Rabu, 11 Februari 2015

Review Film “The New Rulers In The World” dari Perspektif Marxist

            Review Film “The New Rulers In The World” dari Perspektif  Marxist
Nama          : Annisa Ridhatul K                             Judul    :  The New Rulers In The World
 NIM          : 135120400111045                             Genre   :  Dokumenter
 No Absen  : 20                                                       Special Report by   :  John Pilger                         
  Film yang berjudul The New Rulers in The World ini dibuat oleh John Pilger yang bekerjasama dengan Institute For Global Justice (IGJ) & INFID untuk upaya sosialisasi publik dalam mengkritisi globalisasi dan dampaknya terhadap Indonesia.  Film ini menceritakan penguasa baru dunia dan khususnya pengaruhnya bagi sebuah negara “Indonesia”.  Film ini merupakan tanggapan dari fenomena yang terjadi bahwa berjuta-juta orang berdemo dengan adanya tatanan ekonomi baru yang disebut globalisasi.  Hal itu dikarenakan terjadinya ketimpangan yang besar antara kaya dan miskin dan inilah globalisasi yang sebenarnya. Dimana hanya ada segelintir orang-orang kaya dengan 200 perusahaan dengan berbagai lembaga keuangan dan pemerintah sebagai penopangnya yang ¼ kegiatan ekonomi dunia sudah bisa dikuasai.  Dalam film ini ditampilkan banyak produk-produk perusahaan Multi Nasional yang brandnya terkenal dan menguasai pasar global seperti NIKE, Adidas, Reebook dan Gap. Padahal pemroduksiannya dibuat oleh negara-negara miskin dengan upah buruh yang sangat rendah. Kode etik yang dibuat perusahaan untuk melindungi pekerja terlihat tidak berlaku pada praktiknya. 
  Film ini juga menceritakan bahwa globalisasi di Indonesia memiliki sejarah gelap.  Pabrik-pabrik, bank-bank besar dan hotel mewah di Indonesia dibangun berkat pembunuhan massal 1 juta manusia yang dibunuh pada masa Jenderal Soeharto saat berkuasa atas bantuan Anerika dan Inggris  serta para pebisnis barat di pertengahan 1960an.  Setahun setelah peristiwa tragedi tersebut,  sistem Indonesia diubah menjadi model Amerika untuk mempermudah Barat menguasai sumber mineral, pasar dan buruh murah. Selain itu, juga ada propaganda yang menyatakan bahwa IMF mampu membawa Indonesia pada kemakmuran.  Globalisasi pun semakin berkembang di Indonesia sejak tahun 1967 ketika perusahaan Timelife AS mengadakan sebuah konferensi di Swiss.  Konferensi ini dihadiri oleh para pebisnis besar yang merencanakan pengambilalihan bisnis di Indonesia.
Fenomena-fenomena diatas menyebabkan ribuan pengunjuk rasa menyerukan anti globalisasi.  Terbukti bahwa pengunjuk rasa dari seluruh dunia memenuhi kota Seattle di AS, tempat berlangsungnya pertemuan organisasi perdangan Internasional (WTO) dan juga markas WTO di Jenewa.
                Menurut saya, analisis melalui Perspektif Marxist adalah yang paling tepat.
1.     Analisis melalui level domestik :
· Aktor : Borjuis (Pemerintah ex.Sooeharto & kroni-kroninya, Pemilik Perusahaan) dan Proletar (Buruh).
· Kapitalisme, Materialisme : Asumsi dasar marxist yang menganggap bahwa  manusia adalah makhluk yang hidup dengan mengejar materi semata, relevan dengan kasus di film ini.  Perusahaan memperkerjakan banyak buruh, dipaksa bekerja terus menerus, dan membayar upah  minim karena mengharapkan untung yang sebesar-besarnya.
· Manusia dipengaruhi oleh pola produksi yang ada di sekelilingnya. Dalam kasus ini, Perusahaan domestik dengan kepemilikan faktor produksi seperti mesin-mesin, pabrik dll ‘menguasai’ para buruh. Kemudian melakukan peningkatan atas materi, mesin berteknologi canggih bukan menjadi alat untuk mempermudah pekerjaan tapi memperbanyak produk, yang membuat kesenjangan sosial cukup jauh.
· Konflik kelas : Adanya pembagian upah yang tidak adil.  Padahal keuntungan yang didapat perusahan sangat berlipat-lipat ganda dibandingkan dengan upah buruh itu sendiri.  Contohnya produk GAP yang harga satuannya 112 ribu rupiah sedangkan upah buruh Indonesia per satuannya hanya memperoleh 500 perak.  Mereka rata-rata hanya dibayar Rp 9000,- sehari atau sekitar 1 US dollar dan mirisnya inilah uapah minimum yang resmi ditetapkan di Indonesia.  Selain itu, banyak buruh yang bekerja dieksploitasi tenaganya dan kebanyakan lebih dari 1000 orang wanita tampak kelelahan bekerja dalam keadaan penuh sesak.  Jam kerjanya full 24 jam dengan  2 kali istirahat dan jam kerjanya akan bertambah drastis apabila ada pesanan mendadak untuk ekspor.  Hal ini lah yang memicu konflik kelas.
· Analisis Gramshian dan Robert Cox :  Dalam analisis Cox mengenai dua hegemon (AS dan Inggris), gagasan hegemonik yang mereka gunakan adalah perdagangan bebas. Hal ini sesuai dengan film yang menceritakan pendirian organisasi perdagangan internasional (WHO)  yang menerapkan pasar bebas untuk mempermudah pemasran produk mereka dan menguasai pasar serta dapat mengimpor bahan dasar negara pheri-pheri. 
2.    Analisis melalui level Internasional :
· Aktor : Borjuis ( Amerika Serikat & Inggris ), Proletar (Indonesia), Dalam sistem ini, negara bukan satu-satunya aktor penting dalam politik dunia. Kelas sosial juga memainkan peran yang signifikan (Pekerja / buruh). 
· World System Theory :  Terlihat bahwa Amerika Serikat dan Inggris merupakan negara core yang mengeksploitasi negara miskin “Indonesia”.  Selain itu negara core ini tentunya memperluas pasarnya ke negara pheri-pheri ini.  AS memperkerjakan buruh-buruh Indonesia untuk menghasilkan produk-produk bermerek terkenal dan untuk memenuhi pangsa pasar. Hubungan ini yang menyebabkan yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin.  Amerika disini juga disebut Counter hagemonic Struggle yang mana Amerika lah yang memicu perubahan ekonomi di Indonesia dengan berusaha mengcounter norma yang berlaku.  Hal itu terlihat di dalam film,  Di tahun 1967 perusahaan Timelife AS mengadakan sebuah konferensi di Swiss.  Kemudian mereka menyusun kebijakan yang menguntungkan investor sedunia itu sebagai syarat yang harus di terima Indonesia jika menginginkan mereka masuk.  Untuk menambah kemudahan lagi, mereka menyusun infrastruktur hukum untuk kepentingan investasi mereka di Indonesia.
            Neo Marxist (Teori globalisasi)
· Menurut teori Marxis, dunia telah lama didominasi oleh satu perekonomian tunggal dan kesatuan politik, yaitu sistem kapitalis global.  Jadi, kaum Marxis tidak menganggap globalisasi sebagai sesuatu yang baru, melainkan sebagai kecenderungan jangka panjang dari perkembangan kapitalisme. 
·  Justin : Adanya relasi antara produksi dengan globalisasi.  Dengan globalisasi, produksi dapat diperluas pemasarannya karena adanya proses perluasan geografis.  Hal ini sangat dimanfaatkan Barat untuk mendapatkan produk dari perusahaan Indonesia dengan pembayaran upah buruh yang rendah namun produk dijual dengan harga mahal. Dan keuntungan yang didapat  tidak dibagi kepada buruh.
·  Benno T
1.Transformasi Sistem Internasional : Sistem Indonesia diubah menjadi model Amerika untuk mempermudah Barat menguasai sumber mineral, pasar dan buruh murah. IMF dan Bank Dunia sebagai lembaga penunjang pemberi bantuan keuangan Indonesia dengan propaganda bahwa IMF mampu membawa Indonesia pada kemakmuran.
2.INGO , MNC : Banyaknya perusahaan pemroduksi Adidas, GAP, NIKE, Mc Donnal yang menjamur dan terkenal melaui media massa di Indonesia yang mendulang kekayaan.

3.Ketergantungan  :  Dalam kasus ini, globalisasi di era krisis Soeharto telah menghasilkan dampak sampai sekarang yaitu menghasilkan hutang, pengangguran, privatisasi banyak BUMN dan akibatnya rakyat harus membayar mahal untuk kesehatan dan pendidikan.  Hal itu berarti secara tidak langsung rakyat lah yang harus membayar hutang-hutang negara padahal diselewengkan oleh soeharto dan kroni-kroninya.  Ditambah lagi baru-baru ini syarat IMF adalah pemotongan subsidi minyak, bahan makanan dan listrik dan tidak hanya itu tapi juga air, pendidikan serta pertanian.  Hal itu karena negara miskin harus menghabiskan separuh anggaran negaranya untuk membayar hutang atau menyetor jutaan dolar untuk negara kaya.  Dan syarat yang diajukan IMF banyak dijalankan karena negara Indonesia telah tergantung pada lembaga ini.  Selain itu, Indonesia juga sudah tergantung dengan Perusahaan barat.   Apabila Indonesia menghentikan usaha ekspor produk-produk seperti GAP dan lain-lain, hal itu akan mengakibatkan banyak pengangguran, kurangnya pemasukan ekspor dll.  Jika sistemnya tetap seperti ini, Indonesia sudah susah untuk lepas karena telah masuk ke dalam lingkaran setan kemiskinan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar