Minggu, 08 Februari 2015

Kebijakan “Anti Neo-liberal” Venezuela dalam Menghadapi Hagemony AS di era Kepemimpinan Hugo Chavez Pasca 1998

        Kebijakan “Anti Neo-liberal” Venezuela dalam Menghadapi Hagemony AS di  era  Kepemimpinan Hugo Chavez
Pasca 1998
Tugas UAS Mata Kuliah Analisa Politik Luar Negeri
                                Disusun Oleh   :  Annisa Ridhatul Khatimah
                                NIM                  :  135120400111045

                      Dosen Pembimbing  :  Achmad Fathoni Kurniawan S.IP, M.A




















FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
PRODI ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
      Salah satu peristiwa mengejutkan pada dekade awal tahun 2000-an adalah kemenangan kekuatan-kekuatan kiri melalui Pemilu Presiden di beberapa negara Amerika Latin.  Keberhasilan Daniel Ortegan (veteran pemimpin gerilyawan sandinista) untuk merebut kursi kepresidenan melalui pemilu di Nikaragua, kemenangan politik doktor ekonomi, Rafael Correa, dari sayap nasionalis kiri pada pemilu Presiden Ekuador dan keberhasilan pemimpin populis,Hugo Chavez, menjabat menjadi presiden kedua kalinya di Venezuela, semakin memantapkan konsolidasi kepemimpinan kelompok kiri dan gelombang pasang demokrasi popular pada 9 negara Amerika Latin[1]. 
                 Kemenangan pemimpin-pemimpin yang berhaluan sayap kiri tidak lain didorong oleh semangat kebangkitan mereka untuk menandingi kebijakan neo-liberal Amerika Serikat di kawasan Amerika Latin tersebut.  Hal itu dikarenakan, Pasca Perang Dingin, Amerika Serikat melakukan perluasan kebijakan ekonomi neo-liberalnya di seluruh dunia terutama kawasan Amerika Latin. AS menganggap bahwa Amerika Latin adalah halaman belakangnya melalui Doktrine Monroe. Namun, hal itu menimbulkan krisis ekonomi yang berkepanjangan seperti di Argentina, Venezuela dan lain-lain.
                Di Venezuela, awalnya kebijakan neo-liberal AS diberlakukan melalui kerjasama lembaga-lembaga internasional seperti International Monetary Fund (IMF) dan World Bank.  Kemudian, Venezuela memberlakukan reformasi ekonomi neoliberal untuk perusahaan asing.  Memang sangat menguntungkan bagi investasi asing di tengah iklim investasi global dan pasar bebas, tapi berbeda dengan posisi rakyat Venezuela yang semakin dilemahkan, dan terkena imbas buruknya. Sehingga, Presiden Carlos meminta bantuan kepada IMF sebesar 4,5 miliar dollar.  Namun, kebijakan ekonomi yang dilakukan AS tersebut gagal terlaksana di Venezuela dan bahkan  membuat Venezuela semakin  mengalami krisis ekonomi di akhir tahun 1980-an dan awal 1990-an[2].  
    Krisis ekonomi Venezuela dan kekecewaan politik masyarakat selama 40 tahun  membuat kehidupan politik di Venezuela sejak tahun 1999 mengambil perhatian negara-negara lain di dunia termasuk Amerika Serikat.  Venezuela dengan sosok seorang presiden yang pro terhadap rakyat telah mengubah kehidupan politik menjadi lebih hidup dimata rakyatnya.  Sosok tersebut ialah seorang presiden Hugo Chavez. Berkat sentuhan tangannya, kehidupan politik Venezuela pada saat itu mulai diperhitungkan oleh negara-negara lain[3].
     Hugo Chavez adalah seorang putra bangsa  Venezuela. Ia memiliki pengalaman sebagai revolusioner yang berpaham  sosialis ala Simon Boliviar, seorang tokoh revolusioner di Amerika Latin yang anti imprealisme.  Melalui kegigihannya, kebijakan luar negeri yang benuansa anti neo-liberal dikeluarkan.  Selaras juga dengan kebijakan domestiknya, ketika Chavez menjabat sebagai presiden , ia telah banyak melakukan perubahan ketatanegaraan di Venezuella salah satunya mengubah nama Republik Venezuela menjadi republik Bolivarian Venezuela.  Perubahan-perubahan yang ia lakukan mendapat sambutan hangat dari rakyatnya yang memang telah bosan dan tidak puas pada pemerintah yang berkuasa sebelum Chavez yang tidak begitu peduli terhadap rakyat Venezuela[4].
     Rupanya keberlangsungan politik di Venezuela pun erat kaitannya dengan kondisi ekonomi yang dimiliki oleh venezuela.  Negara tersebut memiliki kekayaan akan minyak bumi yang sangat berpotensi bagi kelayakan hidup rakyatnya.  Sehingga, ketika terjadi spekulasi melalui intervensi ekonomi perusahaan asing, sosok seorang pemimpin Hugo Chavez berusaha menunjukkan kepada dunia bahwa rakyat Venezuela dapat mandiri dalam kondisi ekonomi dengan cara yang cukup berani, yakni menaturalisasi perusahaan-perusahaan asing yang sedang berinvestasi di Venezuela[5].  Kemudian, dalam kebijakan luar negerinya, Chavez segera melunasi hutang-hutang Venezuela terhadap IMF dan World Bank.  Setelah hutang terlunasi, pemerintah Venezuela mengeluarkan kebijakan “Memutuskan Kerjasama dengan IMF dan World Bank” pada tahun 2007.  Kemudian, sebagai upayah persuasi Chavez untuk anti Amerika dan anti IMF dan World Bank, Chavez memprakarsai berdirinya ALBA dan dibangunnya South Bank sebagai Bank tandingan World Bank[6].
     Permasalahan kebijakan anti neo-liberal yang kompleks,  membuat penulis sangat tertarik untuk meneliti bagaimana kebijakan anti-neoliberal melalui  “Pemutusan  Hubungan Kerjasama dengan IMF dan World Bank” dikeluarkan oleh Venezuela dalam menghadapi hagemony AS pada pemerintahan Hugo Chavez tersebut. Teori yang penulis gunakan untuk menganalisis kebijakan Venezuela ini adalah teori “belief system” dan “domestic constraint foreign policy”.  Melalui Belief system penulis berusaha menjelaskan bagaimana sosok Hugo Chavez dengan nilai-nilai Bolivarian yang ia dapat sebelumnya dalam mempengaruhi pembuatan kebijakan anti neo-liberal ini, dan melalui domestic constraint foreign policy, penulis mencoba menjelaskan bagaimana dukungan rakyat  mulai dari pemilihan presiden yang memenangkan Chavez hingga mendukung kebijakan-kebijakan Chavez yang anti neo-liberal AS.

1.2    Rumusan Masalah
1.    Mengapa kebijakan Venezuela bercirikan anti neoliberal pada masa kepemimpinan Hugo Chavez ?
2.    Bagaimana  kebijakan Venezuela yang bercirikan anti neoliberal dalam menghadapi hagemony AS pada masa Hugo Chavez  jika dianalisis menggunakan konsep “Belief  System” ?
3.    Bagaimana  kebijakan Venezuela yang bercirikan anti neoliberal dalam menghadapi hagemony AS pada masa Hugo Chavez  jika dianalisis menggunakan konsep “Domestic Constraint Foreign Policy” ?

1.3    Tujuan
1.    Menjelaskan mengapa kebijakan Venezuela bercirikan anti neoliberal pada masa kepemimpinan Hugo Chavez
2.    Menjelaskan kebijakan Venezuela yang bercirikan anti neoliberal dalam menghadapi hagemony AS pada masa Hugo Chavez  jika dianalisis menggunakan konsep “Belief  System”
3.    Menjelaskan  kebijakan Venezuela yang bercirikan anti neoliberal dalam menghadapi hagemony AS pada masa Hugo Chavez  jika dianalisis menggunakan konsep “Domestic Constraint Foreign Policy”
                                                                                    












    BAB II
                                                  PEMBAHASAN

2.1  Kerangka Konseptual : Faktor dikeluarkannya Kebijakan “anti neoliberal”           
               Sebelum Hugo Chavez menjadi presiden, AS melakukan perluasan kebijakan ekonomi neoliberalnya di Amerika Latin termasuk Venezuela melalui lembaga-lembaga internasional seperti International Monetary Fund (IMF) dan World Bank.  Pada tahun 1980, Presiden Venezuela, Carlos Perez, membuat perjanjian melalui “Washington Consensus”, untuk menerapkan program IMF di Venezuela melalui SAP (Structural Adjusment Program). SAP adalah paket kebijakan standar yang ditentukan oleh lembaga keuangan internasional untuk setiap negara di kawasan selatan. Pencabutan subsidi publik, privatisasi, deregulasi serta kebijakan pro pasar bebas lainnya adalah program utama dari lembaga keuangan tersebut. Kepentingan-kepentingan tersebut sangat menguntungkan perusahaan-perusahaan multinasional dalam memapankan jalannya memasuki negara-negara dunia ketiga seperti Venezuela serta mengeksploitasi penduduk negara tersebut sebagai pekerjanya[7].
                Akibat program-progam IMF dan World Bank, Venezuela mengalami krisis ekonomi di akhir tahun 1980-an dan awal 1990-an.  Sehingga, Presiden Carlos melalui negosiasi persetujuan struktural meminta bantuan kepada IMF sebesar 4,5 miliar dollar[8]. 
Selanjutnya, hubungan kerjasama antara Venezuela dengan IMF juga berlangsung kembali pada masa pemeritahan Rafael Caldera di tahun 1994.  Atas persetujuan IMF, Venezuela pada masa pemerintahan Rafael memperoleh pinjaman keuangan sebesar 1,5milliar.  Sementara, bunga hutang IMF semakin meningkat dan Venezuela harus memberlakukan kebijakan yang bersumber dari program-program IMF.  Sehingga, perekonomian Venezuela tetap mengalami kegagalan untuk bangkit.  Program IMF yang telah dijalankan oleh presiden-presiden sebelum Chavez mewarisi masyarakat Venezuela mendapatkan ketimpangan ekonomi antara kelompok kaya dan rakyat miskin.  Daniel Hellinger mengutip sebuah statistik yang mengungkapkan bahwa persentase penduduk yang hidup dibawah garis kemiskinan meningkat dari 36% di tahun 1984 menjadi 66% di tahun 1995.  Sedangkan, persentase tenaga kerja yang bekerja di sektor ekonomi informal yang tidak stabil meningkat dari 34,5% pada tahun 1980 menjadi 53% pada tahun 1999[9].
               Atas krisis yang melanda Venezuela, ribuan orang turun ke jalan untuk melakukan protes terhadap pemerintah.  Bentrokan dengan polisi pun tidak bisa dihindarkan dan banyak korban berjatuhan.  Peristiwa ini dikenal dengan El Caracazo, ledakan kemarahan rakyat saat terjadi kenaikan harga minyak, ditumpas oleh tentara.  Menurut data organisasi HAM, kurang lebih 500 orang tewas terbunuh.  Negara dikepung oleh militer dan jam malam diberlakukan di beberapa kota di Venezuela.Akibat krisis tersebut membuat perubahan opini publik di sebagian besar rakyat venezuela.  Mereka tidak lagi mempercayai pemimpin yang menjadi budak kepentingan AS di Venezuela.  Dalam hal ini pemimpin yang tergiur dengan bantuan AS dengan kebijakan IMF nya[10].
   Kemudian, Rakyat Venezuela mulai mengenal Chavez saat terjadi pemberontakan militer yang dipimpin oleh Hugo Chavez pada tanggal 4 Februari 1992.  Setelah Presiden Carlos melarikan diri, Hugo Chavez mencalonkan diri menjadi Presiden. Segera setelah Hugo Chavez menjabat sebagai presiden tahun 1998, kebijakan anti-neoliberal muncul di Venezuela.   Melalui program Revolusi Bolivariannya, Chavez membuat kebijakan-kebijakan yang bercirikan anti neoliberal. Chavez berani menentang kebijakan-kebijakan yang diterapkan oleh AS salah satunya adalah penolakan Chavez atas IMF dan World Bank[11].

2.2   Analisis kebijakan “anti neo-liberal” Venezuela terhadap AS
1.      Belief System
                       Bagan : Konsep Belief System
Nilai (Value) : Kegigihan seorang Hugo Chavez dalam melawan neo-liberal AS dapat dilihat dari latar belakang pendidikannya. Hugo Chavez merupakan seorang mantan letnan kolonel militer, dan telah bergabung selama 17 tahun di Akademi Miiter. 
 Chavez juga kuliah di venezuela Academ, disanalah ia mengembangkan gaya perkuliahan yang kuat. Selama kuliah, Chavez mulai membangun kritik keras terhadap pemerintah Venezuela dan struktur sosial.  Selain itu, pergerakannya didasarkan pada filosofi dan ideologi dari Simon Bolivar, yang merupakan seorang jenderal abad ke-19 yang memimpin perang melawan pemerintahan spanyol dan  ia adalah seorang pembebas besar di Amerika Latin. Simon Boliviar berusaha untuk menyatukan kawasan Amerika Latin agar menjadi kekuatan besar melawan kekuatan kapitalisme. Dan Chavez berusaha untuk menerapkan ide-ide serupa dengan mendorong penyatuan politik di kawasan Amerika Latin melalui penciptaan kawasan yang berdaulat dan blok ekonomi yang kuat[12].
Nilai-nilai “Boliviar” yang kerap disebut Revolusi Bolivarian sebagai anti neoliberal sudah sangat tertanam dalam diri Chavez.  Hal itu membuat Chavez semakin gigih melakukan perlawanan yang  didasarkan atas dasar-dasar politik luar negeri Venezuela yang Non-Blok (Non-Alignment), yaitu penghapusan kolonialisme dan imperialisme, hak bangsa untuk menentukan nasib sendiri, dan non intervensi. Dasar-dasar politik luar negeri tersebut mencerminkan Venezuela yang anti kolonialisme dan imperialisme dimana  Amerika Serikat sebagai negara imperialisme utama[13].  Kerjasama dan penerapan kebijakan domestik yang condong ke kiri seperti menjalin kerjasama ekonomi dengan Rusia dan China juga dilatarbelakangi  oleh pengalaman Hugo Chavez itu sendiri.  Presiden Hugo Chavez juga tertarik pada revolusioner Marxis Che Guevara (1928-1967) setelah membaca “The Diary Che Guevara”, meskipun juga membaca buku-buku karya tokoh lain, dari Karl Marx untuk Hannibal dan Napoleon Bonaparte[14].
  Pengalaman sebagai letnal kolonel  militer juga menjadi faktor yang membuat Hugo Chavez tetap berani melawan AS. Sampai-sampai, sebelum menjadi presiden, ia mendirikan organisasi rahasia Revolutionary Bolivarian Movement-200 (MBR-200) pada awal 1980-an yang bertujuan menggulingkan pemerintahan.  Pada saat terpilih menjadi presiden pun, ia tetap menunjukan eksistensinya yang legitimate di kalangan rakyat meskipun sejak awal diserang terus oleh kelompok oposisi yang dibantu AS. Terbukti bahwa seiring kebijakan-kebijakan Chavez yang selalu menentang kepentingan AS, maka AS pun tidak tinggal diam[15]. 
Salah satu contoh, cara yang dilakukan AS untuk mengisolasi pemerintahan Chavez adalah dengan melakukan intervensi politik dan militer.  Program intervensi politik AS melibatkan luas pemerintahan, NGO, institusi finansial, agen multilateral, dan perusahaan swasta.  Program intervensi tersebut yaitu pendanaan Amerika Serikat terhadap kelompok oposisi di Venezuela.  Partai-partai oposisi seperti “Primero Justica”, AD, dan MAS telah lama berdiskusi untuk melakukan suatu strategi politik yaitu menghasilakn suatu kandidat, agar dapat menampilkan figur yang dapat digunakan untuk menandingi Hugo Chavez[16].  Sedangkan melalui intervensi militer, pemerintah AS dibawah perintah Bush Jr mencoba membantu pelatihan terhadap para militer yang beroposisi terhadap Chavez.  Setelah didanai, maka pada tanggal 11 April 2002, partai CTV, Fedecamaras dan partai-partai lainnya menggelar demonstrasi besar-besaran untuk menggulingkan Hugo Chavez[17].
Tabel 1. Pendanaan Politik Amerika Serikat untuk “Promosi Demokrasi” di Venezuela[18]
Tahun
NED (dalam US$)
USAID (dalam US$)
2000
232.831
-
2001
877.435
-
2002
1.698.799
2.197.006
2003
1.046.321
8.903.669
2004
874.384
6.345.000
2005
930.274
5.000.000
Total NED dan USAID

25.175.505
Ket.  NED (National Endwment for Democracy)
        USAID (United States Agency for International Development)

2.       Analisis Kebijakan anti neo-liberal Venezuela melalui “Domestic Constrain Foreign Policy”                  
  

Politik luar negeri (foreign policy) merupakan pantulan dari politik dalam negeri. Kebijakan anti neoliberalisme melalui pemutusan hubungan dengan IMF dan World Bank  tidak terlepas dari dinamika politik dalam negeri Venezuela. Kebijakan tersebut memiliki dua dimensi yaitu dimensi domestik dan dimensi internasional.
(Gambar : Presiden Hugo Chavez di tengah Kerumunan Masyarakat[19])
Hal ini terkait dengan kondisi perekonomian di Venezuela. Sebelum Chavez memimpin, kondisi perekonomian berada pada kondisi yang buruk dan banyak rakyat tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup mereka.

1.    Peran Masyarakat terutama Masyarakat Miskin
        Dukungan dari rakyat miskin terhadap Chavez semakin melonjak.  Hal itu berkaitan dengan  Konstitusi Bolivarian 1999 yang menjadi roda utama Hugo Chavez. Misi pemerintahan Chavez pun didedikasikan untuk meningkatkan akses pada pelayanan kesehatan, pendidikan, jaminan sosial, dan pangan. Serta lahan untuk sektor termiskin dalam masyarakat. Selain itu, dukungan rakyat didapat dari pendidikan politik terhadap masyarakat kecil yang sangat intens, sehingga masyarakat sadar politik dan mengetahui isi Undang-undang Venezuela lewat buku kecil undang-undang yang dibagikan pemerintag.  Berkaitan dengan hal itu, maka dampaknya menjadikan rakyat tidak mudah dibodohi dan diprovokasi terutama provokasi kelompok oposisi[20]. 
        Kemudian, Kemenangan Presiden Hugo Chaves ke-dua kalinya pada pemilu 2006 dan Referendum tahun 2004 pun berhasil dimenangkan oleh pendukung Chavez menjadi bukti bahwa rakyat masih menginginkan tokoh yang anti dominasi Amerika Serikat ini untuk menjadi pemimpinnya.  Dan ketika  ia digulingkan oleh keompok oposisi, ribuan orang melakukan unjuk rasa agar Chavez dikukuhkan kembali menjadi presiden. Hugo Chavez memang memiliki legitimasi yang kuat dimata rakyat, karena telah dianggap membawa berbagai macam kebijakan yang membawa banyak perubahan bagi rakyat.  Sehingga, baik kebijakan domestik maupun kebijakan luar negeri chavez yang bercirikan anti neoliberalisme tetap setia didukung[21].   
2.      Peran Partai Politik[22]
      Meskipun banyak partai-partai politik yang menjadi oposisi pemerintahan Hugo Chavez tapi partai pendukung Chavez “MVR” atau Movement for Venezuela Reformation tetap eksis berjuang.  Partai yang dibawah naungan Chavez tersebut jika dilihat dari sejarahnya, menjadi  sebagai Gerakan Republik Kelima dan menjalani transisi dari dunia tentara ke dunia politikus.  Chavez yang memimpin koalisi Patriotic Pole berhaluan kiri ini secara jelas menegaskan, mengikuti jejak tokoh legendaris Argentina (Jenderal Juan Peron) yang dipandang sangat peduli pada kesejahteraan rakyat, keadilan sosial, dan persamaan hak.  Melalui visi misi tersebut, pembuktian yang nyata oleh Chavez dan kampanye MVR itu lah yang mengantarkan Chavez dan Partainya menggapai keberhasilan kemenangan oleh rakyat.

Tabel. 2 Perolehan Jumlah Suara Pemilihan Presiden Venezuela
Nama
Suara
Persentase
Hugo Chavez
3.673.685
56.20%
Herrique Salas
2.613.161
39.97%
Pemilih
6.988.291
63.76%
Abstain
3.971.239
36.24%

3.      Peran Media dalam Mempengaruhi Perhatian dan Opini Publik
a.    Media sebagai penyalur kepentingan oposisi
                 Mayoritas media di venezuela dimiliki oleh swasta yang kebanyakan punya afiliasi ideologis dan kepentingan politik kelompok oposisi.  Berkaitan dengan pemilu Desember 2006, empat televisi utama melakukan penyiaran secara terbuka yaitu Venevision, RCTV, televen, dan Globalvision. Yang terakhir adalah TV baru yang siarannya selama 24 jam, sedangkan yang lainnya lebih banyak menayangkan hiburan.  Sedangkan tiga surat kabar utama adalah Ultimas Naticans, yang paling banyak dibaca di Venezuella, El Nacional, dan El Universal, keduanya selalu mengkritisi Presiden Hugo Chavez. Sedangkan radio yang jangkauannya ke seluruh negara adalah Union Radio.  Pemerintah memiliki channel TV Venezolana de Television (VTV), TV Pendidikan Vive TV, dan Telesur, Channel TV yang siarannya selama 24 jam merupakan TV yang menjangkau seluruh Amerika Selatan dan Radio Nacional de Venezuela[23].
  Di Global Vision, pencalonan Manuel Rosales medapatkan 80% pemberitaan, dan 35% untuk Hugo Chavez, itupun dengan nada yang sangat negatif.  Di RCTV, Koalisi Unidad mendapatkan penayangan sebesar 69% yang secara umum positif.  Sedangkan Chavez mendapatkan 29% yang setengah darinya bernuansa negatif.  Siaran-siaran lainnya di radio dan surat kabar juga menunjukkan kecenderungan yang sama.  Media memiliki kecenderungan afiliatif terhadap calon tertentu, meskipun telah ada aturan yang menghendaki penyiaran kampanye secara berimbang dan objektif[24].
  Chavez dan para pendukungnya tentu saja tetap bekerja keras untuk mengalahkan oposisi dan elite bisnis yang berusaha merebut kekuasaan dengan jalan demokratis lewat pemilu.  Sebagaimana dalam pemilu-pemilu sebelumnya, titik tekan kampanye Hugo Chavez adalah melanjutkan program-program sosial untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Venezuela. 
b.    Media sebagai penyalur kepentingan Pemerintah
Pemanfaat radio oleh Chavez :
Presiden Hugo Chavez menegakkan demokrasi partisipatoris di Venezuela, ia secara rutin muncul dalam program radio khusus yang disebut Alo Presidente (Hallo President) untuk menjawab pertanyaan dari rakyat secara langsung lewat telepon interaktif.  Ia juga aktif dalam memberikan pidato dan penerangan atas kebijakan politiknya baik domestik maupun luar negeri lewat Channel, Program TV negara di Venezuela[25].
Selain itu, Di AS, Venezuela memasang iklan Citgo, perusahaan minyak milik Venezuela. Iklan tersebut menyatakan bahwa rumah tangga di AS telah menerima subsidi minyak pemanas sebagai ”hadiah” dari rakyat Venezuela[26]. 
Disini terlihat bahwa media yang dalam kasus ini Radio dan TV dapat membantu memframing pandangan masyarakat untuk tetap menerima positifnya kebijkan pemerintah.  Disamping program-program TV Venezuela yang banyak memperjuangkan kepentingan oposisi, Chavez masih dapat memanfaatkan Radio untuk berkampanye danmendapatkan citra positif masyarakat.  TV di AS, dimanfaatkan oleh Venezuela memframing isu yang diharapkan membuat opini masyarakat AS  terhadap Venezulea bahwa Venezuela tidak lagi bergantung dengan AS.

2.3  Output (Kebijakan)
     Nilai-nilai boliviar dan pengalaman sebagai letnan kolonel militer lah  yang membuat Hugo Chavez mengeluarkan kebijakan yang bercirikan anti neo-liberal.  Salah satu kebijakan yang penulis teliti adalah kebijakan  “Memutuskan  Kerjasama dengan IMF dan World Bank”.  Dimana IMF dan World Bank dinilai sebagai lingkaran setan yang jika tidak keluar dari lingkaran tersebut akan membuat negara semakin menderita.  Ditambah dengan pengalaman pahit krisis ekonomi  akibat program-programnya semakin membuat Hugo Chavez percaya bahwa negaranya bisa berdiri tanpa bantuan IMF dan World Bank.  Chavez telah melunasi seluruh hutang Venezuela kepada IMF pada tahun 1999 kemudian dilanjutkan melunasi seluruh hutang pada Bank Dunia pada tahun 2007. Secara resmi, Venezuela kemudian menarik diri dari kedua lembaga keuangan internasional itu pada tanggal 30 April 2007[27].  Kemudian, kantor IMF di Veneuela ditutup. Hal ini dinyatakan oleh Presiden Venezuela Hugo Chavez dalam pidatonya di sebuah televisi swasta Venezuela. “Saya ingin memformalkan pernyataan keluarnya kami dari Bank Dunia dan IMF. Kami memutuskan untuk menarik diri dari Bank Dunia dan IMF sebelum semakin merugikan Venezuela lagi.” ujar Chavez. Secara lengkap dalam bahasa aslinya hal itu dinyatakan sebagai berikut:
"Yo quiero formalizar la salida del Banco Mundial y del Fondo Monetario Internacional y de todo eso. Ya no nos hace falta estar y tener un representante allá, vamos a salirnos, no queremos ni estar allí, y que nos devuelvan los reales [dinero], más bien, porque ahora nos deben", dijo Chávez.
      Lalu,melalui semangat “Revolusi Bolivarian”, untuk menandingi kekuasaan World Bank dan IMF di Amerika Latin, Hugo Chavez memprakarsai pendirian “South Bank” sebagai pendanaan untuk kesejahteraan masyarakat dan perwujudan kawasan Amerika Latin yang lebih maju tanpa belengguh kapitalisme Amerika Serikat.  Selain itu,  Chavez juga telah memprakarsai pendirian kerjasama regional Alternativa Bolivariana para las America (ALBA) yang dideklarasikan di Ibu Kota Kuba, Havana, 28 April 2005[28].  ALBA dijadikan  sebagai alat politik kebijakan luar negeri Venezuela untuk menyalurkan kebijakan luar negerinya yang anti neo-liberal dalam mempengaruhi  negara-negara Amerika Latin yang masih memiliki hutang dan bekerjasama dengan IMF dan World Bank agar ikut keluar dari jeratan IMF dan World Bank yang berbalutkan neo-kolonialisme dan ekonomi pasar tersebut.
    Memang, pendirian ALBA dilatarbelakangi dengan ketidaksetujuan Hugo Chavez dengan ditandangani FTAA yang disponsori Washington. Chavez berpengaruh dalam menggagalkan  rencana-rencana yang sejak lama dipupuk oleh Bush untuk mendirikan FTAA pada 2005.  Tujuan dari ALBA ini adalah membangun masa depan Amerika Latin yang sejahtera dan menghancurkan ketidaksetaraan sosial dan menjadikan wilayah ini sebagai kekuatan yang mampu menjalankan model perekonomian sendiri di tengah globalisasi melalui strategi ekonomi, politik, sosial dan budaya yang ada ki kawasan Amerika Latin[29].
  Melalui ALBA, selaras dengan kepentingan domestiknya yaitu mengutamakan program sosial, dan selaras dengan kebijakan luar negerinya “Memutuskan Hubungan Kerjasama dengan IMF dan World Bank”, Hugo Chavez memberikan bantuan ekonomi kepada  negara-negara anggota ALBA. Sehingga negara anggota ALBA tidak hanya terus bergantung dengan bantuan IMF dan World Bank dan dapat segera melunasi hutang-hutangya.
Negara Tujuan
Jumlah
Kuba
18.776
Bolivia
6.724
Nikaragua
5.523
ALBA Bank
1350
Haiti
440
Honduras
130
Dominika
8

Tabel 3. Bantuan Dana yang ditujukan oleh Venezuela ke negara-negara ALBA (dalam jumlah juta dollar AS)[30]
 Bantuan ekonomi dan pengaruh Chavez tersebut                dapat dirasakan di tingkat rakyat maupun diplomatik. Ia telah menjadi pahlawan bagi jutaan rakyat Amerika Latin yang tak diistimewakan, yang mengagumi keberaniannya dan dengan cermat mencatat keberhasilan-keberhasilan politiknya.





























BAB III
PENUTUP

3.1    Kesimpulan
                Berdasarkan pembahasan dan analisis yang telah dipaparkan, maka penulis menyimpulkan :
1.    Krisis ekonomi yang berkepanjangan akibat kebijakan ekonomi neo-liberal AS di Venezuela menjadi alasan bagi Presiden Hugo Chavez dalam  memerangi AS melalui kebijakan anti neo-liberal AS. 
2.    Hugo Chavez dengan latar belakang pendidikan sebagai murid seorang revolusioner anti neo-liberal,Simon Boliviar, dan sebagai letnan kolonel militer menjadikan Chavez sebagai pemimpin yang benar-benar berani menentang hagemony AS di Venezuela.    Terbukti dengan kebijakan domestik yang dikeluarkan seperti menaturalisasi perusahaan asing terutama perusahaan AS hingga kebijakan luar negeri “Memutus hubungan kerjasama dengan IMF dan World Bank”.
3.    Sementara, masyarakat Venezuela tetap setia mendukung Hugo Chavez hingga terpilih kembali untuk kedua kalinya.  Hal itu dikarenakan kebijakan anti neo-liberal yang digagas Hugo Chavez semakin membawa perekonomian Venezuela menjadi lebih baik.

3.2    Saran (Rekomendasi Kebijakan)
        Setelah membahas dan menganalisis kebijakan “anti-neoliberalisme” Venezuela terhadap AS, penulis mencermati bahwa :
                 Berdasarkan pendekatan realisme, meskipun Venezuela telah mampu membendung intervensi AS melalui kebijakannya yang anti neo-liberal, tapi perlu dicermati bahwa intervensi AS tidak hanya sebatas pemberlakuan perusahaan asing dan penawaran IMF dan World Bank.  Dimana Amerika Serikat yang berprespektif realisme menekankan pada pentingnya mempertahankan power Amerika Serikat demi kesuksesan diplomasi (Mubah : 2007).   Sehingga, sebagai negara super power dan aktor rasional AS tentu menggunakan kekuasaannya untuk tetap menjaga hagemonynya agar tetap eksis.  Dalam kasus ini, yaitu  melakukan intervensi politik dengan memberikan bantuan dana dan militer terhadap pihak oposisi untuk menggulingkan kekuasaan Hugo Chavez. 
            Oleh karena itu, penulis merekomendasikan kebijkan bahwa :
            Hendaknya Hugo Chavez juga memiliki taktik dalam bentuk kebijakan  yang  mampu memberdayakan aparatnya  untuk fokus mengkontrol pergerakan pihak oposisi yang bebas dari intervensi AS.  Selain itu, seharusnya aparat pemerintah Venezuela mengeluarkan kebijakan  yang dapat membendung atau memblocking AS dalam memberikan bantuan yang sampai dilakukan bertahun-tahun seperti mendanai Capres saingan Hugo dan mendanai media untuk memframing keburukan Hugo Chavez. Sehingga, propaganda penggulingan dan penangkapan Hugo Chavez yang mengganggu jalannya pemerintahan dapat teratasi bahkan tidak terjadi.





























DAFTAR PUSTAKA
Buku :
Soyomukti,Nurani.2008. Revolusi Sandinista : Perjuangan Tanpa Akhir Melawan Neo-Liberalisme.Jakarta : GARASI. Hlm. 38-40.

Soyomukti, Nurani.2008. Hugo Chavez Vs Amerika Serikat.Yogyakarta : Garasi. Hlm 30.

Prasetyo, Eko.2006. Inilah Presiden-Presiden Radikal. Yogyakarta: Resist Book. Parsons, Talcott, ―The Distribution of Power in American Society‖, World Politics (Oktober, 1957).
                               
Robert E. Qurik.2006.Poros Setan: kisah Empat Presiden Revolusioner.Yogyakarta:
              PrismaSophie,2006.,hlm.191.          

Internet :
Ambrose Soren.2007. Journal : The decline (&Fall) of IMF Or, Chronicle of an institutional death foretold. Diakses melalui http://www.newunionism.net/library/internationalism/Ambrose%20-%20The%20Decline%20of%20the%20IMF%20-%202007.pdf tanggal 6 Januari 2014.

Comme Le Ven. 2008. Youtube : Chavez UN Speech ; 'Bush is the devil' and US imperialism 3/3. Diakses melalui https://www.youtube.com/watch?v=ciPH-Ke6FE8 tanggal 6 Januari 2014. Duration : 6:26.

De Lombaerde, Philippe and Luis Jorge Garay. 2006. The New Regionalisme in Latin America and The Role of US. Diakses melalui United Nations University.pdf tanggal 22 Desember 2014
Draitser, Eric.2014.Attacking Democracy : Chavez, the US and Destabilization of Venezuela. Diakses melalui http://stopimperialism.org/articles/attacking-democracy-chavez-the-us-and-the-destabilization-of-venezuela/ tanggal 6 januari 2015.
Ferdiansyah, Benardy.2011.Skripsi : Kebijakan Hugo Chavez di Venezuella dalam Melawan Hagemony Amerika Serikat. Diakses melalui http://tulis.uinjkt.ac.id/opac/themes/katalog/detail.jsp?id=104469&lokasi=lokal tanggal 22 Desember 2014
Fracisco Dominguez. ALBA: Latin America‘s Anti-Imperialist Economic Project, dalam terbitan 6 st Socialism, diakses melalui http://www.21stcenturysocialism.com tanggal 22 Desember 2014

Hikmatul Akbar, Lulu.2012. Diakses melalui http://repository.upnyk.ac.id/8168/2/Hikmatul_Akbar_Sandiarti_Aliansi_Venezuela.pdf  hal 20 Desember 2014.

Ken Scipes,”NED fundings in Venezuela”, artikel diakses melalui http://www.venezuelafoia.info/ned-english.html tanggal 20 Desember 2014.
Minster, Christopher.2014. Hugo Chavez, Venezuela’s Fribrand Dictactor. Diakses melalui http://latinamericanhistory.about.com/od/presidentsofsouthamerica/p/09HChavez.htm tanggal 20 Desember2014.

Nelson, Brian .2013. Artikel : Hugo Rafael Chavez Frias. Diakses melalui http://www.britannica.com/EBchecked/topic/108140/Hugo-Chavez tanggal 20 Desember 2014.

NRM News.2012.Venezuela Tidak Berhutang pada IMF dan Bank Dunia. Diakses melalui http://nrmnews.com/2012/11/19/venezuela-tidak-berhutang-pada-imf-maupun-bank-dunia/ tanggal 7 Januari 2014.
Sejarah Republik Bolivarian Venezuela Dan Gerakan Kiri Baru. repository.usu.ac.id/ bitstream/123456789/31570/.../Chapter%20II.pdf f tanggal 22 Desember 2014
Sumantri, Arif.2013. In Memorian : Hugo Chavez. Diakses melalui http://internasional.kompas.com/read/2013/03/07/02121926/In.Memoriam.Hugo.Chavez tanggal 7 januari 2015
Teriana Akbar Yuloh. Lingkaran Bolivarian: Analisis Terhadap Gerakan Sosial Baru Di Venezuela Tahun 2001-2003.UPI, 2012. repository.upi.edu/ operator/upload/ s_sej_0704596_ chapter1.pd  tanggal 22 Desember 2014



[1] Sejarah Republik Bolivarian Venezuela Dan Gerakan Kiri Baru. Diakses melalui repository.usu.ac.id/ bitstream/123456789/31570/.../Chapter%20II.pdf
[2] Benardy.2011. Kebijakan Hugo Chavez di Venezuela dalam Menghadapi Hagemony AS. Diakses melalui https://www.academia.edu/7718997/Kebijakan_Hugo_Chavez_
[3] Benardy.Op.Cit.,
[4] Soyomukti, Nurani.2008. Hugo Chavez Vs Amerika Serikat.Yogyakarta : Garasi, hal 30.
[5] Teriana Yuloh. Lingkaran Bolivarian: Analisis Terhadap Gerakan Sosial Baru Di Venezuela Tahun 2001-2003.UPI, 2012. repository.upi.edu/ operator/upload/ s_sej_0704596_ chapter1.pdf
[6] Eric .2014.Attacking Democracy : Chavez, the US and Destabilization of Venezuela. Diakses melalui http://stopimperialism.org/articles/attacking-democracy-chavez-the-us-and-the-destabilization-of-venezuela/
[8] Ibid.,
[9] Ibid.,
[10] Ibid.,
[11] Ibid.,
[12] Brian.2013. Artikel : Hugo Rafael Chavez Frias. Diakses melalui http://www.britannica.com/EBchecked/topic/108140/Hugo-Chavez
[13] Benardy.2011.Loc.Cit.,
[14] Minster.2014. Hugo Chavez, Venezuela’s Fribrand Dictactor. Diakses melalui http://latinamericanhistory.about.com/od/presidentsofsouthamerica/p/09HChavez.htm
[15] Ken Scipes,”NED fundings in Venezuela”, artikel diakses melalui http://www.venezuelafoia.info/ned-english.html
[16] Prasetyo, Eko, Inilah Presiden-Presiden Radikal. Yogyakarta: Resist Book, 2006. Parsons, Talcott, ―The Distribution of Power in American Society‖, World Politics (Oktober, 1957).
[17] Ken Scipes.Opcit,
[18] Ibid.,
[19] NRM News.2012.Venezuela Tidak Berhutang pada IMF dan Bank Dunia. Diakses melaluihttp://nrmnews.com/2012/11/19/venezuela-tidak-berhutang-pada-imf-maupun-bank-dunia/
[21] Ibid.,
[22] Ibid.,
[23] Nurani Soyomukti.2008. Revolusi Sandinista : Perjuangan Tanpa Akhir Melawan Neo-Liberalisme.Jakarta : GARASI. Hlm. 38-40.
[24] Ibid.,
[25] Ibid.,
[26] Sumantri, Arif.2013. In Memorian : Hugo Chavez. Diakses melalui http://internasional.kompas.com/read/2013/03/07/02121926/In.Memoriam.Hugo.Chavez tanggal 7 januari 2015.
[27] Ambrose Soren.2007. Journal : The decline (&Fall) of IMF Or, Chronicle of an institutional death foretold. Diakses melalui http://www.newunionism.net/library/internationalism/Ambrose%20-%20The%20Decline%20of%20the%20IMF%20-%202007.pdf tanggal 6 Januari 2014.
[28] Fracisco Dominguez.ALBA: Latin America‘s Anti-Imperialist Economic Project, dalam terbitan 6 st Socialism, diakses melalui http://www.21stcenturysocialism.com 
[29] Fracico.Op.Cit.,
[30] Ibid.,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar