konsepsi ketahanan ekonomi nasional Indonesia adalah konsepsi pengembangan kekuatan nasional melalui pengaturan dan penyelenggaraan kesejahteraan dan keamanan yang seimbang, serasi dalam seluruh aspek kehidupan secara utuh dan menyeluruh yang berlandaskan Pancasila, UUD 45 dan Wawasan Nusantara.  Salah satunya adalah mewujudkan kesejahteraan rakyat melalui pengembangan nilai dan visi nasional demi sebesar-besarnya bagi kemakmuran yang adil dan merata antara rohani dan jasmani.
            Namun, 3 hal yang menghambat kondisi perekonomian Indonesia untuk menjadi lebih baik saat ini :
1.      Kekayaan alam terutama laut masih banyak dikuasi pihak asing. Dalam UUD 1945 pasal 33 ayat (3) disebutkan, bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk kemakmuran rakyat. Meskipun begitu tidak dapat dipungkiri juga bahwa kekayaan alam khususnya laut di Indonesia masih banyak yang dikuasai oleh pihak asing, dan tidak sedikit yang sifatnya ilegal dan mementingkan kepentingan sendiri.
2.      Banyak praktik KKN.   Sampai sejauh ini kepemimpinan nasional belum terlepas dari virus kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN), yang akhirnya banyak mengalir ke kebiasaan masyarakat Indonesia.
3.      Tingginya tingkat pengangguran yang berpengaruh pada tingkat kemiskinan.  Tingginya tingkat pengangguran  juga menimbulkan kesenjangan ekonomi antara yang kaya dan yang miskin sehingga menimbulkan krisis ekonomi yang berkelanjutan.  Selain terbatasnya sarana dan prasarana ekonomi mempengaruhi arus bahan, barang dan jasa sehingga perkembangan ekonomi menjadi terhambat, akibat pengaruh aliran neo liberalism yang secara terstruktur mempengaruhi kebijakan ekonomi di negeri ini










   3.4  Wacana Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia
       1)  Gagasan
               







                                    Gambar 1. Potret laut indonesia
             Tiga elemen poros maritime :  Pertama, poros maritim dapat dilihat sebagai sebuah visi atau cita-cita mengenai Indonesia yang ingin dibangun. Dalam konteks ini, gagasan poros maritim merupakan sebuah seruan besar untuk kembali ke jati diri Indonesia atau identitas nasional sebagai sebuah negara kepulauan, yang diharapkan akan mewujud dalam bentuk Indonesia sebagai kekuatan maritim yang bersatu (unity), sejahtera (prosperity), dan berwibawa (dignity).
               Kedua, poros maritim juga dapat dipahami sebagai sebuah doktrin, yang memberi arahan mengenai tujuan bersama (a sense of common purpose). Sebagai doktrin, Jokowi mengajak bangsa Indonesia melihat dirinya sebagai ”Poros Maritim Dunia, Kekuatan di Antara Dua Samudra”. Doktrin ini menekankan realitas geografis, geostrategis, dan geoekonomi Indonesia yang masa depannya tergantung, dan pada saat yang bersamaan ikut memengaruhi, dinamika di Samudra Hindia dan Samudra Pasifik.
              Ketiga, gagasan poros maritim tidak berhenti pada level abstraksi dan konseptualisasi. Gagasan itu menjadi operasional ketika platform Jokowi juga memuat sejumlah agenda konkret yang ingin diwujudkan dalam pemerintahannya ke depan.
  2)  Potensi Indonesia sebagai Negara Maritim
              Indonesia secara geografis merupakan sebuah negara kepulauan dengan dua pertiga luas lautan  lebih besar daripada daratan. Hal ini bisa terlihat dengan adanya garis pantai di hampir setiap pulau di Indonesia (± 81.000 km) yang menjadikan Indonesia menempati urutan kedua setelah Kanada sebagai negara yang memiliki garis pantai terpanjang di dunia. Kekuatan inilah yang merupakan potensi besar untuk memajukan perekonomian Indonesia.
  Data Food and Agriculture Organization di 2012, Indonesia pada saat ini menempati peringkat ketiga terbesar dunia dalam produksi perikanan di bawah China dan India. Selain itu, perairan Indonesia menyimpan 70 persen potensi minyak karena terdapat kurang lebih 40 cekungan minyak yang berada di perairan Indonesia. Dari angka ini hanya sekitar 10 persen yang saat ini telah dieksplor dan dimanfaatkan.
                Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia belum merasakan peran signifikan dari potensi maritim yang dimiliki yang ditandai dengan belum dikelolanya potensi maritim Indonesia secara maksimal. Dengan beragamnya potensi maritim Indonesia, antara lain industri bioteknologi kelautan, perairan dalam (deep ocean water), wisata bahari, energi kelautan, mineral laut, pelayaran, pertahanan, serta industri maritim, sebenarnya dapat memberikan kontribusi besar bagi kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Indonesia.
             










                             Gambar 2. Grafik Perkembangan Perikanan Indonesia
           
3.5 Hubungan Antara Ketahanan Ekonomi dengan Wacana Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia
    3.5.1 Pembangunan infrastruktur dan kekayaan laut indonesia dapat memperkuat Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia[6]
Poros maritim yang digagas oleh Presiden Joko Widodo harus bisa mencapai pada tahap ketahanan pangan, energi, dan pertahanan, sehingga berujung pada ketahanan ekonomi bagi Indonesia. Kepala Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Zainal Arifin, mengatakan saat ini gagasan poros maritim terkesan lebih banyak di atas permukaan laut, seperti tol laut, pelabuhan-pelabuhan, pelayaran, dan transportasi.
Karena itu, sebagai salah satu negara dengan potensi perikanan laut yang melimpah, pembangunan infrastruktur untuk memperkuat Indonesia sebagai poros maritim juga harus dikerjakan, termasuk mengembangkan teknologi pascapanen perikanan. Sebenarnya teknologi pascapanen tradisional yang dilakukan nelayan juga sudah banyak, seperti pemindangan, pengasapan, dan pengasinan. Namun, perlu juga untuk dikembangkan menjadi teknologi tepat guna. Menurut Zainal, sudah cukup banyak teknologi pascapanen yang dikembangkan. LIPI, misalnya, telah mengembangkan teknologi pengasapan dingin tanpa menggunakan api.
3.5.2 Poros Maritim dapat menjadi jalan keluar dari kebuntuan daya saing nasional[7]
Salah satu aspek paling krusial di Indonseia saat ini adalah ekonomi. Pertama, poros maritim akan membangkitkan banyak sekali sektor industri turunan, selain industri transportasi laut itu sendiri. Kedua, akan meningkatkan intensitas perdagangan antarpulau yang berpotensi meningkatkan pembangunan regional. Ketiga, meningkatkan daya saing produk ekspor kita seiring dengan membaiknya sistem logistik nasional, terutama yang berbasis maritim.
Poros maritim bisa menjadi jalan keluar dari kebuntuan daya saing nasional yang sudah mulai menimbulkan komplikasi jangka pendek. Investor mulai melihat ketidakmampuan bersaing produk kita menjadi beban akut bagi transaksi berjalan sehingga tingkat kepercayaan mereka pada masa depan perekonomian Indonesia juga mulai merosot. Akibatnya, rupiah cenderung melemah pada kisaran Rp 12.000 per dollar AS dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot pada level 5.000-an. Pada triwulan III-2014, defisit transaksi berjalan masih 6,8 miliar dollar AS atau setara 3,07 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

  3.6 Hambatan dalam Menciptakan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia dari segi Ketahanan Ekonomi[8]
Banyak tantangan yang harus dihadapi, salah satunya adalah persoalan kelembagaan, regulasi, serta pendanaan. Tantangan sekaligus peluang yang dihadapi berupa derasnya arus globalisasi serta perubahan paradigma sektor industri dunia. Sudah banyak industri yang berskala global. Dalam hal ini, contohnya adalah industri mobil. Bagian-bagian untuk membentuk satu mobil tidak diproduksi di satu negara saja, melainkan di negara-negara lain.
Hambatan lainnya, yaitu Presiden terpilih Joko Widodo berencana ingin meningkatkan anggaran belanja alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI hingga 1,5 persen dari angka produk domestik bruto (PDB) selama masa kepemimpinannya. Namun, hal itu dipandang tidak cukup apabila Jokowi ingin menjadikan Indonesia sebagai negara poros maritim dunia.
Anggaran pertahanan 1,5 persen masih jauh dari cukup untuk membentuk poros maritim, tutur pengamat militer dan pertahanan Connie Rahakundini Bakrie saat menjadi pembicara dalam diskusi bertajuk ‘Mewujudkan Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia: Dari Negara Kepulauan Menuju Negara Maritim’ di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas).

  3.7  Strategi Mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia
       3.7.1  Strategi Dasar 
1)     Kesiapan sumber daya manusia. Hal ini perlu dimulai dengan melakukan pengarusutamaan wawasan  bahari ke dalam proses pendidikan. Indonesia juga perlu menyiapkan keahlian di berbagai bidang kelautan, mulai dari yang bersifat teknis, teknologi, sampai ahli-ahli strategi dan hukum laut internasional. Pada level yang lebih strategis, bangsa Indonesia juga perlu memperkuat kesadaran lingkungan maritim (maritime domain awareness/MDA).
2)     Wawasan bahari dan MDA perlu ditopang oleh, dan dituangkan dalam, determinasi untuk melakukan penguatan infrastruktur maritim. Fokus pada pembangunan infrastruktur ini sudah tertuang dalam rencana kerja agenda pembangunan Jokowi-Jusuf Kalla.
3)    Ketiga, pembangunan maritim perlu biaya yang besar, ketersediaan teknologi yang cukup, dan waktu yang panjang. Sulit rasanya membayangkan semua itu dapat dilakukan oleh Indonesia secara mandiri.
       Karena itu, Indonesia perlu menyusun kerangka kerja sama kemitraan maritim multilateral untuk mewujudkan cita-cita dan pelaksanaan agenda pembangunan poros maritim ini. Misalnya, Indonesia dapat membentuk Indonesia Maritime Partnership Initiative (Prakarsa Kemitraan Maritim Indonesia) bersama Jepang, Tiongkok, India, Korea Selatan, dan Singapura.
             



    3.7.2  Strategi Spesifik yang menunjang Ketahanan Ekonomi
            1) Dari segi Kelembagaan
               a.  Pembuatan Komisi Kemaritiman[9]      
               Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah mengatakan DPR mewacanakan untuk memekarkan komisi-komisi yang ada, salah satunya dengan membentuk komisi maritim. Hal itu karena menurut beliau, visi maritim pemerintahan Jokowi-JK harus didukung oleh parlemen. Tak harus dengan membentuk komisi baru, bisa juga dengan memaksimalkan kemitraan dengan komisi-komisi yang ada. Dia menilai wacana soal pembentukan komisi maritim ini perlu dibahas lebih lanjut.
              b.  Pembuatan UU Kelautan dan Kerjasama antar Lembaga[10]
              Pada Sidang Paripurna DPR RI 29 September 2014 lalu, RUU Kelautan telah disahkan menjadi UU Kelautan. Hal tersebut merupakan langkah maju bangsa Indonesia sekaligus menandai dimulainya kebangkitan Indonesia sebagai bangsa bahari yang kini tengah bercita-cita menjadi Negara Maritim. UU Kelautan akan menjadi payung hukum untuk mengatur pemanfaatan laut Indonesia secara komprehensif dan terintegrasi.
              Terdapat dua jenis wacana yang muncul terkait dengan ide pembentukkan kementerian maritim, yaitu pembentukkan Kementerian Maritim sebagai salah satu Kementerian di bawah Kabinet Presiden Terpilih Jokowi, dan pembentukkan Kementerian Koordinator Maritim yang membawahi kementerian-kementerian terkait dengan hal maritim guna memfokuskan kabinet pada pembangunan Indonesia sebagai poros maritim dunia.
             Kompleksitas permasalahan serta banyaknya segi yang harus ditangani dalam  pembangunan berbasis maritim menuntut kebijakan lintas sektoral yang efektif. Saat ini pengelolaan laut Indonesia melibatkan banyak lembaga, yaitu Kementerian Pertahanan, Kementerian Perhubungan, Kementerian ESDM, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Kehutanan, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Keuangan, Kementerian Lingkungan Hidup, TNI AL, dan Polri. Dengan begitu banyak lembaga yang berkecimpung di laut sebenarnya dapat menjadi peluang maupun hambatan dalam pembangunan maritim. Menjadi peluang apabila semua stakeholder maritim bisa bersinergi dan menjadi hambatan apabila yang terjadi sebaliknya.
              Pentingnya eksistensi Kementerian Maritim ini lebih ditunjukkan pada beban-beban tugasnya di daerah pesisir. Kementerian Maritim mempunyai tugas untuk bisa mengintegrasikan persoalan-persoalan maritim serta solusinya dan menyosialisasikan kepada masyarakat di wilayah pesisir Indonesia sebagai pelaksana pertama terhadap hal-hal yang terjadi di lautan Indonesia. Secara umum, Kementerian Koordinator Bidang Maritim tidak hanya akan menangani persoalan perikanan dan sumber daya maritim, namun  dari segi ekonomi tentu saja akan menambah beban keuangan negara, mulai dari infrastruktur dan belanja rutin.
           2) Strategi Perkuat Transportasi
               Sistem transportasi laut Indonesia harus menjadi sistem yang efisien, merata, berdaya saing aman dan berkelanjutan. Iiga infrastruktur transportasi laut yang dibutuhkan untuk mewujudkan poros maritim dunia yaitu tol laut, pelabuhan, dan pelayaran rakyat (PELRA).
a)      Tol laut atau disebut juga sebagai pendulum nusantara.
  Tol laut  bertujuan untuk membuka akses pelayaran petikemas regional dengan memuat pelabuhan berskala internasional yang dapat melayani kapal-kapal niaga besar diatas 3.000 TEU atau sekelas kapal Panamax 6.000 TEU.
b)      Dari sisi pelabuhan, jumlahnya juga harus memenuhi ketentuan.
              Sesuai Keputusan Kementerian Perhubungan Nomor 414 Tahun 2014, pelabuhan ditetapkan sebanyak 1.240 meliputi 33 pelabuhan utama, 217 pelabuhan pengumpul, dan 990 pelabuhan pengumpan.
c)      Pelayaran rakyat.
PELRA, masih sangat eksis dan tetap dibutuhkan, mengingat karakteristik kargo yang dilayaninya masih terus berkembang. Sesuai Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 93 Tahun 2014, PELRA didefinisikan sebagai kegiatan angkutan laut yang menggunakan kapal layar tradisional; kapal motor berukuran sampai 500 GT yang digerakkan oleh tenaga angin sebagai penggerak utama dan motor sebagai tenaga penggerak bantu; dan kapal motor dengan ukuran antar 7 GT sampai 35 GT. Menurut Bambang, karakteristik kargo pengguna kapal rakyat memiliki volume kecil, umumnya komoditas yang mudah rusak sehingga membutuhkan fleksibilitas tinggi yang hanya bisa dipenuhi oleh kapal kecil.



 
3)  Strategi yang masih harus dilakukan
     1.  Dari segi pemerintah
       a)  Kesiapan APBN :
               Kesiapam APBN hingga kesiapan penyelenggara negara dan masyarakat. Ada kemungkinan, poros maritim akan alot dalam eksekusi karena  berkaitan dengan masalah kelautan  kita yang kronis sudah sedemikan lama. Pemerintah diharapkan mengupayakan strategi radikal dan melibatkan lintas kementrian dan pemangku kepentingan seperti nelayan, masyarakat pesisir dan dunia usaha baik BUMN maupun swasta nasional dan asing.
Dalam hal infrastruktur laut, dibutuhkan percepatan pembangunan infrastruktur laut sehingga lalu lintas logistik/barang menjadi cepat dan merata diseluruh wilayah Indonesia. Konsep tol laut (atau dalam terminologi dan konsep lain disebut sebagai pendulum nusantara) yang diutarakan oleh Presiden Jokowi semasa kampanye akan terwujud bila ada dorongan dan inisiatif pemerintah membangun deesea port (pelabuhan) dengan memberi jaminan bagi perusahaan dalam negeri seperti PT. Pelindo dan PT. PAL. Tentu juga memungkinkan mengundang investor asing namun dengan batasan serta menggunakan SDM Indonesia agar terjadi transfer pengetahuan dan teknologi pada sektor ini.  Selain perbaikan dan  perhatian  khusus yang diberikan dalam bidang teknologi untuk mengelola sumber daya alam di laut Indonesia, diperlukan juga sebuah pengembangan pelabuhan dan transportasi laut untuk mendorong kegiatan maritim Indonesia menjadi lebih modern dan mudah digunakan oleh masyarakat. Diharapkan juga peran swasta untuk mendukung jalannya pemberdayaan laut ini, supaya program-program ini tidak hanya bergantung pada dana APBN saja.
      b)  Kesiapan pembangunan Infrastrukur :
              Harus ada upaya mengatasi ketinggalan pembangunan pelabuhan kelas dunia. Selain pelabuhan, industri galangan kapal juga diharapkan tumbuh sehingga mampu memasok kebutuhan kapal yang akan menjadi tulang punggung transportasi lintas pulau. Intensitas perdagangan antarpulau dengan sendirinya akan menurunkan tingkat kesenjangan antarkawasan. Selanjutnya, perbedaan harga komoditas pokok di Jawa dan Papua tidak akan setajam sekarang.
c)Perlu adanya inegrasi antara pajak fiskal
      Dalam membangun ekonomi pelayaran, perlu adanya integrasi antara pajak fiskal, industri dalam negeri, sistem dan manajemen pelabuhan, modal, serta sumber daya manusia. Harus dilakukan membangun negeri tanpa uang negara di lokasi-lokasi strategis. Banyak cara baru yang bisa kita tempuh, mulai dari manajemen aset dan rekayasa uang untuk dijadikan modal. Langkah Konkrit menjaga Kelautan
d)      Langkah konkrit
 Langkah konkrit yang bisa menjadi pemicu gerakan poros maritim ini seperti pemberantasan pasar gelap ikan, ilegal fishing, infrastuktur laut serta budaya kelautan yang berkelanjutan dan kembali menggerakan sektor padat karya kelautan. Terobosan yang dilakukan oleh Kementrian Kelautan Perikanan dengan moratorium izin kapal tangkap merupakan cara yang tepat sebagai pemicu gerakan ini. Memberikan insentif yang bertanggungjawab kepada masyrakat nelayan dan penduduk pesisir menjadi mutlak, karena mereka merupakan subyek utama pembangunan poros maritim.

2.      Dari segi masyarakat,
a)      Nelayan diharapkan dapat menjadi subjek pejuang yang memanfaatkan sumber daya laut.
b)      Harus ada Upayah Perubahan Pola Konsumsi Masyarakat
 Bagi masyarakat umum yang tidak terlibat langsung dalam mewujudkan poros maritim masih ada langkah konkrit yang dapat diakukan. Perubahan pola konsumsi proteni hewani dari dominasi daging  sapi dan ayam menjadi ikan sebagai sumber protein utama. Jadi, keluhan terkait kelangkahan daging sapi pada saat tertentu yang kemudian memaksa pemerintah untuk impor seharusnya tidak perlu terjadi. Bila menjadkan ikan sebagai pengganti daging sapi, tidak saja menambah kombinasi protein tapi juga mendorong peningkatan kualitas hidup para nelayan. Kampenye makan ikan itu sehat selayaknya digebyarkan.
              Dari kesemuanya itu tentu muaranya adalah kesejahteraan  rakyat, ketahanan pangan, kelestarian lingkungan dan pembangunan yang merata bagi seluruh warga dan hamparan negara kepulauan RI.       .














BAB IV
PENUTUP

2.1    Kesimpulan
Berdasarkan  hasil pembahasan, penulis menyimpulkan hal-hal yang berkaitan dengan strategi memperkuat Ketahanan Ekonomi Nasional dalam Mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia antara lain :
1.      Ketahanan  nasional merupakan hal yang sangat diperlukan untuk menguatkan negara dari hambatan atau serangan dari eksternal maupun internal yang dapat menggangu kelangsungan hidup warga negara.
2.      Wujud ketahanan ekonomi tercermin dalam kondisi kehidupan perekonomian bangsa, yang mengandung kemampuan memelihara stabilitas ekonomi yang sehat dan dinamis serta kemampuan menciptakan kemandirian ekonomi nasional dengan daya saing tinggi dan mewujudkan kemakmuran rakyat yang adil dan merata.
3.      Keadaan ekonomi Indonesia saat ini masih berkutat pada masalah kemiskinan, KKN, dan masih banyak perusahaan swasta yang dikuasai oleh negara asing.
4.      Ketahanan ekonomi nasional yang baik akan baik juga dalam  menunjang perwujudan cita-cita “Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia”.
5.      Strategi dasar  dari segi ekonomi untuk mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia adalah dari segi lembaga, regulasi dan pendanaan, selain itu aktualisasi pembangunan yang mendukung juga diperlukan.
6.      Strategi yang masih harus dilakukan oleh pemerintah dikedepannya adalah penyediaan anggaran untuk pembangunan infrastruktur sangat penting.  Selain itu, masyarakat juga harus berperan aktif untuk berkontribusi dan mendukung demi terwujudnya cita-cita bangsa Indonesia ini.

2.2    Saran
              Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia buka lagi hal yang hanya wacana lagi tapi akan segera terealisasi.  Oleh karena itu, tidak hanya pemerintah tapi kita sebagai masyarakat Indonesia  untuk berpartisipasi aktif dalam berkontribusi demi perwujudan cita-cita tersebut.  Diharapkan dari segi ekonomi, pemerintah dapat mempersiapkan rencana yang baik untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional untuk menunjang perwujudan cita-cita tersebut. Sehingga, Indonesia dapat menjadi negara yang mandiri dengan pemanfaatan potensi sumber daya dan disegani bangsa lain.

                                                        DAFTAR PUSTAKA      

Rahayu, Minto.2007.Pendidikan Kewarganegaraan.Jakarta : Grasindo. Hal 244.

Suroto, Wahyono.2009.Indonesia Negara Mariim.Jakarta Selatan : Teraju.Hal 15.

Indrita Hardiana., S.H/Benedicta Trixie., S.IP
Edy Santosa.2009. Membangun Ketahanan Sosialan Budaya. Diakses melalui https://www.scribd.com/doc/26569245/Membangun-Ketahanan-Sosial-Budaya Pasca Sarjana UGM Tahun  Program Studi Ketahanan Nasional.Pdf

2014. Presiden RI- Poros Maritim Dunia Miliki Lima Pilar. Diakses melalui http://mimbar-rakyat.com/detail/presiden-ri-poros-maritim-dunia-miliki-lima-pilar pada tanggal 20 November 2014.

Edy Santosa.2009.Pasca Sarjana UGM Tahun  Program Studi Ketahanan Nasional.Pdf

http://www.kkp.go.id/index.php/export/post/c/10972/print/

Solopos.2014.Tol Laut- Jokow Menanti Realisasi Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia. Diakses melalui http://www.solopos.com/2014/10/12/tol-laut-jokowi-menanti-realisasi-indonesia-sebagai-poros-maritim-dunia-543652  pada tanggal 20 November 2014.





[1] Edy Santosa.2009. Membangun Ketahanan Sosialan Budaya. Diakses melalui https://www.scribd.com/doc/26569245/Membangun-Ketahanan-Sosial-Budaya Pasca Sarjana UGM Tahun  Program Studi Ketahanan Nasional.Pdf
[2] Ibid.,
[3] Wahyono.2009.Indonesia Negara Mariim.Jakarta Selatan : Teraju.Hal 15.
[4] Rahayu.Pendidikan Kewarganegaraan.Jakarta : Grasindo. Hal 244
[5] Kompasiana.2014. Pengaruh Ketahanan dalam bidang ekonomi. Diakses melalui http://politik.kompasiana.com/2013/04/12/pengaruh-ketahanan-nasional-dalam-bidang-ekonomi-550530.html
[6] http://koran-jakarta.com/?23861-poros%20maritim%20harus% 20berujung%20pada%20ketahanan%20 ekonomi
[9] http://duniakudigital.wordpress.com/2014/11/11/ini-dia-kata-charles-soal-wacana-pembentukan-komisi-maritim/
[10] Indrita Hardiana., S.H/Benedicta Trixie., S.IP

Tidak ada komentar:

Posting Komentar