Review Film “The New Rulers In The World” dari
Perspektif Marxist
Nama : Annisa Ridhatul K Judul :
The New Rulers In The World
NIM
:
135120400111045
Genre : Dokumenter
No
Absen : 20 Special Report by : John Pilger
Film yang berjudul The New Rulers in The
World ini dibuat oleh John Pilger yang bekerjasama dengan Institute For Global
Justice (IGJ) & INFID untuk upaya sosialisasi publik dalam mengkritisi
globalisasi dan dampaknya terhadap Indonesia.
Film ini menceritakan penguasa baru dunia dan khususnya pengaruhnya bagi
sebuah negara “Indonesia”. Film ini merupakan
tanggapan dari fenomena yang terjadi bahwa berjuta-juta orang berdemo dengan
adanya tatanan ekonomi baru yang disebut globalisasi. Hal itu dikarenakan terjadinya ketimpangan
yang besar antara kaya dan miskin dan inilah globalisasi yang sebenarnya.
Dimana hanya ada segelintir orang-orang kaya dengan 200 perusahaan dengan berbagai
lembaga keuangan dan pemerintah sebagai penopangnya yang ¼ kegiatan ekonomi
dunia sudah bisa dikuasai. Dalam film
ini ditampilkan banyak produk-produk perusahaan Multi Nasional yang brandnya
terkenal dan menguasai pasar global seperti NIKE, Adidas, Reebook dan Gap.
Padahal pemroduksiannya dibuat oleh negara-negara miskin dengan upah buruh yang
sangat rendah. Kode etik yang dibuat perusahaan untuk melindungi pekerja
terlihat tidak berlaku pada praktiknya.
Film ini juga menceritakan bahwa globalisasi
di Indonesia memiliki sejarah gelap.
Pabrik-pabrik, bank-bank besar dan hotel mewah di Indonesia dibangun
berkat pembunuhan massal 1 juta manusia yang dibunuh pada masa Jenderal
Soeharto saat berkuasa atas bantuan Anerika dan Inggris serta para pebisnis barat di pertengahan
1960an. Setahun setelah peristiwa
tragedi tersebut, sistem Indonesia
diubah menjadi model Amerika untuk mempermudah Barat menguasai sumber mineral,
pasar dan buruh murah. Selain itu, juga ada propaganda yang menyatakan bahwa
IMF mampu membawa Indonesia pada kemakmuran.
Globalisasi pun semakin berkembang di Indonesia sejak tahun 1967 ketika
perusahaan Timelife AS mengadakan sebuah konferensi di Swiss. Konferensi ini dihadiri oleh para pebisnis
besar yang merencanakan pengambilalihan bisnis di Indonesia.
Fenomena-fenomena
diatas menyebabkan ribuan pengunjuk rasa menyerukan anti globalisasi. Terbukti bahwa pengunjuk rasa dari seluruh dunia
memenuhi kota Seattle di AS, tempat berlangsungnya pertemuan organisasi
perdangan Internasional (WTO) dan juga markas WTO di Jenewa.
Menurut saya, analisis melalui
Perspektif Marxist adalah yang paling tepat.
1.
Analisis
melalui level domestik :
· Aktor :
Borjuis (Pemerintah ex.Sooeharto & kroni-kroninya, Pemilik Perusahaan) dan Proletar
(Buruh).
· Kapitalisme, Materialisme
: Asumsi dasar marxist yang menganggap bahwa
manusia adalah makhluk yang hidup dengan mengejar materi semata, relevan
dengan kasus di film ini. Perusahaan
memperkerjakan banyak buruh, dipaksa bekerja terus menerus, dan membayar
upah minim karena mengharapkan untung
yang sebesar-besarnya.
· Manusia dipengaruhi
oleh pola produksi yang ada di sekelilingnya.
Dalam kasus ini, Perusahaan domestik dengan kepemilikan faktor produksi seperti
mesin-mesin, pabrik dll ‘menguasai’ para buruh. Kemudian melakukan peningkatan
atas materi, mesin berteknologi canggih bukan menjadi alat untuk mempermudah
pekerjaan tapi memperbanyak produk, yang membuat kesenjangan sosial cukup jauh.
· Konflik kelas
: Adanya pembagian upah yang tidak adil. Padahal keuntungan yang didapat perusahan
sangat berlipat-lipat ganda dibandingkan dengan upah buruh itu sendiri. Contohnya produk GAP yang harga satuannya 112
ribu rupiah sedangkan upah buruh Indonesia per satuannya hanya memperoleh 500
perak. Mereka rata-rata hanya dibayar Rp
9000,- sehari atau sekitar 1 US dollar dan mirisnya inilah uapah minimum yang
resmi ditetapkan di Indonesia. Selain
itu, banyak buruh yang bekerja dieksploitasi tenaganya dan kebanyakan lebih
dari 1000 orang wanita tampak kelelahan bekerja dalam keadaan penuh sesak. Jam kerjanya full 24 jam dengan 2 kali istirahat dan jam kerjanya akan
bertambah drastis apabila ada pesanan mendadak untuk ekspor. Hal ini lah yang memicu konflik kelas.
· Analisis Gramshian dan
Robert Cox : Dalam
analisis Cox mengenai dua hegemon (AS dan Inggris), gagasan hegemonik yang
mereka gunakan adalah perdagangan bebas. Hal ini sesuai dengan film yang
menceritakan pendirian organisasi perdagangan internasional (WHO) yang menerapkan pasar bebas untuk mempermudah
pemasran produk mereka dan menguasai pasar serta dapat mengimpor bahan dasar
negara pheri-pheri.
2.
Analisis
melalui level Internasional :
· Aktor :
Borjuis ( Amerika Serikat & Inggris ), Proletar (Indonesia), Dalam sistem
ini, negara bukan satu-satunya aktor penting dalam politik dunia. Kelas sosial
juga memainkan peran yang signifikan (Pekerja / buruh).
· World System Theory
: Terlihat bahwa Amerika Serikat dan
Inggris merupakan negara core yang mengeksploitasi negara
miskin “Indonesia”. Selain itu negara
core ini tentunya memperluas pasarnya ke negara pheri-pheri ini. AS memperkerjakan buruh-buruh Indonesia untuk
menghasilkan produk-produk bermerek terkenal dan untuk memenuhi pangsa pasar.
Hubungan ini yang menyebabkan yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin
miskin. Amerika disini juga disebut
Counter hagemonic Struggle yang mana Amerika lah yang memicu perubahan ekonomi
di Indonesia dengan berusaha mengcounter norma yang berlaku. Hal itu terlihat di dalam film, Di tahun 1967 perusahaan Timelife AS mengadakan
sebuah konferensi di Swiss. Kemudian
mereka menyusun kebijakan yang menguntungkan investor sedunia itu sebagai
syarat yang harus di terima Indonesia jika menginginkan mereka masuk. Untuk menambah kemudahan lagi, mereka
menyusun infrastruktur hukum untuk kepentingan investasi mereka di Indonesia.
Neo Marxist (Teori globalisasi)
· Menurut
teori Marxis, dunia telah lama didominasi oleh satu perekonomian tunggal dan
kesatuan politik, yaitu sistem kapitalis global. Jadi, kaum Marxis tidak menganggap
globalisasi sebagai sesuatu yang baru, melainkan sebagai kecenderungan jangka
panjang dari perkembangan kapitalisme.
· Justin
: Adanya relasi antara produksi dengan globalisasi. Dengan globalisasi, produksi dapat diperluas
pemasarannya karena adanya proses perluasan geografis. Hal ini sangat dimanfaatkan Barat untuk
mendapatkan produk dari perusahaan Indonesia dengan pembayaran upah buruh yang
rendah namun produk dijual dengan harga mahal. Dan keuntungan yang didapat tidak dibagi kepada buruh.
· Benno T
1.Transformasi
Sistem Internasional : Sistem Indonesia diubah menjadi model Amerika untuk
mempermudah Barat menguasai sumber mineral, pasar dan buruh murah. IMF dan Bank
Dunia sebagai lembaga penunjang pemberi bantuan keuangan Indonesia dengan propaganda
bahwa IMF mampu membawa Indonesia pada kemakmuran.
2.INGO
, MNC : Banyaknya perusahaan pemroduksi
Adidas, GAP, NIKE, Mc Donnal yang menjamur dan terkenal melaui media massa di Indonesia
yang mendulang kekayaan.
3.Ketergantungan : Dalam
kasus ini, globalisasi di era krisis Soeharto telah menghasilkan dampak sampai
sekarang yaitu menghasilkan hutang, pengangguran, privatisasi banyak BUMN dan
akibatnya rakyat harus membayar mahal untuk kesehatan dan pendidikan. Hal itu berarti secara tidak langsung rakyat
lah yang harus membayar hutang-hutang negara padahal diselewengkan oleh soeharto
dan kroni-kroninya. Ditambah lagi
baru-baru ini syarat IMF adalah pemotongan subsidi minyak, bahan makanan dan
listrik dan tidak hanya itu tapi juga air, pendidikan serta pertanian. Hal itu karena negara miskin harus
menghabiskan separuh anggaran negaranya untuk membayar hutang atau menyetor
jutaan dolar untuk negara kaya. Dan
syarat yang diajukan IMF banyak dijalankan karena negara Indonesia telah
tergantung pada lembaga ini. Selain itu,
Indonesia juga sudah tergantung dengan Perusahaan barat. Apabila
Indonesia menghentikan usaha ekspor produk-produk seperti GAP dan lain-lain,
hal itu akan mengakibatkan banyak pengangguran, kurangnya pemasukan ekspor dll. Jika sistemnya
tetap seperti ini, Indonesia sudah susah untuk lepas karena telah masuk ke
dalam lingkaran setan kemiskinan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar