BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Isu
terorisme merupakan isu kontemporer yang masih sering melanda sistem
internasional dan kerap dibahas dalam agenda pertemuan multilateral
negara-negara. Saat ini, isu terorisme memang sudah menjadi produk Internasional
yang meresahkan masyarakat dunia. Hal itu dikarenakan keberadaannya yang
mengancam keamanan dunia internasional. Sesuai dengan arti katanya, kata terror berasal dari bahasa latin terrere yang kurang lebih diartikan
sebagai kegiatan atau tindakan yang dapat menyebabkan pihak lain ketakutan
(Hakim 2004: 9). Sementara, dalam The National Security of the United State of
America (NSS-USA) yang dikeluarkan pada september 2002, pemerintah Amerika
Serikat mendefinisikan terorisme sebagai “premeditated,
political motivated violence against innocents”. Hal ini berarti bahwa menurut pandangan
Amerika Serikat, kegiatan terorisme merupakan suatu kejahatan yang telah
dirancang dengan sedemikian rupa dengan motivasi politik dan menyerang warga
sipil[1].
Di tingkat global, terorisme diartikan
sebagai tindakan yang tidak mengenal perbatasan dan bahayanya dapat
mempengaruhi beberapa negara. Kelompok terorisme menyerang aspek fisik negara (teritroy dan penduduknya) sekaligus
aspek non-fisik (legitimasi politik dan monopoli akan penggunaan kekerasan yang
sedianya dimiliki negara)[2]. Tidak hanya itu, permasalahan terorisme telah
mengancam dimensi ekonomi, sosial dan masa depan pemerintah negara-negara serta
mengancam perwujudan perdamaian dan keamanan inrenasional.
Kemudian, isu terorisme dalam
konstruktivisme sosial sangat kerap diidentikkan dengan aksi yang dilakukan
oleh kelompok militan atau radikal. Kelompok-kelompok tersebut lahir di kawasan
Arab Spring dan Timur Tengah, contohnya Al-Qaedah sejak tahun 1895. Kemudian,
sejak peristiwa 11 September 2001, kekhawatiran dunia akan terorisme internasional
terus meningkat. Terkait pengeboman itu, Al-Qaedah mengaku bahwa mereka yang
melancarkan aksi terornya. Hal itulah yang menyebabkan masyarakat dunia
terutama Amerika Serikat mengecam keberadaannya dan mengkampanyekan anti
terorisme di dunia internasional. Presiden George W Bush Jr. mengatakan
komitmennya (AS) untuk membersihkan dunia dari kejahatan “evil”, dimana “evil”
yang dimaksud merujuk kepada terorisme. Lebih lengkapnya,
“Just
three days removed from these events, Americans do not yet have the distance of
history. But our responsibility to
history is already clear: to answer these attacks and rid the world of evil. War has been waged against us by stealth and
deceit and murder. This notion is
peaceful, but fierce when stirred to anger.
The conflict was begun on the timing and terms of others. It will end in a way, and at an hour, of
choosing”[3].
Kemudian, bom Bali yang terjadi di
Indonesia juga ikut memancing masyarakat internasional semakin resah[4].
Setelah
tumbangnya Al-Qedah beberapa waktu lalu, masyarakat dunia kembali dikagetkan dengan
keberadaan Islamic State of Iraq and
Suriah. Islamic State of Iraq and Suriah atau yang kerap kita sebut ISIS
merupakan sebuah kelompok militan. Kelompok ini camasyarakat Irak dan Suriah
ikut tunduk dengan ideologinya. ISIS dibawah pimpinan Abu Bakar Al-Baghdadi
mendeklarasikan bahwa mereka telah mendirikan negeri Islam (Daulah Islam), baik
di Irak dan beberapa wilayah Suriah. Kemudian, mereka berupaya mengekspansi
kawasannya di sekitar Suriah. ISIS ingin memerangi negara-negara yang sistemnya
jauh dari sistem Islam[5].
Keberadaan ISIS ini menyebabkan negara-negara di dunia merasa terancam.
AS melalui defensive
realisme pasukan militernya selalu merespon perkembangan gerakan ISIS
dengan intervensi yang dilakukannya. Defensive
realisme percaya jika ada satu
negara yang terlalu memaksimalkan power dan hegemoninya, hal ini
justru akan memicu negara-negara lain untuk beraliansi dan berusaha untuk
menandingi hegemoni yang dicapai negara tersebut[6].
Lebih dari 6000 warga suriah yang mengungsi menjauh dari tekanan ISIS.
Masyarakat Arab Spring dan Timur Tengah terutama kelompok militan ISIS sudah
menjadi enemy bagi AS[7].
Baru-baru ini, ketika kelompok ISIS
meledakkan bom di wilayah Kirikuk, diduga pemimpin dari kelompok ISIS melarikan
diri ke Suriah setelah AS meningkatkan serangannya di Irak. Awalnya, AS enggan
memperluas serangannya terhadap ISIS saat menggempur kelompok tersebut di Irak.
Kemudian, pada tanggal 8 Agustus 2014, militer AS kembali melancarkan
serangannya di wilayah utara Irak yang menjadi basis ISIS. Pesawat F/A-16 AS
menghancurkan iring-iringan mobil ISIS yang tengah berjalan[8].
Namun, ISIS pun tetap terus melancarkan serangannya dan menarik banyak massa
untuk bergabung memperluas wilayah kekuasaannya. Akhirnya, hingga sekarang
pergolakan pergerakan ISIS masih terus melebar dan selalu dipantau dan diserang
oleh AS.
Melalui penelitian ini, penulis hendak
meneliti pergerakan ISIS diatas melalui teori geopolitik dan bagaimana respon
Amerika Serikat yang berlandaskan teori densif realism dalam mengirimkan
pasukan militernya baik peace keeper maupun pesawat tanpa awak (drone) terhadap
ekspansi mereka. Penulis akan mencoba menjelaskan apakah ada kaitannya antara
teori defensive power yang dilakukan
Amerika Serikat dan teori geopolitik ISIS dalam kasus ini. Kemudian, kita akan
mengetahui bagaimana teori balance of
power yang dimainkan oleh keduanya, baik ISIS maupun AS. Penulis juga hendak
membuktikan apakah masing-masing negara sebagai objek penelitian memang akan
semakin merespon ancaman satu sama lain seperti teori balance of power atau
tidak ketika kedua belah pihak melancarkan aksinya. Sehingga akan terlihat
seberapa besar hubungan intensitas militer yang digunakan AS ketika ISIS
melancarkan serangannya.
1.2
Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
perkembangan gerakan ISIS?
2. Bagaimana
respon AS terhadap perkembangan gerakan ISIS?
3. Bagaimana
hubungan antara perkembangan gerakan ISIS dengan tingkat defensive power
pasukan militer AS di Irak dan Suriah?
1.3
Tujuan
1. Menjelaskan
perkembangan gerakan ISIS.
2. Menjelaskan
respon AS terhadap perkembangan gerakan ISIS.
3. Menjelaskan
hubungan antara perkembangan gerakan ISIS dengan tingkat defensive power
pasukan militer AS di Irak dan Suriah.
1.4
Manfaat
Penelitian
1. Manfaat teoritis; penelitian ini memberikan manfaat bagi
penulis sebagai mahasiswa hubungan Internasional dalam mendalami studi HI
sebagai bekal pengetahuan sebelum menghadapi skripsi. Selain itu, penelitian
ini juga bermanfaat dalam kajian keilmuan Hubungan Internasional itu sendiri. Contohnya,
penelitian ini menggunakan teori terorisme internasional, radikalisme, dan defensive realism yang menambah ulasan
khazanah keilmuan studi HI itu sendiri.
2.
Manfaat praktis; penelitian
ini memfokuskan pada perkembangan gerakan radikalisme ISIS dan respon AS. Oleh karena itu, melalui penelitian ini dapat menajdi sumbangan
bagi pihak-pihak yang berkepentingan
dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai bahan pembelajaran dan
pengambilan keputusan dalam merespon gerakan radikal, seperti terorisme.
3.
Manfaat secara
aplikatif; penelitian ini berguna untuk memberikan pemahaman mengenai isu
terorisme baru kepada mahasiswa Hubungan Internasional sehingga secara
aplikasinya pergerakan ISIS mampu diteliti dan dianalisis dengan baik.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penelitian
Terdahulu
Sudah banya penelitian terdahulu yang meneliti
tentang teroris, seperti Al-Qaedah. Penulis dalam konteks ini berusaha
melakukan penelitian lebih lanjut tentang teroris. Penelitian tentang teroris yang menjadi acuan
penulis adalah skripsi yang berjudul “Perlawanan
Osama Bin Laden terhadap Amerika Serikat”[9].
Dalam skripsi itu dibahas tentang (a) riwayat
Osama bin Laden dan Al-Qaedah, (b) latar belakang Osama bin Laden melawan
Amerika Serikat, (c) strategi perlawanan Osama bin Laden terhadap Amerika
Serikat, dan (d) proses perburuan Amerika Serikat terhadap Osama bin Laden. Penelitian
ini menggunakan metode historis. Langkah-langkah yang ditempuh dalam metode
historis ada empat tahap kegiatan, yaitu: heuristis, kritik, intepretasi, dan
historiografi.
Permusuhan Osama bin Laden dengan AS
sebenarnya baru dimulai setelah Osama kembali ke Arab Saudi pasca hengkangnya
Uni Soviet dari Afganistan tahun 1989. Faktor yang menyebabkan Osama bin Laden
membenci dan melawan AS karena AS yang terus mengeksploitasi sumber daya alam dan
minyak yang dimiliki oleh negara Islam, melakukan intervensi terhadap negara
Islam, bahkan tega membunuh dan membantai orang Islam yang tidak mau
bekerjasama dengan AS, menuduh anak-anak di Palestina sebagai teroris, dan
mengapa AS membela negara Israel dengan kebijakan yang menghancurkan masa depan
anak-anak di Palestina.
Strategi Perlawanan Osama bin Laden adalah
melakukan berbagai teror bom dengan target sasaran yang berhubungan dengan barat
dan Amerika Serikat serta memperluas jaringan Al Qaedah di berbagai negara.
Para pengikut ini didatangkan dan disebarkan ke Afganistan dengan prinsip
dorong dan tarik (push dan pull) disatu sisi dengan merekrut dan
menyerap pada sisi lainnya. Karakteristik Al Qaeda dalam tindakan operasional
penyerangan yang khas, antara lain yaitu: persiapan waktu yang relatif panjang,
perencanaan yang teliti, operasi yang dijalankan bergantung pada jaringan
setempat, dibangun oleh figur setempat yang pernah dilatih di Afganistan,
penyerangan dilaksanakan di bawah pengawasan seorang ahli dari kantor pusat Al
Qaeda, serangan menggunakan satu atau lebih pembawa bom bunuh diri yang berani
mati syahid, dan secara terang-terangan tidak ada seorangpun yang mengaku
bertanggungjawab langsung terhadap serangan teror melainkan dengan menggunakan
nama samaran. Pemburuan Osama bin Laden yang dilakukan AS sejak Presiden Clinton
dan digantikan dengan Presiden George W. Bush belum berhasil hingga terjadi
serangan 11 September 2001. Baru pada pemerintahan Presiden Obama, AS berhasil
menangkap Osama bin Laden yang berakhir dengan kematian Osama dalam penyerangan
yang dilakukan oleh pasukan khusus AS Navy
Seals di Abbotabad, Pakistan.
Skripsi yang
telah dijelaskan diatas menggambarkan keadaan yang sangat jelas mengenai
permasalah terorisme melalui pemimpin Al-Qaedah ‘Osama bin Laden” sehingga
sangat layakbagi penulis untuk menjelaskan bagaimana perkembangan gerakan
militan teroris dan tanggapan AS dari studi terdahulu yaitu mengenai penjelasan
seluruh tentang terorisme dimulai dari faktor penyebab, akibat, dan tanggapan
AS dalam upayah menumpas pergerakan terorisme “war on terror”. Faktor dan
tanggapan tersebut mengacu pada penelitian penulis yang membahas perkembangan
gerakan ISIS.
Namun, pembeda studi pustaka terdahulu
dengan penelitian ini adalah penelitian ini merupakan studi lanjutan dalam
menganalisis isu terorisme yang baru.
Sehingga, berdasarkan skripsi diatas, penulis hendak meneliti lebih
lanjut mengenai perkembangan teroris setelah menyerahnya Osama bin Laden yang
dijuluki raja teror, serta bagaimana sikap AS dalam menyikapi perkembangan
teroris itu sendiri. Oleh karena itu, penulis memilih fokus penelitian terhadap
jaringan teroris yang tengah panas sekarang, yaitu ISIS (Islamic State of Iraq
and Suriah). Kemudian, berdasarkan berita yang terus-menerus memberitakan
intervensi AS terhadap pergerakan itu membuat peneliti bermaksud meneliti lebih
jauh seberapa besar respon AS tersebut dalam mengirimkan pasukan militernya ke
wilayah Irak dan Suriah.
2.2
Kerangka Konseptual
Bagan : Kerangka Konseptual Hubungan antaraPperkembangan Gerakan
ISIS dengan Tingkat Defensive Power Pasukan Militer AS di Irak dan Suriah.
Penjelasan
kerangka konseptual:
Perkembangan Gerakan ISIS dipengaruhi oleh
beberapa faktor. Faktor yang pertama
adalah tujuan untuk memperluas wilayahnya untuk membuat Negara Islam. Faktor yang kedua adalah untuk menyebarkan
ideologi islam tentunya. Semakin banyak
masyarakat dunia yang sepakat dengan ideologinya maka data dipastikan ISIS akan
lebih mudah melakukan ekspansi. Jadi,
tingkat penerimaan ideologi sangat berkorelasi positif dengan perluasan
wilayahnya. Ketiga, perkembangan
pergerakan ini semakin dipertajam dengan tekad mereka yang menginginkan membuat
negara Islam tadi sebagai negara baru. Keempat, tentu dengan perluasan mereka hendak
mempertahankan status quo dari yang namanya terorisme. Eksistensi kelompok islam dalam dunia
Internasional dan melanjutkan pejuang sebelumnya seperti Al-qaedah.
Respon AS terhadap pergerakan ISIS dapat
dilihat dari beberapa intervensi militer yang pernah AS lakukan di Irak dan
Suriah. Contohnya, ketika kelompok ISIS
meledakkan bom di wilayah Kirikuk yang menyebabkan lebih dari 6000 warga suriah
yang mengungsi menjauh dari tekanan ISIS., diduga pemimpin dari kelompok ISIS
melarikan diri ke Suriah setelah AS meningkatkan serangannya di Irak. Kemudian,
pada tanggal 8 Agustus 2014, militer AS kembali melancarkan serangannya di
wilayah utara Irak yang menjadi basis ISIS. Pesawat F/A-16 AS menghancurkan
iring-iringan mobil ISIS yang tengah berjalan[10].
Namun, ISIS pun tetap terus melancarkan serangannya dan menarik banyak massa
untuk bergabung memperluas wilayah kekuasaannya. Akhirnya, hingga sekarang
pergolakan pergerakan ISIS masih terus melebar dan selalu dipantau dan diserang
oleh AS.
Toeori
Geopolitik yang mengajarkan bagaimana taktik suatu negara dalam memperluas
wilayahnya akan penulis kaji melalui penelitian ini dengan ISIS sebagai objek
penelitiannya. Kemudian, untuk melihat
respon AS, penulis akan mengujinya dengan berdasarkan toeri defensif realism
dimana negara selalu merespon ancaman.
Sehingga akan diketahui hubungan antara perkembangan gerakan ISIS dengan
respon AS dalam mengirimkan pasukan militer di Irak dan Suriah.
3.3
Landasan
Teori
1. Gerakan
Radikal
Kata radikal itu berasal dari kata latin radix yang artinya akar atau pohon. Jadi,
orang yang radikal sebenarnya adalah orang yang mengerti sebuah permasalahan
sampai ke akar-akarnya, dan karena itu mereka lebih sering memegang teguh
sebuah prinsip dibandingkan orang yang tidak mengerti akar dari masalah
tersebut. Pengertian lain mengungkapkan bahwa yang dimaksud dengan radikal atau
radikalisme itu adalah prinsip-prinsip atau praktik- praktik yang
dilakukan secara radikal. Suatu pilihan tindakan yang umumnya dilihat dengan
mempertentangkan secara tajam antara nilai-nilai yang diperjuangkan oleh
kelompok (aliran) agama tertentu dengan tatanan nilai yang berlaku atau
dipandang mapan pada saat itu[11].
2. Teroris
Kata terror
berasal dari bahasa latin terrere
yang kurang lebih diartikan sebagai kegiatan atau tindakan yang dapat menyebabkan
pihak lain ketakutan (Hakim 2004: 9). Di tingkat global, terorisme diartikan
sebagai tindakan yang tidak mengenal perbatasan dan bahayanya dapat
mempengaruhi beberapa negara. Kelompok terorisme menyerang aspek fisik negara (teritroy dan penduduknya) sekaligus aspek
non-fisik (legitimasi politik dan monopoli akan penggunaan kekerasan yang
sedianya dimiliki negara)[12].
Dewasa ini pemaknaan pengertian umum
mengenai terorisme dapat merujuk pada pemaknaan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa
:
“Terrorism is an anxiety-inspiring
method of repeated violent action, employed by (semi-) clandestine individual,
group, or state actor, for idiosyncratic, criminal or political reasons,
whereby- in contrast to assasination-the direct target of attacks are not the
main targets. The imediate human victims
of violance are generally chosen randomly (targets of oppurtunity) or
selectively (representative of symbolic targets) from a target population, and
serve as message genarators.
Threat-and-violance based communication process between terrorist
(organizations), (imperiled) victims, and main targets are use to manipulate
the main target”[13].
Dari definisi diatas terdapat tiga elemen
yang harus dipenuhi untu,k dapat memenuhi unsur definisi terorisme yaitu motif
politik, rencana atau niat, dan penggunaan kekerasan. Definisi terorisme dalam PBB ini melihat
terorisme dari sisi aksi kekerasan atau violance
action.
3. ISIS
Islamic State of Iraq and Suriah
atau yang kerap kita sebut ISIS merupakan kelompok militan. Kelompok ini
dicirikan dengan penggunaan senjata. Senjata yang digunakan sebagai ancaman
agara masyarakat Irak dan Suriah ikut tunduk dengan ideologinya. ISIS dibawah
pimpinan Abu Bakar Al-Baghdadi mendeklarasikan bahwa mereka telah mendirikan
negeri Islam (Daulah Islam), baik di Irak dan beberapa wilayah Suriah.
Kemudian, mereka berupaya mengekspansi kawasannya di sekitar Suriah. ISIS ingin
memerangi negara-negara yang sistemnya jauh dari sistem Islam[14].
4.
Teori Geopolitik
Fredric
Retzel mengungkapkan bahwa toeri geopolitik adalah teori strategi ruang. Dimana negara-negara melakukan ekspansi
wilayah dengan menjajah ruang atau wilayah negara lain. Penjajahan ini dilakukan dengan strategi atau
taktik untuk menguasai wilayah pendudukan dan isinya[15].
5.
Defensive Realism
Defensive realisme percaya
jika ada satu negara yang terlalu memaksimalkan power dan hegemoninya,
hal ini justru akan memicu negara-negara lain untuk beraliansi dan berusaha
untuk menandingi hegemoni yang dicapai negara tersebut. Semakin besar ancaman semakin besar pula
intensias suatu negara untuk merespon ancaman tersebut melalui peningkatan
kapabilitas militer. Sehingga negara
akan saling menambah kapabilitasnya masing-masing untuk mengupayankan
perimbangan kekuatan untuk mengatasi unipolar power di suatu negara saja yang
dapat menguasasi negara lainnya[16].
BAB III
METODE PENELITIAN DAN PENGUMPULAN DATA
1.1
Metode
Penelitian
Penelitian
ini menggunakan metode kuantitatif. Penelitian metode kuantitatif ini sendiri,
menurut Robert Donmoyer (dalam Given, 2008: 713) adalah pendekatan-pendekatan
terhadap kajian empiris untuk mengumpulkan, menganalisa, dan menampilkan data
dalam bentuk numerik daripada naratif. Menurut Cooper & Schindler (2006:229),
riset kuantitatif mencoba melakukan pengukuran yang akurat terhadap sesuatu[17].
Menilik akan hal itu, penilitian ini murni sebagai observasi analisis dimana
penulis akan mencoba untuk menggabungkannya dengan fenomena-fenomena ISIS.
1.2
Ruang
Lingkup Penelitian
Ruang
lingkup penelitian merupakan penguasaan mengenai batasan-batasan objek
penelitian yang mencakup lingkup topik dan lingkup waktu[18]. Dalam penelitian ini yang menjadi ruang
lingkup topik adalah Irak dan Suriah dalam lingkup domestik. Sedangkan ruang lingkup waktu yaitu periode
oktober-september 2014 dimana periode ini merupakan masa kemunculan ISIS dan
masa perkembangannya.
1.3 Teknik Pengumpulan Data
Teknik
pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengumpulan data
dengan cara mengumpulkan berita-berita, literatur dan karya ilmiah.
Berita-berita yang kami ambil adalah berita nasional maupun internasional
seperti Sindo news, Kompas, Warta Perang
dan BBC. Sedangkan jurnal online yang
kami gunakan adalah jurnal skripsi Prof.Muhajirin. Kemudian, buku untuk acuan kami membuat
penelitian ini adalah buku MPS karya Riza Buana. Teknik pengumpulan data ini
disebut teknik pengumpulan data dokumentasi. Teknik pengumpulan data dokumentasi
memungkinkan kami untuk meneliti secara analisis tanpa terjun langsung ke medan
observasi.
DAFTAR PUSTAKA
Anak Agung dan Yayan.2006.Pengantar Ilmu Hubungan Internasional.Bandung
: Pt Remaja Rosdakarya. hal 141
Hamami, Irfan.2014.Analisa Kepatuhan Indonesia terhadap
Mekanisme Internasional REDD. Skripsi
HI, FISIP 2014, Universitas Brawijaya.
Rizabuana. 2009. Metode Penelitian Sosial. Medan: USU
Press. hal 87.
Wendt,dkk.2014.Metodelogi Ilmu Hubungan Internasional.Jakarta
: Intrans.hal 27
Kompas. 2014. Siapakah Abu Bakar Al-Baghdadi, Pemimpin
ISIS?. Diakses melalui http://internasional.kompas.com/read/2014/08/01/07515841/Siapakah.Abu.Bakar.Albaghdadi.Pemimpin.Isis
tanggal 1 Oktober 2014.
Kompas. 2014. Serangan kedua, AS hancurkan Konvoi ISIS.
Diakses melalui http://internasional.kompas.com/read/2014/08/09/04201231/Serangan.Kedua.AS.Hancurkan.Konvoi.Kendaraan.ISIS
tanggal 1 Oktober 2014.
Prof. Mujahirin.Jurnal
Skripsi Online. eprints.uns.ac.id/11793/1/333451612201301332.pdf
diakses 2 November 2014.
Putri, Anggalia. 2014. Paradigma Hubungan Internasional dan Strategi Kontraterorisme.
Diakses melalui www.academia.edu/6087896/Paradigma_Hubungan_
Internasional_dan_strategi_Kontraterorisme tanggal 1
Oktober 2014.
The National Security Strategy of The
United States of America. 2002. Diakses melalui http://www.globalsecurity.org/military/library/policy/national/nss-020920.pdf
Warta Perang.2014. ISIS Mendekati Kobani Kota Kurdi Perbatasan Turki.
Diakses melalui http://www.wartaperang.com/2014/09/isis-mendekati-kobani-kota-kurdi-perbatasan-turki.html
Victor.2014. Serang ISIS, AS
siapkan Drone dan Jet Tempur. Diakses melalui http://international.sindonews.com/read/889475/42/serang-isis-as-kirim-jet-dan-drone
LAMPIRAN
Gambar
2. Serang ISIS, AS siapkan drone dan
jet tempur
Hubungan antara Perkembangan Gerakan ISIS
dengan
Respon AS dalam Menggunakan Defensive Power
Pasukan Militer di Irak dan Suriah
Tugas
Metodelogi Penelitian Sosial (Proposal Penelitian Kuantitatif)
Nama
Kelompok:
Annisa
Ridhatul K 135120400111045
Iman
Patria Yudha 135120400111041
Sabila
Izazi 135120400111047
Jesica
C. Manurung 135120400111043
Muhammad
Rifqi F. R. 135120400111039
Dosen
Pembimbing:
Anif
Fatwa Chawa., S.Sos., M.Si., Ph.D.
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
PRODI ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
[1] Aridiah.2013.Global War on Terrorism sebagai Srtategy of
Symbols dalam Strategi Keamanan Amerika Serikat pada Masa Pemerintahan George
W. Bush Jr.Skripsi HI, FISIP UB tahun 2013.
[2] Putri.
2014. Paradigma Hubungan Internasional
dan Strategi Kontraterorisme. Diakses melalui www.academia.edu/6087896/Paradigma_Hubungan_Internasional_dan_strategi_Kontraterorisme.
[3] The National Security Strategy of
The United States of America.
2002. Diakses melalui http://www.globalsecurity.org/military/library/policy/national/nss-020920.pdf
[5] Kompas. 2014. Siapakah Abu Bakar Al-Baghdadi, Pemimpin
ISIS?. Diakses melalui http://internasional.kompas.com/read/2014/08/01/07515841/Siapakah.Abu.Bakar.Albaghdadi.Pemimpin.Isis.
[6] Wendt,dkk.2014.Metodelogi Ilmu Hubungan Internasional.Jakarta
: Intrans.hal 27
[8] Kompas. 2014. Serangan kedua, AS hancurkan Konvoi ISIS.
Diakses melalui http://internasional.kompas.com
/read/2014/08/09/04201231/Serangan.Kedua.AS.Hancurkan.Konvoi.Kendaraan.ISIS.
[9] Prof Muhajirin. Radikalisme.eprints.uns.ac.id/11793/1/333451612201301332.pdf
.
[10] Kompas. 2014. Serangan kedua, AS hancurkan Konvoi ISIS.Op.Cit.,
[11]Mudhajahirin.
Teori Radikallisme.
[12] Putri, Anggalia. Op.cit.,
[14] Kompas. 2014. Siapakah Abu Bakar Al-Baghdadi, Pemimpin
ISIS?. Op.cit.,
[16] Wendt,dkk.2014.Op.cit., hal 27
[18] Irfan.2014.Analisa Kepatuhan Indonesia terhadap
Mekanisme Internasional REDD. Skripsi
HI, FISIP 2014, Universitas Brawijaya.
[19] Warta Perang. 2014. ISIS Mendekati
Kobani Kota Kur di Perbatasan Turki. Diakses melalui http://www.wartaperang.com/2014/09/isis-mendekati-kobani-kota-kurdi-perbatasan-turki.html. BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Isu
terorisme merupakan isu kontemporer yang masih sering melanda sistem
internasional dan kerap dibahas dalam agenda pertemuan multilateral
negara-negara. Saat ini, isu terorisme memang sudah menjadi produk Internasional
yang meresahkan masyarakat dunia. Hal itu dikarenakan keberadaannya yang
mengancam keamanan dunia internasional. Sesuai dengan arti katanya, kata terror berasal dari bahasa latin terrere yang kurang lebih diartikan
sebagai kegiatan atau tindakan yang dapat menyebabkan pihak lain ketakutan
(Hakim 2004: 9). Sementara, dalam The National Security of the United State of
America (NSS-USA) yang dikeluarkan pada september 2002, pemerintah Amerika
Serikat mendefinisikan terorisme sebagai “premeditated,
political motivated violence against innocents”. Hal ini berarti bahwa menurut pandangan
Amerika Serikat, kegiatan terorisme merupakan suatu kejahatan yang telah
dirancang dengan sedemikian rupa dengan motivasi politik dan menyerang warga
sipil[1].
Di tingkat global, terorisme diartikan
sebagai tindakan yang tidak mengenal perbatasan dan bahayanya dapat
mempengaruhi beberapa negara. Kelompok terorisme menyerang aspek fisik negara (teritroy dan penduduknya) sekaligus
aspek non-fisik (legitimasi politik dan monopoli akan penggunaan kekerasan yang
sedianya dimiliki negara)[2]. Tidak hanya itu, permasalahan terorisme telah
mengancam dimensi ekonomi, sosial dan masa depan pemerintah negara-negara serta
mengancam perwujudan perdamaian dan keamanan inrenasional.
Kemudian, isu terorisme dalam
konstruktivisme sosial sangat kerap diidentikkan dengan aksi yang dilakukan
oleh kelompok militan atau radikal. Kelompok-kelompok tersebut lahir di kawasan
Arab Spring dan Timur Tengah, contohnya Al-Qaedah sejak tahun 1895. Kemudian,
sejak peristiwa 11 September 2001, kekhawatiran dunia akan terorisme internasional
terus meningkat. Terkait pengeboman itu, Al-Qaedah mengaku bahwa mereka yang
melancarkan aksi terornya. Hal itulah yang menyebabkan masyarakat dunia
terutama Amerika Serikat mengecam keberadaannya dan mengkampanyekan anti
terorisme di dunia internasional. Presiden George W Bush Jr. mengatakan
komitmennya (AS) untuk membersihkan dunia dari kejahatan “evil”, dimana “evil”
yang dimaksud merujuk kepada terorisme. Lebih lengkapnya,
“Just
three days removed from these events, Americans do not yet have the distance of
history. But our responsibility to
history is already clear: to answer these attacks and rid the world of evil. War has been waged against us by stealth and
deceit and murder. This notion is
peaceful, but fierce when stirred to anger.
The conflict was begun on the timing and terms of others. It will end in a way, and at an hour, of
choosing”[3].
Kemudian, bom Bali yang terjadi di
Indonesia juga ikut memancing masyarakat internasional semakin resah[4].
Setelah
tumbangnya Al-Qedah beberapa waktu lalu, masyarakat dunia kembali dikagetkan dengan
keberadaan Islamic State of Iraq and
Suriah. Islamic State of Iraq and Suriah atau yang kerap kita sebut ISIS
merupakan sebuah kelompok militan. Kelompok ini camasyarakat Irak dan Suriah
ikut tunduk dengan ideologinya. ISIS dibawah pimpinan Abu Bakar Al-Baghdadi
mendeklarasikan bahwa mereka telah mendirikan negeri Islam (Daulah Islam), baik
di Irak dan beberapa wilayah Suriah. Kemudian, mereka berupaya mengekspansi
kawasannya di sekitar Suriah. ISIS ingin memerangi negara-negara yang sistemnya
jauh dari sistem Islam[5].
Keberadaan ISIS ini menyebabkan negara-negara di dunia merasa terancam.
AS melalui defensive
realisme pasukan militernya selalu merespon perkembangan gerakan ISIS
dengan intervensi yang dilakukannya. Defensive
realisme percaya jika ada satu
negara yang terlalu memaksimalkan power dan hegemoninya, hal ini
justru akan memicu negara-negara lain untuk beraliansi dan berusaha untuk
menandingi hegemoni yang dicapai negara tersebut[6].
Lebih dari 6000 warga suriah yang mengungsi menjauh dari tekanan ISIS.
Masyarakat Arab Spring dan Timur Tengah terutama kelompok militan ISIS sudah
menjadi enemy bagi AS[7].
Baru-baru ini, ketika kelompok ISIS
meledakkan bom di wilayah Kirikuk, diduga pemimpin dari kelompok ISIS melarikan
diri ke Suriah setelah AS meningkatkan serangannya di Irak. Awalnya, AS enggan
memperluas serangannya terhadap ISIS saat menggempur kelompok tersebut di Irak.
Kemudian, pada tanggal 8 Agustus 2014, militer AS kembali melancarkan
serangannya di wilayah utara Irak yang menjadi basis ISIS. Pesawat F/A-16 AS
menghancurkan iring-iringan mobil ISIS yang tengah berjalan[8].
Namun, ISIS pun tetap terus melancarkan serangannya dan menarik banyak massa
untuk bergabung memperluas wilayah kekuasaannya. Akhirnya, hingga sekarang
pergolakan pergerakan ISIS masih terus melebar dan selalu dipantau dan diserang
oleh AS.
Melalui penelitian ini, penulis hendak
meneliti pergerakan ISIS diatas melalui teori geopolitik dan bagaimana respon
Amerika Serikat yang berlandaskan teori densif realism dalam mengirimkan
pasukan militernya baik peace keeper maupun pesawat tanpa awak (drone) terhadap
ekspansi mereka. Penulis akan mencoba menjelaskan apakah ada kaitannya antara
teori defensive power yang dilakukan
Amerika Serikat dan teori geopolitik ISIS dalam kasus ini. Kemudian, kita akan
mengetahui bagaimana teori balance of
power yang dimainkan oleh keduanya, baik ISIS maupun AS. Penulis juga hendak
membuktikan apakah masing-masing negara sebagai objek penelitian memang akan
semakin merespon ancaman satu sama lain seperti teori balance of power atau
tidak ketika kedua belah pihak melancarkan aksinya. Sehingga akan terlihat
seberapa besar hubungan intensitas militer yang digunakan AS ketika ISIS
melancarkan serangannya.
1.2
Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
perkembangan gerakan ISIS?
2. Bagaimana
respon AS terhadap perkembangan gerakan ISIS?
3. Bagaimana
hubungan antara perkembangan gerakan ISIS dengan tingkat defensive power
pasukan militer AS di Irak dan Suriah?
1.3
Tujuan
1. Menjelaskan
perkembangan gerakan ISIS.
2. Menjelaskan
respon AS terhadap perkembangan gerakan ISIS.
3. Menjelaskan
hubungan antara perkembangan gerakan ISIS dengan tingkat defensive power
pasukan militer AS di Irak dan Suriah.
1.4
Manfaat
Penelitian
1. Manfaat teoritis; penelitian ini memberikan manfaat bagi
penulis sebagai mahasiswa hubungan Internasional dalam mendalami studi HI
sebagai bekal pengetahuan sebelum menghadapi skripsi. Selain itu, penelitian
ini juga bermanfaat dalam kajian keilmuan Hubungan Internasional itu sendiri. Contohnya,
penelitian ini menggunakan teori terorisme internasional, radikalisme, dan defensive realism yang menambah ulasan
khazanah keilmuan studi HI itu sendiri.
2.
Manfaat praktis; penelitian
ini memfokuskan pada perkembangan gerakan radikalisme ISIS dan respon AS. Oleh karena itu, melalui penelitian ini dapat menajdi sumbangan
bagi pihak-pihak yang berkepentingan
dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai bahan pembelajaran dan
pengambilan keputusan dalam merespon gerakan radikal, seperti terorisme.
3.
Manfaat secara
aplikatif; penelitian ini berguna untuk memberikan pemahaman mengenai isu
terorisme baru kepada mahasiswa Hubungan Internasional sehingga secara
aplikasinya pergerakan ISIS mampu diteliti dan dianalisis dengan baik.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penelitian
Terdahulu
Sudah banya penelitian terdahulu yang meneliti
tentang teroris, seperti Al-Qaedah. Penulis dalam konteks ini berusaha
melakukan penelitian lebih lanjut tentang teroris. Penelitian tentang teroris yang menjadi acuan
penulis adalah skripsi yang berjudul “Perlawanan
Osama Bin Laden terhadap Amerika Serikat”[9].
Dalam skripsi itu dibahas tentang (a) riwayat
Osama bin Laden dan Al-Qaedah, (b) latar belakang Osama bin Laden melawan
Amerika Serikat, (c) strategi perlawanan Osama bin Laden terhadap Amerika
Serikat, dan (d) proses perburuan Amerika Serikat terhadap Osama bin Laden. Penelitian
ini menggunakan metode historis. Langkah-langkah yang ditempuh dalam metode
historis ada empat tahap kegiatan, yaitu: heuristis, kritik, intepretasi, dan
historiografi.
Permusuhan Osama bin Laden dengan AS
sebenarnya baru dimulai setelah Osama kembali ke Arab Saudi pasca hengkangnya
Uni Soviet dari Afganistan tahun 1989. Faktor yang menyebabkan Osama bin Laden
membenci dan melawan AS karena AS yang terus mengeksploitasi sumber daya alam dan
minyak yang dimiliki oleh negara Islam, melakukan intervensi terhadap negara
Islam, bahkan tega membunuh dan membantai orang Islam yang tidak mau
bekerjasama dengan AS, menuduh anak-anak di Palestina sebagai teroris, dan
mengapa AS membela negara Israel dengan kebijakan yang menghancurkan masa depan
anak-anak di Palestina.
Strategi Perlawanan Osama bin Laden adalah
melakukan berbagai teror bom dengan target sasaran yang berhubungan dengan barat
dan Amerika Serikat serta memperluas jaringan Al Qaedah di berbagai negara.
Para pengikut ini didatangkan dan disebarkan ke Afganistan dengan prinsip
dorong dan tarik (push dan pull) disatu sisi dengan merekrut dan
menyerap pada sisi lainnya. Karakteristik Al Qaeda dalam tindakan operasional
penyerangan yang khas, antara lain yaitu: persiapan waktu yang relatif panjang,
perencanaan yang teliti, operasi yang dijalankan bergantung pada jaringan
setempat, dibangun oleh figur setempat yang pernah dilatih di Afganistan,
penyerangan dilaksanakan di bawah pengawasan seorang ahli dari kantor pusat Al
Qaeda, serangan menggunakan satu atau lebih pembawa bom bunuh diri yang berani
mati syahid, dan secara terang-terangan tidak ada seorangpun yang mengaku
bertanggungjawab langsung terhadap serangan teror melainkan dengan menggunakan
nama samaran. Pemburuan Osama bin Laden yang dilakukan AS sejak Presiden Clinton
dan digantikan dengan Presiden George W. Bush belum berhasil hingga terjadi
serangan 11 September 2001. Baru pada pemerintahan Presiden Obama, AS berhasil
menangkap Osama bin Laden yang berakhir dengan kematian Osama dalam penyerangan
yang dilakukan oleh pasukan khusus AS Navy
Seals di Abbotabad, Pakistan.
Skripsi yang
telah dijelaskan diatas menggambarkan keadaan yang sangat jelas mengenai
permasalah terorisme melalui pemimpin Al-Qaedah ‘Osama bin Laden” sehingga
sangat layakbagi penulis untuk menjelaskan bagaimana perkembangan gerakan
militan teroris dan tanggapan AS dari studi terdahulu yaitu mengenai penjelasan
seluruh tentang terorisme dimulai dari faktor penyebab, akibat, dan tanggapan
AS dalam upayah menumpas pergerakan terorisme “war on terror”. Faktor dan
tanggapan tersebut mengacu pada penelitian penulis yang membahas perkembangan
gerakan ISIS.
Namun, pembeda studi pustaka terdahulu
dengan penelitian ini adalah penelitian ini merupakan studi lanjutan dalam
menganalisis isu terorisme yang baru.
Sehingga, berdasarkan skripsi diatas, penulis hendak meneliti lebih
lanjut mengenai perkembangan teroris setelah menyerahnya Osama bin Laden yang
dijuluki raja teror, serta bagaimana sikap AS dalam menyikapi perkembangan
teroris itu sendiri. Oleh karena itu, penulis memilih fokus penelitian terhadap
jaringan teroris yang tengah panas sekarang, yaitu ISIS (Islamic State of Iraq
and Suriah). Kemudian, berdasarkan berita yang terus-menerus memberitakan
intervensi AS terhadap pergerakan itu membuat peneliti bermaksud meneliti lebih
jauh seberapa besar respon AS tersebut dalam mengirimkan pasukan militernya ke
wilayah Irak dan Suriah.
2.2
Kerangka Konseptual
Bagan : Kerangka Konseptual Hubungan antaraPperkembangan Gerakan
ISIS dengan Tingkat Defensive Power Pasukan Militer AS di Irak dan Suriah.
Penjelasan
kerangka konseptual:
Perkembangan Gerakan ISIS dipengaruhi oleh
beberapa faktor. Faktor yang pertama
adalah tujuan untuk memperluas wilayahnya untuk membuat Negara Islam. Faktor yang kedua adalah untuk menyebarkan
ideologi islam tentunya. Semakin banyak
masyarakat dunia yang sepakat dengan ideologinya maka data dipastikan ISIS akan
lebih mudah melakukan ekspansi. Jadi,
tingkat penerimaan ideologi sangat berkorelasi positif dengan perluasan
wilayahnya. Ketiga, perkembangan
pergerakan ini semakin dipertajam dengan tekad mereka yang menginginkan membuat
negara Islam tadi sebagai negara baru. Keempat, tentu dengan perluasan mereka hendak
mempertahankan status quo dari yang namanya terorisme. Eksistensi kelompok islam dalam dunia
Internasional dan melanjutkan pejuang sebelumnya seperti Al-qaedah.
Respon AS terhadap pergerakan ISIS dapat
dilihat dari beberapa intervensi militer yang pernah AS lakukan di Irak dan
Suriah. Contohnya, ketika kelompok ISIS
meledakkan bom di wilayah Kirikuk yang menyebabkan lebih dari 6000 warga suriah
yang mengungsi menjauh dari tekanan ISIS., diduga pemimpin dari kelompok ISIS
melarikan diri ke Suriah setelah AS meningkatkan serangannya di Irak. Kemudian,
pada tanggal 8 Agustus 2014, militer AS kembali melancarkan serangannya di
wilayah utara Irak yang menjadi basis ISIS. Pesawat F/A-16 AS menghancurkan
iring-iringan mobil ISIS yang tengah berjalan[10].
Namun, ISIS pun tetap terus melancarkan serangannya dan menarik banyak massa
untuk bergabung memperluas wilayah kekuasaannya. Akhirnya, hingga sekarang
pergolakan pergerakan ISIS masih terus melebar dan selalu dipantau dan diserang
oleh AS.
Toeori
Geopolitik yang mengajarkan bagaimana taktik suatu negara dalam memperluas
wilayahnya akan penulis kaji melalui penelitian ini dengan ISIS sebagai objek
penelitiannya. Kemudian, untuk melihat
respon AS, penulis akan mengujinya dengan berdasarkan toeri defensif realism
dimana negara selalu merespon ancaman.
Sehingga akan diketahui hubungan antara perkembangan gerakan ISIS dengan
respon AS dalam mengirimkan pasukan militer di Irak dan Suriah.
3.3
Landasan
Teori
1. Gerakan
Radikal
Kata radikal itu berasal dari kata latin radix yang artinya akar atau pohon. Jadi,
orang yang radikal sebenarnya adalah orang yang mengerti sebuah permasalahan
sampai ke akar-akarnya, dan karena itu mereka lebih sering memegang teguh
sebuah prinsip dibandingkan orang yang tidak mengerti akar dari masalah
tersebut. Pengertian lain mengungkapkan bahwa yang dimaksud dengan radikal atau
radikalisme itu adalah prinsip-prinsip atau praktik- praktik yang
dilakukan secara radikal. Suatu pilihan tindakan yang umumnya dilihat dengan
mempertentangkan secara tajam antara nilai-nilai yang diperjuangkan oleh
kelompok (aliran) agama tertentu dengan tatanan nilai yang berlaku atau
dipandang mapan pada saat itu[11].
2. Teroris
Kata terror
berasal dari bahasa latin terrere
yang kurang lebih diartikan sebagai kegiatan atau tindakan yang dapat menyebabkan
pihak lain ketakutan (Hakim 2004: 9). Di tingkat global, terorisme diartikan
sebagai tindakan yang tidak mengenal perbatasan dan bahayanya dapat
mempengaruhi beberapa negara. Kelompok terorisme menyerang aspek fisik negara (teritroy dan penduduknya) sekaligus aspek
non-fisik (legitimasi politik dan monopoli akan penggunaan kekerasan yang
sedianya dimiliki negara)[12].
Dewasa ini pemaknaan pengertian umum
mengenai terorisme dapat merujuk pada pemaknaan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa
:
“Terrorism is an anxiety-inspiring
method of repeated violent action, employed by (semi-) clandestine individual,
group, or state actor, for idiosyncratic, criminal or political reasons,
whereby- in contrast to assasination-the direct target of attacks are not the
main targets. The imediate human victims
of violance are generally chosen randomly (targets of oppurtunity) or
selectively (representative of symbolic targets) from a target population, and
serve as message genarators.
Threat-and-violance based communication process between terrorist
(organizations), (imperiled) victims, and main targets are use to manipulate
the main target”[13].
Dari definisi diatas terdapat tiga elemen
yang harus dipenuhi untu,k dapat memenuhi unsur definisi terorisme yaitu motif
politik, rencana atau niat, dan penggunaan kekerasan. Definisi terorisme dalam PBB ini melihat
terorisme dari sisi aksi kekerasan atau violance
action.
3. ISIS
Islamic State of Iraq and Suriah
atau yang kerap kita sebut ISIS merupakan kelompok militan. Kelompok ini
dicirikan dengan penggunaan senjata. Senjata yang digunakan sebagai ancaman
agara masyarakat Irak dan Suriah ikut tunduk dengan ideologinya. ISIS dibawah
pimpinan Abu Bakar Al-Baghdadi mendeklarasikan bahwa mereka telah mendirikan
negeri Islam (Daulah Islam), baik di Irak dan beberapa wilayah Suriah.
Kemudian, mereka berupaya mengekspansi kawasannya di sekitar Suriah. ISIS ingin
memerangi negara-negara yang sistemnya jauh dari sistem Islam[14].
4.
Teori Geopolitik
Fredric
Retzel mengungkapkan bahwa toeri geopolitik adalah teori strategi ruang. Dimana negara-negara melakukan ekspansi
wilayah dengan menjajah ruang atau wilayah negara lain. Penjajahan ini dilakukan dengan strategi atau
taktik untuk menguasai wilayah pendudukan dan isinya[15].
5.
Defensive Realism
Defensive realisme percaya
jika ada satu negara yang terlalu memaksimalkan power dan hegemoninya,
hal ini justru akan memicu negara-negara lain untuk beraliansi dan berusaha
untuk menandingi hegemoni yang dicapai negara tersebut. Semakin besar ancaman semakin besar pula
intensias suatu negara untuk merespon ancaman tersebut melalui peningkatan
kapabilitas militer. Sehingga negara
akan saling menambah kapabilitasnya masing-masing untuk mengupayankan
perimbangan kekuatan untuk mengatasi unipolar power di suatu negara saja yang
dapat menguasasi negara lainnya[16].
BAB III
METODE PENELITIAN DAN PENGUMPULAN DATA
1.1
Metode
Penelitian
Penelitian
ini menggunakan metode kuantitatif. Penelitian metode kuantitatif ini sendiri,
menurut Robert Donmoyer (dalam Given, 2008: 713) adalah pendekatan-pendekatan
terhadap kajian empiris untuk mengumpulkan, menganalisa, dan menampilkan data
dalam bentuk numerik daripada naratif. Menurut Cooper & Schindler (2006:229),
riset kuantitatif mencoba melakukan pengukuran yang akurat terhadap sesuatu[17].
Menilik akan hal itu, penilitian ini murni sebagai observasi analisis dimana
penulis akan mencoba untuk menggabungkannya dengan fenomena-fenomena ISIS.
1.2
Ruang
Lingkup Penelitian
Ruang
lingkup penelitian merupakan penguasaan mengenai batasan-batasan objek
penelitian yang mencakup lingkup topik dan lingkup waktu[18]. Dalam penelitian ini yang menjadi ruang
lingkup topik adalah Irak dan Suriah dalam lingkup domestik. Sedangkan ruang lingkup waktu yaitu periode
oktober-september 2014 dimana periode ini merupakan masa kemunculan ISIS dan
masa perkembangannya.
1.3 Teknik Pengumpulan Data
Teknik
pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengumpulan data
dengan cara mengumpulkan berita-berita, literatur dan karya ilmiah.
Berita-berita yang kami ambil adalah berita nasional maupun internasional
seperti Sindo news, Kompas, Warta Perang
dan BBC. Sedangkan jurnal online yang
kami gunakan adalah jurnal skripsi Prof.Muhajirin. Kemudian, buku untuk acuan kami membuat
penelitian ini adalah buku MPS karya Riza Buana. Teknik pengumpulan data ini
disebut teknik pengumpulan data dokumentasi. Teknik pengumpulan data dokumentasi
memungkinkan kami untuk meneliti secara analisis tanpa terjun langsung ke medan
observasi.
DAFTAR PUSTAKA
Anak Agung dan Yayan.2006.Pengantar Ilmu Hubungan Internasional.Bandung
: Pt Remaja Rosdakarya. hal 141
Hamami, Irfan.2014.Analisa Kepatuhan Indonesia terhadap
Mekanisme Internasional REDD. Skripsi
HI, FISIP 2014, Universitas Brawijaya.
Rizabuana. 2009. Metode Penelitian Sosial. Medan: USU
Press. hal 87.
Wendt,dkk.2014.Metodelogi Ilmu Hubungan Internasional.Jakarta
: Intrans.hal 27
Kompas. 2014. Siapakah Abu Bakar Al-Baghdadi, Pemimpin
ISIS?. Diakses melalui http://internasional.kompas.com/read/2014/08/01/07515841/Siapakah.Abu.Bakar.Albaghdadi.Pemimpin.Isis
tanggal 1 Oktober 2014.
Kompas. 2014. Serangan kedua, AS hancurkan Konvoi ISIS.
Diakses melalui http://internasional.kompas.com/read/2014/08/09/04201231/Serangan.Kedua.AS.Hancurkan.Konvoi.Kendaraan.ISIS
tanggal 1 Oktober 2014.
Prof. Mujahirin.Jurnal
Skripsi Online. eprints.uns.ac.id/11793/1/333451612201301332.pdf
diakses 2 November 2014.
Putri, Anggalia. 2014. Paradigma Hubungan Internasional dan Strategi Kontraterorisme.
Diakses melalui www.academia.edu/6087896/Paradigma_Hubungan_
Internasional_dan_strategi_Kontraterorisme tanggal 1
Oktober 2014.
The National Security Strategy of The
United States of America. 2002. Diakses melalui http://www.globalsecurity.org/military/library/policy/national/nss-020920.pdf
Warta Perang.2014. ISIS Mendekati Kobani Kota Kurdi Perbatasan Turki.
Diakses melalui http://www.wartaperang.com/2014/09/isis-mendekati-kobani-kota-kurdi-perbatasan-turki.html
Victor.2014. Serang ISIS, AS
siapkan Drone dan Jet Tempur. Diakses melalui http://international.sindonews.com/read/889475/42/serang-isis-as-kirim-jet-dan-drone
LAMPIRAN
Gambar
2. Serang ISIS, AS siapkan drone dan
jet tempur
Hubungan antara Perkembangan Gerakan ISIS
dengan
Respon AS dalam Menggunakan Defensive Power
Pasukan Militer di Irak dan Suriah
Tugas
Metodelogi Penelitian Sosial (Proposal Penelitian Kuantitatif)
Nama
Kelompok:
Annisa
Ridhatul K 135120400111045
Iman
Patria Yudha 135120400111041
Sabila
Izazi 135120400111047
Jesica
C. Manurung 135120400111043
Muhammad
Rifqi F. R. 135120400111039
Dosen
Pembimbing:
Anif
Fatwa Chawa., S.Sos., M.Si., Ph.D.
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
PRODI ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
[1] Aridiah.2013.Global War on Terrorism sebagai Srtategy of
Symbols dalam Strategi Keamanan Amerika Serikat pada Masa Pemerintahan George
W. Bush Jr.Skripsi HI, FISIP UB tahun 2013.
[2] Putri.
2014. Paradigma Hubungan Internasional
dan Strategi Kontraterorisme. Diakses melalui www.academia.edu/6087896/Paradigma_Hubungan_Internasional_dan_strategi_Kontraterorisme.
[3] The National Security Strategy of
The United States of America.
2002. Diakses melalui http://www.globalsecurity.org/military/library/policy/national/nss-020920.pdf
[5] Kompas. 2014. Siapakah Abu Bakar Al-Baghdadi, Pemimpin
ISIS?. Diakses melalui http://internasional.kompas.com/read/2014/08/01/07515841/Siapakah.Abu.Bakar.Albaghdadi.Pemimpin.Isis.
[6] Wendt,dkk.2014.Metodelogi Ilmu Hubungan Internasional.Jakarta
: Intrans.hal 27
[8] Kompas. 2014. Serangan kedua, AS hancurkan Konvoi ISIS.
Diakses melalui http://internasional.kompas.com
/read/2014/08/09/04201231/Serangan.Kedua.AS.Hancurkan.Konvoi.Kendaraan.ISIS.
[9] Prof Muhajirin. Radikalisme.eprints.uns.ac.id/11793/1/333451612201301332.pdf
.
[10] Kompas. 2014. Serangan kedua, AS hancurkan Konvoi ISIS.Op.Cit.,
[11]Mudhajahirin.
Teori Radikallisme.
[12] Putri, Anggalia. Op.cit.,
[14] Kompas. 2014. Siapakah Abu Bakar Al-Baghdadi, Pemimpin
ISIS?. Op.cit.,
[16] Wendt,dkk.2014.Op.cit., hal 27
[18] Irfan.2014.Analisa Kepatuhan Indonesia terhadap
Mekanisme Internasional REDD. Skripsi
HI, FISIP 2014, Universitas Brawijaya.
[19] Warta Perang. 2014. ISIS Mendekati
Kobani Kota Kur di Perbatasan Turki. Diakses melalui http://www.wartaperang.com/2014/09/isis-mendekati-kobani-kota-kurdi-perbatasan-turki.html.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar