Kebijakan “Anti Neo-liberal” Venezuela dalam
Menghadapi Hagemony AS di era Kepemimpinan Hugo Chavez
Pasca 1998
Tugas UAS Mata Kuliah Analisa
Politik Luar Negeri
Disusun Oleh : Annisa Ridhatul Khatimah
NIM : 135120400111045
Dosen Pembimbing :
Achmad Fathoni Kurniawan S.IP, M.A
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
PRODI ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Salah satu
peristiwa mengejutkan pada dekade awal tahun 2000-an adalah kemenangan
kekuatan-kekuatan kiri melalui Pemilu Presiden di beberapa negara Amerika
Latin. Keberhasilan Daniel Ortegan (veteran
pemimpin gerilyawan sandinista) untuk merebut kursi kepresidenan melalui pemilu
di Nikaragua, kemenangan politik doktor ekonomi, Rafael Correa, dari sayap
nasionalis kiri pada pemilu Presiden Ekuador dan keberhasilan pemimpin
populis,Hugo Chavez, menjabat menjadi presiden kedua kalinya di Venezuela,
semakin memantapkan konsolidasi kepemimpinan kelompok kiri dan gelombang pasang
demokrasi popular pada 9 negara Amerika Latin[1].
Kemenangan pemimpin-pemimpin yang
berhaluan sayap kiri tidak lain didorong oleh semangat kebangkitan mereka untuk
menandingi kebijakan neo-liberal Amerika Serikat di kawasan Amerika Latin
tersebut. Hal itu dikarenakan, Pasca
Perang Dingin, Amerika Serikat melakukan perluasan kebijakan ekonomi neo-liberalnya
di seluruh dunia terutama kawasan Amerika Latin. AS menganggap bahwa Amerika
Latin adalah halaman belakangnya melalui Doktrine Monroe. Namun, hal itu
menimbulkan krisis ekonomi yang berkepanjangan seperti di Argentina, Venezuela
dan lain-lain.
Di Venezuela, awalnya kebijakan neo-liberal
AS diberlakukan melalui kerjasama lembaga-lembaga internasional seperti
International Monetary Fund (IMF) dan World Bank. Kemudian, Venezuela memberlakukan reformasi
ekonomi neoliberal untuk perusahaan asing.
Memang sangat menguntungkan bagi investasi asing di tengah iklim
investasi global dan pasar bebas, tapi berbeda dengan posisi rakyat Venezuela
yang semakin dilemahkan, dan terkena imbas buruknya. Sehingga, Presiden Carlos
meminta bantuan kepada IMF sebesar 4,5 miliar dollar. Namun, kebijakan ekonomi yang dilakukan AS
tersebut gagal terlaksana di Venezuela dan bahkan membuat Venezuela semakin mengalami krisis ekonomi di akhir tahun
1980-an dan awal 1990-an[2].
Krisis
ekonomi Venezuela dan kekecewaan politik masyarakat selama 40 tahun membuat kehidupan politik di Venezuela sejak
tahun 1999 mengambil perhatian negara-negara lain di dunia termasuk Amerika
Serikat. Venezuela dengan sosok seorang
presiden yang pro terhadap rakyat telah mengubah kehidupan politik menjadi
lebih hidup dimata rakyatnya. Sosok
tersebut ialah seorang presiden Hugo Chavez. Berkat sentuhan tangannya,
kehidupan politik Venezuela pada saat itu mulai diperhitungkan oleh
negara-negara lain[3].
Hugo Chavez
adalah seorang putra bangsa Venezuela. Ia
memiliki pengalaman sebagai revolusioner yang berpaham sosialis ala Simon Boliviar, seorang tokoh
revolusioner di Amerika Latin yang anti imprealisme. Melalui kegigihannya, kebijakan luar negeri
yang benuansa anti neo-liberal dikeluarkan.
Selaras juga dengan kebijakan domestiknya, ketika Chavez menjabat
sebagai presiden , ia telah banyak melakukan perubahan ketatanegaraan di
Venezuella salah satunya mengubah nama Republik Venezuela menjadi republik
Bolivarian Venezuela.
Perubahan-perubahan yang ia lakukan mendapat sambutan hangat dari
rakyatnya yang memang telah bosan dan tidak puas pada pemerintah yang berkuasa
sebelum Chavez yang tidak begitu peduli terhadap rakyat Venezuela[4].
Rupanya keberlangsungan
politik di Venezuela pun erat kaitannya dengan kondisi ekonomi yang dimiliki
oleh venezuela. Negara tersebut memiliki
kekayaan akan minyak bumi yang sangat berpotensi bagi kelayakan hidup
rakyatnya. Sehingga, ketika terjadi spekulasi
melalui intervensi ekonomi perusahaan asing, sosok seorang pemimpin Hugo Chavez
berusaha menunjukkan kepada dunia bahwa rakyat Venezuela dapat mandiri dalam
kondisi ekonomi dengan cara yang cukup berani, yakni menaturalisasi
perusahaan-perusahaan asing yang sedang berinvestasi di Venezuela[5]. Kemudian, dalam kebijakan luar negerinya,
Chavez segera melunasi hutang-hutang Venezuela terhadap IMF dan World
Bank. Setelah hutang terlunasi, pemerintah
Venezuela mengeluarkan kebijakan “Memutuskan Kerjasama dengan IMF dan World
Bank” pada tahun 2007. Kemudian, sebagai
upayah persuasi Chavez untuk anti Amerika dan anti IMF dan World Bank, Chavez
memprakarsai berdirinya ALBA dan dibangunnya South Bank sebagai Bank tandingan
World Bank[6].
Permasalahan
kebijakan anti neo-liberal yang kompleks, membuat penulis sangat tertarik untuk meneliti
bagaimana kebijakan anti-neoliberal melalui “Pemutusan Hubungan Kerjasama dengan IMF dan World Bank” dikeluarkan
oleh Venezuela dalam menghadapi hagemony AS pada pemerintahan Hugo Chavez
tersebut. Teori yang penulis gunakan untuk menganalisis kebijakan Venezuela ini
adalah teori “belief system” dan “domestic constraint foreign policy”. Melalui Belief system penulis berusaha
menjelaskan bagaimana sosok Hugo Chavez dengan nilai-nilai Bolivarian yang ia
dapat sebelumnya dalam mempengaruhi pembuatan kebijakan anti neo-liberal ini,
dan melalui domestic constraint foreign policy, penulis mencoba menjelaskan
bagaimana dukungan rakyat mulai dari
pemilihan presiden yang memenangkan Chavez hingga mendukung kebijakan-kebijakan
Chavez yang anti neo-liberal AS.
1.2
Rumusan
Masalah
1.
Mengapa kebijakan Venezuela
bercirikan anti neoliberal pada masa kepemimpinan Hugo Chavez ?
2.
Bagaimana kebijakan Venezuela yang bercirikan anti
neoliberal dalam menghadapi hagemony AS pada masa Hugo Chavez jika dianalisis menggunakan konsep
“Belief System” ?
3.
Bagaimana kebijakan Venezuela yang bercirikan anti
neoliberal dalam menghadapi hagemony AS pada masa Hugo Chavez jika dianalisis menggunakan konsep “Domestic
Constraint Foreign Policy” ?
1.3
Tujuan
1.
Menjelaskan mengapa kebijakan
Venezuela bercirikan anti neoliberal pada masa kepemimpinan Hugo Chavez
2.
Menjelaskan kebijakan Venezuela yang
bercirikan anti neoliberal dalam menghadapi hagemony AS pada masa Hugo
Chavez jika dianalisis menggunakan
konsep “Belief System”
3.
Menjelaskan kebijakan Venezuela yang bercirikan anti
neoliberal dalam menghadapi hagemony AS pada masa Hugo Chavez jika dianalisis menggunakan konsep “Domestic
Constraint Foreign Policy”
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Kerangka Konseptual : Faktor dikeluarkannya Kebijakan “anti neoliberal”
Sebelum Hugo Chavez menjadi presiden, AS melakukan perluasan kebijakan
ekonomi neoliberalnya di Amerika Latin termasuk Venezuela melalui
lembaga-lembaga internasional seperti International Monetary Fund (IMF) dan
World Bank. Pada tahun 1980, Presiden
Venezuela, Carlos Perez, membuat perjanjian melalui “Washington Consensus”,
untuk menerapkan program IMF di Venezuela melalui SAP (Structural Adjusment
Program). SAP
adalah paket kebijakan standar yang ditentukan oleh lembaga keuangan
internasional untuk setiap negara di kawasan selatan. Pencabutan subsidi
publik, privatisasi, deregulasi serta kebijakan pro pasar bebas lainnya adalah
program utama dari lembaga keuangan tersebut. Kepentingan-kepentingan tersebut
sangat menguntungkan perusahaan-perusahaan multinasional dalam memapankan
jalannya memasuki negara-negara dunia ketiga seperti Venezuela serta
mengeksploitasi penduduk negara tersebut sebagai pekerjanya[7].
Akibat program-progam IMF dan World Bank, Venezuela
mengalami krisis ekonomi di akhir tahun 1980-an dan awal 1990-an. Sehingga, Presiden Carlos melalui negosiasi
persetujuan struktural meminta bantuan kepada IMF sebesar 4,5 miliar dollar[8].
Selanjutnya, hubungan kerjasama
antara Venezuela dengan IMF juga berlangsung kembali pada masa pemeritahan
Rafael Caldera di tahun 1994. Atas
persetujuan IMF, Venezuela pada masa pemerintahan Rafael memperoleh pinjaman
keuangan sebesar 1,5milliar. Sementara,
bunga hutang IMF semakin meningkat dan Venezuela harus memberlakukan kebijakan
yang bersumber dari program-program IMF.
Sehingga, perekonomian Venezuela tetap mengalami kegagalan untuk
bangkit. Program IMF yang telah
dijalankan oleh presiden-presiden sebelum Chavez mewarisi masyarakat Venezuela
mendapatkan ketimpangan ekonomi antara kelompok kaya dan rakyat miskin. Daniel Hellinger mengutip sebuah statistik
yang mengungkapkan bahwa persentase penduduk yang hidup dibawah garis
kemiskinan meningkat dari 36% di tahun 1984 menjadi 66% di tahun 1995. Sedangkan, persentase tenaga kerja yang
bekerja di sektor ekonomi informal yang tidak stabil meningkat dari 34,5% pada
tahun 1980 menjadi 53% pada tahun 1999[9].
Atas krisis yang melanda Venezuela, ribuan
orang turun ke jalan untuk melakukan protes terhadap pemerintah. Bentrokan dengan polisi pun tidak bisa
dihindarkan dan banyak korban berjatuhan.
Peristiwa ini dikenal dengan El Caracazo, ledakan kemarahan rakyat saat
terjadi kenaikan harga minyak, ditumpas oleh tentara. Menurut data organisasi HAM, kurang lebih 500
orang tewas terbunuh. Negara dikepung
oleh militer dan jam malam diberlakukan di beberapa kota di Venezuela.Akibat
krisis tersebut membuat perubahan opini publik di sebagian besar rakyat venezuela. Mereka tidak lagi mempercayai pemimpin yang
menjadi budak kepentingan AS di Venezuela.
Dalam hal ini pemimpin yang tergiur dengan bantuan AS dengan kebijakan
IMF nya[10].
Kemudian, Rakyat Venezuela mulai mengenal
Chavez saat terjadi pemberontakan militer yang dipimpin oleh Hugo Chavez pada
tanggal 4 Februari 1992. Setelah Presiden
Carlos melarikan diri, Hugo Chavez mencalonkan diri menjadi Presiden. Segera
setelah Hugo Chavez menjabat sebagai presiden tahun 1998, kebijakan
anti-neoliberal muncul di Venezuela. Melalui
program Revolusi Bolivariannya, Chavez membuat kebijakan-kebijakan yang
bercirikan anti neoliberal. Chavez berani menentang kebijakan-kebijakan yang
diterapkan oleh AS salah satunya adalah penolakan Chavez atas IMF dan World
Bank[11].
2.2 Analisis
kebijakan “anti neo-liberal” Venezuela terhadap AS
1.
Belief
System
|
Bagan : Konsep
Belief System
|
Chavez juga kuliah di venezuela Academ,
disanalah ia mengembangkan gaya perkuliahan yang kuat. Selama kuliah, Chavez
mulai membangun kritik keras terhadap pemerintah Venezuela dan struktur
sosial. Selain itu, pergerakannya
didasarkan pada filosofi dan ideologi dari Simon Bolivar, yang merupakan seorang
jenderal abad ke-19 yang memimpin perang melawan pemerintahan spanyol dan ia adalah seorang pembebas besar di Amerika
Latin. Simon Boliviar berusaha untuk menyatukan kawasan Amerika Latin agar
menjadi kekuatan besar melawan kekuatan kapitalisme. Dan Chavez berusaha untuk
menerapkan ide-ide serupa dengan mendorong penyatuan politik di kawasan Amerika
Latin melalui penciptaan kawasan yang berdaulat dan blok ekonomi yang kuat[12].
Nilai-nilai
“Boliviar” yang kerap disebut Revolusi Bolivarian sebagai anti neoliberal sudah
sangat tertanam dalam diri Chavez. Hal
itu membuat Chavez semakin gigih melakukan perlawanan yang didasarkan atas dasar-dasar politik luar
negeri Venezuela yang Non-Blok (Non-Alignment), yaitu penghapusan kolonialisme
dan imperialisme, hak bangsa untuk menentukan nasib sendiri, dan non intervensi.
Dasar-dasar politik luar negeri tersebut mencerminkan Venezuela yang anti
kolonialisme dan imperialisme dimana
Amerika Serikat sebagai negara imperialisme utama[13]. Kerjasama dan penerapan kebijakan domestik yang
condong ke kiri seperti menjalin kerjasama ekonomi dengan Rusia dan China juga
dilatarbelakangi oleh pengalaman Hugo
Chavez itu sendiri. Presiden Hugo Chavez
juga tertarik pada revolusioner Marxis Che Guevara (1928-1967) setelah membaca
“The Diary Che Guevara”, meskipun juga membaca buku-buku karya tokoh lain, dari
Karl Marx untuk Hannibal dan Napoleon Bonaparte[14].
Pengalaman
sebagai letnal kolonel militer juga menjadi
faktor yang membuat Hugo Chavez tetap berani melawan AS. Sampai-sampai,
sebelum menjadi presiden, ia mendirikan organisasi
rahasia Revolutionary Bolivarian Movement-200
(MBR-200) pada awal 1980-an yang bertujuan menggulingkan pemerintahan. Pada
saat terpilih menjadi presiden pun, ia tetap menunjukan
eksistensinya yang legitimate di
kalangan rakyat meskipun sejak awal diserang terus oleh kelompok oposisi yang
dibantu AS. Terbukti bahwa seiring kebijakan-kebijakan Chavez yang selalu
menentang kepentingan AS, maka AS pun tidak tinggal diam[15].
Salah satu contoh, cara yang dilakukan AS untuk
mengisolasi pemerintahan Chavez adalah dengan melakukan intervensi politik dan
militer. Program intervensi politik AS
melibatkan luas pemerintahan, NGO, institusi finansial, agen multilateral, dan
perusahaan swasta. Program intervensi
tersebut yaitu pendanaan Amerika Serikat terhadap kelompok oposisi di
Venezuela. Partai-partai oposisi seperti
“Primero Justica”, AD, dan MAS telah lama berdiskusi untuk melakukan suatu
strategi politik yaitu menghasilakn suatu kandidat, agar dapat menampilkan
figur yang dapat digunakan untuk menandingi Hugo Chavez[16]. Sedangkan melalui intervensi militer,
pemerintah AS dibawah perintah Bush Jr mencoba membantu pelatihan terhadap para
militer yang beroposisi terhadap Chavez.
Setelah didanai, maka pada tanggal 11 April 2002, partai CTV,
Fedecamaras dan partai-partai lainnya menggelar demonstrasi besar-besaran untuk
menggulingkan Hugo Chavez[17].
Tabel 1. Pendanaan Politik Amerika Serikat untuk “Promosi Demokrasi” di
Venezuela[18]
|
Tahun
|
NED (dalam
US$)
|
USAID
(dalam US$)
|
|
2000
|
232.831
|
-
|
|
2001
|
877.435
|
-
|
|
2002
|
1.698.799
|
2.197.006
|
|
2003
|
1.046.321
|
8.903.669
|
|
2004
|
874.384
|
6.345.000
|
|
2005
|
930.274
|
5.000.000
|
|
Total NED dan USAID
|
|
25.175.505
|
Ket. NED (National Endwment for Democracy)
USAID (United States Agency for
International Development)
2. Analisis
Kebijakan anti neo-liberal Venezuela melalui “Domestic Constrain Foreign
Policy”
|
|
Hal ini terkait dengan kondisi
perekonomian di Venezuela. Sebelum Chavez memimpin, kondisi perekonomian berada
pada kondisi yang buruk dan banyak rakyat tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup
mereka.
1. Peran Masyarakat terutama Masyarakat
Miskin
Dukungan
dari rakyat miskin terhadap Chavez semakin melonjak. Hal itu berkaitan dengan Konstitusi Bolivarian
1999 yang menjadi roda utama Hugo Chavez. Misi
pemerintahan Chavez pun didedikasikan untuk meningkatkan akses pada pelayanan
kesehatan, pendidikan, jaminan sosial, dan pangan. Serta lahan untuk sektor
termiskin dalam masyarakat. Selain itu, dukungan
rakyat didapat dari pendidikan politik terhadap masyarakat kecil yang sangat intens,
sehingga masyarakat sadar politik dan mengetahui isi Undang-undang Venezuela
lewat buku kecil undang-undang yang dibagikan pemerintag. Berkaitan dengan hal itu, maka dampaknya
menjadikan rakyat tidak mudah dibodohi dan diprovokasi terutama provokasi
kelompok oposisi[20].
Kemudian, Kemenangan Presiden Hugo Chaves
ke-dua kalinya pada pemilu 2006 dan Referendum tahun 2004 pun berhasil dimenangkan oleh
pendukung Chavez menjadi bukti bahwa rakyat masih menginginkan tokoh
yang anti dominasi Amerika Serikat ini untuk menjadi pemimpinnya. Dan ketika ia digulingkan oleh
keompok oposisi, ribuan orang melakukan unjuk rasa agar Chavez dikukuhkan
kembali menjadi presiden. Hugo Chavez memang memiliki
legitimasi yang kuat dimata rakyat, karena telah dianggap membawa berbagai
macam kebijakan yang membawa banyak perubahan bagi rakyat. Sehingga, baik kebijakan domestik maupun
kebijakan luar negeri chavez yang bercirikan anti neoliberalisme tetap setia didukung[21].
2. Peran Partai Politik[22]
Meskipun banyak partai-partai politik yang
menjadi oposisi pemerintahan Hugo Chavez tapi partai pendukung Chavez “MVR”
atau Movement for Venezuela Reformation tetap eksis berjuang. Partai yang dibawah naungan Chavez tersebut
jika dilihat dari sejarahnya, menjadi sebagai Gerakan Republik Kelima dan menjalani
transisi dari dunia tentara ke dunia politikus.
Chavez yang memimpin koalisi Patriotic Pole berhaluan kiri ini secara
jelas menegaskan, mengikuti jejak tokoh legendaris Argentina (Jenderal Juan
Peron) yang dipandang sangat peduli pada kesejahteraan rakyat, keadilan sosial,
dan persamaan hak. Melalui visi misi
tersebut, pembuktian yang nyata oleh Chavez dan kampanye MVR itu lah yang
mengantarkan Chavez dan Partainya menggapai keberhasilan kemenangan oleh
rakyat.
Tabel. 2 Perolehan
Jumlah Suara Pemilihan Presiden Venezuela
|
Nama
|
Suara
|
Persentase
|
|
Hugo
Chavez
|
3.673.685
|
56.20%
|
|
Herrique
Salas
|
2.613.161
|
39.97%
|
|
Pemilih
|
6.988.291
|
63.76%
|
|
Abstain
|
3.971.239
|
36.24%
|
3. Peran Media dalam Mempengaruhi
Perhatian dan Opini Publik
a. Media sebagai penyalur kepentingan
oposisi
Mayoritas
media di venezuela dimiliki oleh swasta yang kebanyakan punya afiliasi
ideologis dan kepentingan politik kelompok oposisi. Berkaitan dengan pemilu Desember 2006, empat
televisi utama melakukan penyiaran secara terbuka yaitu Venevision, RCTV,
televen, dan Globalvision. Yang terakhir adalah TV baru yang siarannya selama
24 jam, sedangkan yang lainnya lebih banyak menayangkan hiburan. Sedangkan tiga surat kabar utama adalah
Ultimas Naticans, yang paling banyak dibaca di Venezuella, El Nacional, dan El
Universal, keduanya selalu mengkritisi Presiden Hugo Chavez. Sedangkan radio
yang jangkauannya ke seluruh negara adalah Union Radio. Pemerintah memiliki channel TV Venezolana de
Television (VTV), TV Pendidikan Vive TV, dan Telesur, Channel TV yang siarannya
selama 24 jam merupakan TV yang menjangkau seluruh Amerika Selatan dan Radio
Nacional de Venezuela[23].
Di Global Vision, pencalonan Manuel Rosales
medapatkan 80% pemberitaan, dan 35% untuk Hugo Chavez, itupun dengan nada yang
sangat negatif. Di RCTV, Koalisi Unidad
mendapatkan penayangan sebesar 69% yang secara umum positif. Sedangkan Chavez mendapatkan 29% yang
setengah darinya bernuansa negatif.
Siaran-siaran lainnya di radio dan surat kabar juga menunjukkan
kecenderungan yang sama. Media memiliki
kecenderungan afiliatif terhadap calon tertentu, meskipun telah ada aturan yang
menghendaki penyiaran kampanye secara berimbang dan objektif[24].
Chavez dan
para pendukungnya tentu saja tetap bekerja keras untuk mengalahkan oposisi dan
elite bisnis yang berusaha merebut kekuasaan dengan jalan demokratis lewat
pemilu. Sebagaimana dalam pemilu-pemilu
sebelumnya, titik tekan kampanye Hugo Chavez adalah melanjutkan program-program
sosial untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Venezuela.
b. Media sebagai penyalur kepentingan Pemerintah
Pemanfaat
radio oleh Chavez :
Presiden Hugo Chavez menegakkan demokrasi
partisipatoris di Venezuela, ia secara rutin muncul dalam program radio khusus
yang disebut Alo Presidente (Hallo President) untuk menjawab pertanyaan dari
rakyat secara langsung lewat telepon interaktif. Ia juga aktif dalam memberikan pidato dan
penerangan atas kebijakan politiknya baik domestik maupun luar negeri lewat
Channel, Program TV negara di Venezuela[25].
Selain itu, Di AS,
Venezuela memasang iklan Citgo, perusahaan minyak milik Venezuela. Iklan
tersebut menyatakan bahwa rumah tangga di AS telah menerima subsidi minyak
pemanas sebagai ”hadiah” dari rakyat Venezuela[26].
Disini terlihat bahwa
media yang dalam kasus ini Radio dan TV dapat membantu memframing pandangan
masyarakat untuk tetap menerima positifnya kebijkan pemerintah. Disamping program-program TV Venezuela yang
banyak memperjuangkan kepentingan oposisi, Chavez masih dapat memanfaatkan
Radio untuk berkampanye danmendapatkan citra positif masyarakat. TV di AS, dimanfaatkan oleh Venezuela
memframing isu yang diharapkan membuat opini masyarakat AS terhadap Venezulea bahwa Venezuela tidak lagi
bergantung dengan AS.
2.3 Output (Kebijakan)
Nilai-nilai
boliviar dan pengalaman sebagai letnan kolonel militer lah yang membuat Hugo Chavez mengeluarkan
kebijakan yang bercirikan anti neo-liberal. Salah satu kebijakan yang penulis teliti
adalah kebijakan “Memutuskan Kerjasama dengan IMF dan World Bank”. Dimana IMF dan World Bank dinilai sebagai
lingkaran setan yang jika tidak keluar dari lingkaran tersebut akan membuat
negara semakin menderita. Ditambah
dengan pengalaman pahit krisis ekonomi akibat program-programnya semakin membuat Hugo
Chavez percaya bahwa negaranya bisa berdiri tanpa bantuan IMF dan World
Bank. Chavez
telah melunasi seluruh hutang Venezuela kepada IMF pada tahun 1999 kemudian
dilanjutkan melunasi seluruh hutang pada Bank Dunia pada tahun 2007. Secara resmi, Venezuela kemudian
menarik diri dari kedua lembaga keuangan internasional itu pada tanggal 30
April 2007[27]. Kemudian, kantor IMF di Veneuela ditutup. Hal
ini dinyatakan oleh Presiden Venezuela Hugo Chavez dalam pidatonya di sebuah
televisi swasta Venezuela. “Saya ingin memformalkan pernyataan keluarnya kami
dari Bank Dunia dan IMF. Kami memutuskan untuk menarik diri dari Bank Dunia dan
IMF sebelum semakin merugikan Venezuela lagi.” ujar Chavez. Secara lengkap
dalam bahasa aslinya hal itu dinyatakan sebagai berikut:
"Yo quiero
formalizar la salida del Banco Mundial y del Fondo Monetario Internacional y de
todo eso. Ya no nos hace falta estar y tener un representante allá, vamos a
salirnos, no queremos ni estar allí, y que nos devuelvan los reales [dinero],
más bien, porque ahora nos deben", dijo Chávez.
Lalu,melalui
semangat “Revolusi Bolivarian”, untuk menandingi kekuasaan World Bank dan IMF
di Amerika Latin, Hugo Chavez memprakarsai pendirian “South Bank” sebagai
pendanaan untuk kesejahteraan masyarakat dan perwujudan kawasan Amerika Latin
yang lebih maju tanpa belengguh kapitalisme Amerika Serikat. Selain itu,
Chavez juga telah memprakarsai pendirian kerjasama
regional Alternativa Bolivariana para las America (ALBA) yang dideklarasikan
di Ibu Kota Kuba, Havana, 28 April 2005[28]. ALBA dijadikan sebagai alat politik kebijakan luar negeri
Venezuela untuk menyalurkan kebijakan luar negerinya yang anti
neo-liberal dalam mempengaruhi
negara-negara Amerika Latin yang masih memiliki hutang dan bekerjasama
dengan IMF dan World Bank agar ikut keluar dari jeratan IMF dan World Bank yang
berbalutkan neo-kolonialisme dan ekonomi pasar tersebut.
Memang, pendirian ALBA
dilatarbelakangi dengan ketidaksetujuan Hugo Chavez dengan ditandangani FTAA yang
disponsori Washington. Chavez berpengaruh dalam menggagalkan rencana-rencana yang sejak lama dipupuk oleh
Bush untuk mendirikan FTAA pada 2005. Tujuan
dari ALBA ini adalah membangun masa depan Amerika Latin yang sejahtera dan
menghancurkan ketidaksetaraan sosial dan menjadikan wilayah ini sebagai
kekuatan yang mampu menjalankan model perekonomian sendiri di tengah
globalisasi melalui strategi ekonomi, politik, sosial dan budaya yang ada ki
kawasan Amerika Latin[29].
Melalui ALBA, selaras dengan kepentingan domestiknya yaitu mengutamakan
program sosial, dan selaras dengan kebijakan luar negerinya “Memutuskan
Hubungan Kerjasama dengan IMF dan World Bank”, Hugo Chavez memberikan bantuan
ekonomi kepada negara-negara anggota
ALBA. Sehingga negara anggota ALBA tidak hanya terus bergantung dengan bantuan
IMF dan World Bank dan dapat segera melunasi hutang-hutangya.
|
Bantuan ekonomi dan pengaruh Chavez tersebut dapat dirasakan di tingkat
rakyat maupun diplomatik. Ia telah menjadi pahlawan bagi jutaan rakyat Amerika
Latin yang tak diistimewakan, yang mengagumi keberaniannya dan dengan cermat
mencatat keberhasilan-keberhasilan politiknya.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Berdasarkan
pembahasan dan analisis yang telah dipaparkan, maka penulis menyimpulkan :
1.
Krisis ekonomi yang
berkepanjangan akibat kebijakan ekonomi neo-liberal AS di Venezuela menjadi
alasan bagi Presiden Hugo Chavez dalam memerangi AS melalui kebijakan anti
neo-liberal AS.
2.
Hugo Chavez dengan
latar belakang pendidikan sebagai murid seorang revolusioner anti neo-liberal,Simon
Boliviar, dan sebagai letnan kolonel militer menjadikan Chavez sebagai pemimpin
yang benar-benar berani menentang hagemony AS di Venezuela. Terbukti dengan kebijakan domestik yang
dikeluarkan seperti menaturalisasi perusahaan asing terutama perusahaan AS hingga
kebijakan luar negeri “Memutus hubungan kerjasama dengan IMF dan World Bank”.
3.
Sementara, masyarakat
Venezuela tetap setia mendukung Hugo Chavez hingga terpilih kembali untuk kedua
kalinya. Hal itu dikarenakan kebijakan
anti neo-liberal yang digagas Hugo Chavez semakin membawa perekonomian
Venezuela menjadi lebih baik.
3.2
Saran
(Rekomendasi Kebijakan)
Setelah membahas dan menganalisis kebijakan
“anti-neoliberalisme” Venezuela terhadap AS, penulis mencermati bahwa :
Berdasarkan pendekatan
realisme, meskipun Venezuela telah mampu membendung intervensi AS melalui
kebijakannya yang anti neo-liberal, tapi perlu dicermati bahwa intervensi AS
tidak hanya sebatas pemberlakuan perusahaan asing dan penawaran IMF dan World
Bank. Dimana Amerika Serikat yang
berprespektif realisme menekankan pada pentingnya mempertahankan power Amerika
Serikat demi kesuksesan diplomasi (Mubah : 2007). Sehingga, sebagai negara super power dan
aktor rasional AS tentu menggunakan kekuasaannya untuk tetap menjaga
hagemonynya agar tetap eksis. Dalam
kasus ini, yaitu melakukan intervensi
politik dengan memberikan bantuan dana dan militer terhadap pihak oposisi untuk
menggulingkan kekuasaan Hugo Chavez.
Oleh karena itu, penulis merekomendasikan
kebijkan bahwa :
Hendaknya Hugo Chavez juga memiliki
taktik dalam bentuk kebijakan yang mampu memberdayakan aparatnya untuk fokus mengkontrol pergerakan pihak
oposisi yang bebas dari intervensi AS. Selain
itu, seharusnya aparat pemerintah Venezuela mengeluarkan kebijakan yang dapat membendung atau memblocking AS dalam memberikan bantuan
yang sampai dilakukan bertahun-tahun seperti mendanai Capres saingan Hugo dan
mendanai media untuk memframing keburukan Hugo Chavez. Sehingga, propaganda penggulingan
dan penangkapan Hugo Chavez yang mengganggu jalannya pemerintahan dapat
teratasi bahkan tidak terjadi.
DAFTAR
PUSTAKA
Buku :
Soyomukti,Nurani.2008.
Revolusi Sandinista : Perjuangan Tanpa
Akhir Melawan Neo-Liberalisme.Jakarta : GARASI. Hlm. 38-40.
Soyomukti,
Nurani.2008. Hugo Chavez Vs Amerika
Serikat.Yogyakarta : Garasi. Hlm 30.
Prasetyo, Eko.2006. Inilah Presiden-Presiden Radikal. Yogyakarta: Resist Book. Parsons, Talcott, ―The Distribution of Power in
American Society‖, World Politics (Oktober, 1957).
Robert E.
Qurik.2006.Poros Setan: kisah Empat
Presiden Revolusioner.Yogyakarta:
PrismaSophie,2006.,hlm.191.
Internet :
Ambrose
Soren.2007. Journal : The decline
(&Fall) of IMF Or, Chronicle of an institutional death foretold.
Diakses melalui http://www.newunionism.net/library/internationalism/Ambrose%20-%20The%20Decline%20of%20the%20IMF%20-%202007.pdf tanggal 6 Januari 2014.
Comme Le Ven. 2008.
Youtube : Chavez UN Speech ; 'Bush is the
devil' and US imperialism 3/3. Diakses melalui https://www.youtube.com/watch?v=ciPH-Ke6FE8 tanggal 6
Januari 2014. Duration : 6:26.
De Lombaerde, Philippe and Luis
Jorge Garay. 2006. The New Regionalisme
in Latin America and The Role of US. Diakses melalui United Nations University.pdf tanggal 22 Desember 2014
Draitser, Eric.2014.Attacking Democracy : Chavez, the US and Destabilization of Venezuela.
Diakses melalui http://stopimperialism.org/articles/attacking-democracy-chavez-the-us-and-the-destabilization-of-venezuela/ tanggal
6 januari 2015.
Ferdiansyah, Benardy.2011.Skripsi : Kebijakan
Hugo Chavez di Venezuella dalam Melawan Hagemony Amerika Serikat. Diakses
melalui http://tulis.uinjkt.ac.id/opac/themes/katalog/detail.jsp?id=104469&lokasi=lokal
tanggal
22 Desember 2014
Fracisco Dominguez. ALBA: Latin America‘s Anti-Imperialist
Economic Project, dalam terbitan 6 st Socialism, diakses melalui http://www.21stcenturysocialism.com
tanggal 22 Desember 2014
Hikmatul
Akbar, Lulu.2012. Diakses melalui http://repository.upnyk.ac.id/8168/2/Hikmatul_Akbar_Sandiarti_Aliansi_Venezuela.pdf hal 20 Desember 2014.
Ken
Scipes,”NED fundings in Venezuela”, artikel diakses melalui http://www.venezuelafoia.info/ned-english.html
tanggal
20 Desember 2014.
Minster,
Christopher.2014. Hugo Chavez,
Venezuela’s Fribrand Dictactor. Diakses melalui http://latinamericanhistory.about.com/od/presidentsofsouthamerica/p/09HChavez.htm tanggal 20
Desember2014.
Nelson,
Brian .2013. Artikel : Hugo Rafael Chavez
Frias. Diakses melalui http://www.britannica.com/EBchecked/topic/108140/Hugo-Chavez tanggal 20 Desember
2014.
NRM
News.2012.Venezuela Tidak Berhutang pada
IMF dan Bank Dunia. Diakses melalui http://nrmnews.com/2012/11/19/venezuela-tidak-berhutang-pada-imf-maupun-bank-dunia/
tanggal 7 Januari 2014.
Sejarah
Republik Bolivarian Venezuela Dan Gerakan Kiri Baru.
repository.usu.ac.id/
bitstream/123456789/31570/.../Chapter%20II.pdf f tanggal 22 Desember 2014
Sumantri,
Arif.2013. In Memorian : Hugo Chavez.
Diakses melalui http://internasional.kompas.com/read/2013/03/07/02121926/In.Memoriam.Hugo.Chavez tanggal 7
januari 2015
Teriana Akbar Yuloh. Lingkaran Bolivarian: Analisis Terhadap
Gerakan Sosial Baru Di Venezuela Tahun 2001-2003.UPI, 2012. repository.upi.edu/ operator/upload/
s_sej_0704596_ chapter1.pd tanggal
22 Desember 2014
[1] Sejarah Republik Bolivarian Venezuela
Dan Gerakan Kiri Baru.
Diakses melalui repository.usu.ac.id/
bitstream/123456789/31570/.../Chapter%20II.pdf
[2] Benardy.2011.
Kebijakan Hugo Chavez di Venezuela dalam
Menghadapi Hagemony AS. Diakses melalui https://www.academia.edu/7718997/Kebijakan_Hugo_Chavez_
[5] Teriana
Yuloh. Lingkaran Bolivarian: Analisis
Terhadap Gerakan Sosial Baru Di Venezuela Tahun 2001-2003.UPI, 2012. repository.upi.edu/ operator/upload/
s_sej_0704596_ chapter1.pdf
[6] Eric
.2014.Attacking Democracy : Chavez, the
US and Destabilization of Venezuela. Diakses melalui http://stopimperialism.org/articles/attacking-democracy-chavez-the-us-and-the-destabilization-of-venezuela/
[7] Hikmatul,
Lulu.2012. Diakses melalui http://repository.upnyk.ac.id/8168/2/Hikmatul_Akbar_Sandiarti_Aliansi_Venezuela.pdf
[9] Ibid.,
[10] Ibid.,
[11] Ibid.,
[12] Brian.2013.
Artikel : Hugo Rafael Chavez Frias.
Diakses melalui http://www.britannica.com/EBchecked/topic/108140/Hugo-Chavez
[14] Minster.2014.
Hugo Chavez, Venezuela’s Fribrand
Dictactor. Diakses melalui http://latinamericanhistory.about.com/od/presidentsofsouthamerica/p/09HChavez.htm
[15] Ken
Scipes,”NED fundings in Venezuela”, artikel diakses melalui http://www.venezuelafoia.info/ned-english.html
[16] Prasetyo, Eko, Inilah Presiden-Presiden Radikal.
Yogyakarta: Resist Book, 2006. Parsons, Talcott, ―The Distribution of Power in
American Society‖, World Politics (Oktober, 1957).
[18] Ibid.,
[19] NRM
News.2012.Venezuela Tidak Berhutang pada
IMF dan Bank Dunia. Diakses melaluihttp://nrmnews.com/2012/11/19/venezuela-tidak-berhutang-pada-imf-maupun-bank-dunia/
[20]
Hikmatul, Lulu.2012. Diakses melalui
[21] Ibid.,
[22] Ibid.,
[23] Nurani
Soyomukti.2008. Revolusi Sandinista : Perjuangan
Tanpa Akhir Melawan Neo-Liberalisme.Jakarta : GARASI. Hlm. 38-40.
[24] Ibid.,
[25] Ibid.,
[26] Sumantri,
Arif.2013. In Memorian : Hugo Chavez.
Diakses melalui http://internasional.kompas.com/read/2013/03/07/02121926/In.Memoriam.Hugo.Chavez
tanggal
7 januari 2015.
[27] Ambrose
Soren.2007. Journal : The decline
(&Fall) of IMF Or, Chronicle of an institutional death foretold.
Diakses melalui http://www.newunionism.net/library/internationalism/Ambrose%20-%20The%20Decline%20of%20the%20IMF%20-%202007.pdf tanggal 6 Januari 2014.
[28] Fracisco
Dominguez.ALBA: Latin America‘s
Anti-Imperialist Economic Project, dalam terbitan 6 st Socialism, diakses
melalui http://www.21stcenturysocialism.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar